Mohon tunggu...
Naraya Syifah
Naraya Syifah Mohon Tunggu... Penulis - Perempuan Penggembala Sajak

Tidak ada yang istimewa dari Naraya Syifah, ia hanya seorang gadis kampung yang sederhana, putri sulung dari keluarga sederhana yang disimpan banyak harapan di pundaknnya. Ia memiliki kepribadian mengumpulkan sajak di pelataran rumahnya. Pernah tergabung dalam beberapa komunitas literasi dan alhamdullilah saat ini sebagai penggerak literasi di kabupaten Subang. Ia menjalankan komunitas Pena Cita bersama teman-teman sehobinya. Kecintaannya pada literasi menghantarkannya sampai di sini. Semoga awal yang baru ini dapat lebih mengembangkan tulisannya dan merubah hidupnya. Selain menulis ia juga tergila-gila dengan K-drama yang dapat menginspirasi nya dalam menulis.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kado Terindah Bima

26 Juni 2022   18:54 Diperbarui: 26 Juni 2022   19:24 428
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Adik demamnya naik lagi, kak. Wajahnya pucat, tubuh adik terus menggigil."

Bimo harus segera melakukan sesuatu. Ia teringat akan perkataan wanita paruh baya yang menolongnya kemarin. Sekarang, ia akan menunggunya kembali.

"Adit di sini jagain adik, ya? Kakak cari uang buat bawa adik ke dokter." Adit mengangguk tanda mengerti.

Dari terbit fajar hingga matahari telah kembali ke peraduannya, Bimo masih berdiri di trotoar jalan memegang beberapa keping recehan yang ia dapatkan. Kedua matanya memutar ke seluruh penjuru jalan, mencari seseorang yang sedari tadi ia tunggu.

Semburat langit merah muda kini telah berganti menjadi hitam pekat, pertanda malam akan segera datang. Dia tidak mungkin terus berdiri di sini, sementara adiknya dalam keadaan tidak baik.

"Mungkin ibu itu tidak akan datang lagi," gumamnya.

Bimo meninggalkan harapannya di trotoar jalan dengan mata berlinang kecewa. Tidak seharusnya dirinya berharap kepada siapapun.

Jalanan sudah mulai renggang, bahkan Bimo bisa dengan leluasa berjalan di tengah jalan jika ia mau. Namun seketika penampakan tiga pasang tubuh kekar berdiri di hadapannya, membuatnya ketakutan. Sorot ketiga pasang mata itu semakin terlihat menyeramkan dalam kegelapan.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? 

Bahkan dirinya dikepung dari segala arah. Ketiga mafia itu berusaha untuk menyekapnya kembali. Laki-laki gondrong itu berkata bahwa ia akan membunuhnya dan menjual organ tubuhnya.


Bimo semakin takut, tidak ada seorang pun yang bisa ia mintai pertolongan. Jikalaupun ada, tidak akan ada yang berani menolongnya. Siapa yang mau berurusan dengan tiga mafia kejam itu? Bahkan Bimo menyebutnya pengawal iblis. Mereka hidup di muka bumi ini hanya untuk mencari kekacauan dan menghancurkan banyak orang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun