Mohon tunggu...
Naufal Pambudi
Naufal Pambudi Mohon Tunggu... Mr.

Koordinator Ikatan Masyarakat Muda Madani (IMAM)

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Catatan untuk Tempo yang Gagal Paham Soal Buzzer

9 Oktober 2019   09:22 Diperbarui: 11 Oktober 2019   22:39 0 3 2 Mohon Tunggu...
Catatan untuk Tempo yang Gagal Paham Soal Buzzer
Foto: Indonesiaberita.com

Di tengah ramainya kritik terhadap fenomena buzzer, Tempo adalah salah satu media yang getol bersuara. Mereka menuntut Jokowi menertibkan para buzzer, karena dianggap membahayakan demokrasi. Sayangnya, sebagai media nasional berbasis investigasi, tampaknya Tempo tidak jernih mengurai pokok persoalan.

1) Indonesia Bukan Negara Totaliter

Di negara totaliter segala sesuatu dikendaikan negara. Masyarakat hidup dalam rumah kaca, sehingga semua terlihat transparan dan tak satu pun aktivitas warga lepas dari intervensi negara. Bahkan diumpamakan, jika ada satu jarum terjatuh, itu pun berkat intervensi negara. 

Model totalitarian ini diterapkan Orde Baru, di mana pemerintah, khususnya eksekutif menjadi penguasa tunggal. Partai politik dan parlemen hanya tukang stempel untuk mengesahkan pikiran, ucapan dan tindakan presiden. 

Media dikendalikan pemerintah, kalau mengkritik langsung dibreidel. Masyarakat sipil dimata-matai, kalau menyinggung pemerintah bakal auto-hilang. Era totaliter Orde Baru ini telah berakhir, dan Indonesia mulai hidup di alam demokrasi. Tak hanya itu, angin demokrasi juga diiringi Revolusi Industri 4.0, yang membuka jalur komunikasi bebas hambatan.

2) Sekarang Era Industri 4.0

Di era demokrasi dan industri 4.0 ini, presiden bukan lagi aktor tunggal. Kinerjanya dikontrol parlemen yang setara, dan masyarakat sipil serta media pun bebas berekspresi serta menyampaikan informasi. Tapi di sisi lain, kebebasan itu juga melahirkan wasit-wasit baru, yaitu publik bersenjata gadget. 

Ada fakta menarik, ketika sampul Majalah Tempo mengilustrasikan Jokowi sebagai pinokio, pendukung Jokowi ramai-ramai memberi bintang 1 (reputasi sangat buruk) terhadap aplikasi Tempo, sehingga ratingnya anjlok dari 4.2 menjadi 1,1. 

Tentu saja, rendahnya reputasi ini membuat investor enggan menanamkan modalnya. Tempo pun berang, dan menuduh Jokowi menggerakkan para buzzer untuk menjatuhkan ratingnya. Benarkah Jokowi melakukan itu?

3) Tempo Perlu Move On dari Era Orde Baru

Sampai hari ini, tak ada bukti Jokowi menggerakkan buzzer untuk menurunkan rating Tempo. Tapi terlepas masalah pembuktian, yang pasti Tempo perlu mengevaluasi diri. Sebagai media cetak, Tempo memang memiliki pengalaman kritis terhadap Orde Baru. Tapi, situasi sudah berubah di level politik maupun sosio-kultural. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2