Mohon tunggu...
Nasrul Pradana
Nasrul Pradana Mohon Tunggu... Praktisi Manajemen, Sarjana Psikologi, Magister Manajemen.

Praktisi HRM sejak 2010. Sarjana Psikologi dari Universitas Esa Unggul, Magister Manajemen dari Universitas Esa Unggul. nasrulpradana01@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Surat-Surat Sepasang Kekasih

2 Januari 2021   03:51 Diperbarui: 2 Januari 2021   21:39 133 6 0 Mohon Tunggu...

Surat-surat sepasang kekasih. (bag 1)

Aku memulai surat ini dengan nama Tuhan, yang memberikan kehidupan pada sukma dan tempat bersemayamnya segala hikmah. Kebijaksanaan-Nya meliputi segala sesuatu, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat-Nya, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat-Nya meskipun didatangkan tambahan sebanyak itu pula. Dialah yang mempergantikan siang dan malam, mengembangbiakan segala macam binatang, mulai burung di angkasa hingga ikan di dasar samudra. Dia menurunkan hujan dari langit, lalu ditumbuhkan-Nya segala macam tumbuh-tumbuhan. Dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan gugusan bintang-bintang, agar menghiasi langit bagi orang-orang yang memandangnya. Dan Dialah yang menguasai timur dan barat serta apa yang ada diantara keduanya, memberikan akal kepada manusia kemudian menerangi seluruh isi dunia.

Surat ini ku tulis bagaikan air yang diminum serasa duri oleh perempuan yang tercekik kesedihan terhadap laki-laki yang sedang berduka. Engkaulah yang menjadi tahanan, terpenjara jeruji besi sang amir[1], yang mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang padanya. Suratku ini dariku, seorang kekasih, ditujukan untukmu, yang ingin melepas rantai yang membelenggumu. Wahai sayangku, sudah bertahun-tahun sejak aku menyimpulkan taliku kepadamu, mengisi hari-hari mu, aku tahu kau setia menjaga persahabatan, dan cinta memperoleh keagungannya darimu.

Aku tahu semangatmu yang kokoh meronai gunung dengan warna kemerah-merahan saat fajar dan senja. Ditengah-tengah kegelapan, kau yang senantiasa menyinarkan air kehidupan kemana-mana. Engkaulah bintang-bintang penunjuk dalam kegelapan menuju pagi yang lestari. Engkau mengaduk-aduk dunia, namun kau berpaling muka darinya. Disini, diatas bumi ini, engkau adalah sasaran panah celaan, tapi apalah artinya bagimu? Bukankah kafilahmu sedang dalam pengembaraan menuju hari kebangkitan[2]?

Engkau menyerahkan hatimu untuk mengabdi diatas jalan yang lurus, yang akan membawamu kepada-Nya dan surga-Nya, sehingga kau menjadi bulan-bulanan cemoohan orang-orang. Bagiku, kita tetap saling setia. Dengan segenap cintaku, aku bersama mu, dan kau, katakanlah kau berbahagia. Seperti kebahagiaanmu, aku terpisah darimu, tetapi meski aku jauh darimu, aku tetaplah orang terdekatmu.

 

Kekasihku, kirimi aku sehelai rambutmu, sebab itu menyulih isi dunia bagiku. Kirimi aku salah satu duri dari jalan setapakmu, sebab akan mekar menjadi mawar dimataku. Akulah rembulan yang melihatmu dari jauh, untuk menerima sinar dari mu, wahai matahariku. Berikanlah kakiku pengampunan karena begitu lemah menopang badanku hingga tidak pernah bisa menggapaimu.

 

Ya, bersabarlah dan berharap. Apalah arti hidup didunia ini? Bukankah dunia ini disisi-Nya tidak sebanding dengan nilai sayap seekor nyamuk? Bukankah dunia ini bagaikan setetes air ditengah samudra? Kehidupan ini seperti keributan disebuah penginapan, tempat kita beristirahat sebentar. Apakah musuh akan tergelak-gelak melihat air mata kita?, tidak! seorang yang bijak menyembunyikan kepedihannya.

 

Janganlah melihat penabur yang menaburkan benih, tapi ingatlah apa yang tumbuh darinya. Hari ini duri menghalangi jalan mu, esok kuncup yang tersembunyi menjanjikan mawar yang pasti mekar. Batu boleh hancur dan tercabik, tapi mestika yang tersemat didalamnya haruslah tetap sempurna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x