Mohon tunggu...
Sid noise
Sid noise Mohon Tunggu... Buruh - Jangan Mau di Bungkam

Akun subsidi

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Manunggaling Kawula Gusti dari Masa ke Masa

10 Juli 2020   01:00 Diperbarui: 10 Juli 2020   00:54 779
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Jika al muhasibi masih terasa asing, cara berkenalan nya bisa melalui imam al ghazali. Dimana beliau pernah menulis buku auto biography sangat terkenal meskipun tipis yaitu munqid addalal yang merupakan jiplakan dari salah satu bukunya al muhasibi. Garis besar nya al muhasibi mengatakan sejauh manapun tasawuf berkembang tetapi jangan sampai lepas dari syari'at. Bedanya dengan bayazid adalah kadang syari'at itu "terlampaui" secara tidak sengaja oleh orang - orang tasawuf mabuk ini.

Contoh nya ketika bayazid ini selepas sholat dia jadi imam ketika selesai seperti biasa dia berdzikir tapi dengan lafad "SUBHANI" yang artinya maha suci aku yang secara harfiah bisa di artikan saya ini tuhan. Setelah di ketahui oleh makmum nya yang juga muridnya, dia kaget dan berpesan pada muridnya "jika saya ngomong itu lagi (berdzikir subhani) penggal saja kepala saya". 

Jadi abu yazid ini juga tidak sadar mengucapkan itu tapi karena saking cinta dan rasa cinta yang sudah sangat terlalu besar kepada tuhan sehingga dia tidak sadar dan sulit membedakan mana kenyataan mana mistik mana virtual mana imajinasi sudah lebur diantara dirinya dengan tuhan.

Kondisi ini dikenal juga dengan syatahat dan ia pernah berbicara pada kondisi mabuk dihadapan murid - muridnya ini

" Saya pernah pergi ke langit ke tujuh kemudian naik lagi ke sidratul muntaha kemudian naik lagi sampai singgasana allah, kemudian saya buka tirai nya dan ternyata tidak terlihat allah di atas singgasananya" dalam kondisi itu dia mencari keberadaan allah kemudian dia duduk disingga sana tersebut dan berfikir "eh saya lah allah".

Sebagian orang menganggap ini penghujatan tapi ini adalah orang yang mengalami secara pribadi sama seperti halnya rabiah al adawiyah pengalaman "menyatu" dengan tuhan. Orang yang kelewatan rasa cintanya terhadap tuhan sehingga dalam satu kesempatan ia juga pernah berkata.

"Ya allah saya ber do'a masukan saya kedalam neraka, besarkan tubuh saya sehingga saya memenuhi seluruh neraka agar tidak ada orang lain yang bisa masuk kedalam neraka". Ini do'a yang di panjatkan abu yazid al bustami yang mau dikatakan sombong atau gila bagaimana lagi dia memang seperti itu. Dalam kondisi sadar juga dia minta kepala nya di penggal jika melakukan itu. Dan ini lah yang kedepan nya menjangkit syech siti jenar.

Setelah abu yazid al bustami muncul kembali tokoh Sufi yang namanya al junaidi al baghdadi yang sudah tidak asing lagi khususnya di kalangan NU dimana beliau adalah pemuka mu'tazillah dan NU menganggap Mu'tazillah ini sesat tapi menjadikan al junaidi imam (bisa gitu ya). Al junaidi ini tipe tasawuf bijak  beliau adalah orang kaya, sangat kaya dan pakaian nyapun bagus tapi dia tasawuf. Menurut al junaidi orang - orang bayazid ini bukan sesat bukan kafir, tapi mereka gagal mengendalikan diri saat sedang dekat dengan tuhan. 

Jadi ketika orang terlalu dekat dengan tuhan, pancaran kekuatan tuhan akan menghancurkan kesadarannya. Junaidi disini menyarankan agar orang - orang seperti ini harus belajar bagaimana cara "kembali" menjadi manusia atau mengembalikan nilai - nilai ketuhanan ke dunia nyata. Untuk itu al junaidi adalah tokoh yang di hormati. Selain itu ada ibnu arabi yang level ke ilmuan nya sangat tinggi tapi dia mengaku bahwa salah satu buku tasawuf yang tidak dia mengerti adalah buku dari al junaidi dia tidak mengerti kalimat sufistik yang ada di bukunya.

Al junaidi hanya menulis beberapa buku ( 2 - 3 buku) tapi buku - buku ini sangat sulit untuk dipahami bahkan sekelas ibnu arabi. Sudah ada kamus istilah - istilah sufi juga dalam bahasa indonesia tapi istilah yang di gunakan al junaidi tidak di masukan dalam kamus itu, saking susah nya di mengerti. Bahkan al junaidi sendiri seperti ke colongan dimana muridnya yang bernama al halaj termasuk orang tasawuf yang menjadi gila seperti hal nya al bustomi. Bahkan lebih gila lagi dalam kisah nya dia di gambarkan seperti orang gila yang dimana saja dia teriak :

"Ana al haq" saya adalah kebenaran maksudnya dia adalah tuhan yang maha benar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun