Mohon tunggu...
Naqoy The7Awareness
Naqoy The7Awareness Mohon Tunggu... Penulis - Trainer & Konsultan Leadership SDM di BUMN

Penulis buku laris The7awareness, Pemecah rekor MURI 2009, Master Trainer dan Sang Penutur Kesadaran indonesia

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

3 Cara Mendidik Anak Menjadi di Atas Rata-Rata

31 Juli 2021   07:33 Diperbarui: 31 Juli 2021   08:50 108 7 1 Mohon Tunggu...

Hari Anak Nasional diperingarati setiap tanggal 23 Juli , hal ini menunjukan bahwa peran penting orang tua dan lingkungan dalam tumbuh kembang anak menjadi prioritas, walau dalam kenyataanya banyak orang tua masih mendidik anak tergantung seleranya sendiri saja, bahkan tidak sedikit orang tua yang merasa dirinya "tidak pernah salah dan tidak mau disalahkan oleh anaknya".

Mungkin ada diantara kita pernah menyaksikan film India yang masuk Box Offixe dimainkan oleh Shah Rukh Khan dan Amitabh Bachan berjudul "Kabhi Khusi Kabhi Gham", yang menceritakan bahwa ayah dan keputusanya tidak pernah salah, ketika orang tua kaya raya memungut anak menjadi bagian dari keluarganya, ketika dewasa anak ini yang akan dijadikan penerusnya justru megambil langkah yang berani yaitu menikah dengan wanita pembantu di rumahnya. 

Kebencianya terus bertahun-tahun, di mata sang Ayah, yang salah hanya anaknya dirinya tidak melakukan kesalahan, sampai akhirnya sang istri memberikan pernyataan bahwa "Suami dianggap Dewa, namun jika suami justru memisahkan anak dan ibunya bukanlah Dewa", katanya. 

Kisah diatas adalah Film, dalam kenyataan hidup tentu saja tidaklah sama namun tidak menutup kemungkinan bahwa itupun bisa terjadi, banyak anak-anak Indonesia, ketika kecil memiliki kepercayaan diri yang luar biasa namun ketika dewasa semuanya disembunyikan dalam dirinya.

Seperti ada beban "kurang layak dan kurang percaya diri", seperti jika kita lihat anak-anak kecil bernyanyi "Disini senang disana senang, dimana-mana hatiku senang",  menyanyikanya dengan penuh semangat, antusias dan bebas dalam gerakan, sementara ketika dewasa diajak menyanyipun membuat alasan malu dan tidak bisa. 

Dalam buku The7Awareness dan Quantum Learning dijelaskan sebuah temuan dari hasil riset bahwa anak-anak itu seringkali mendapatkan kata-kata negatif sebanyak 460 sehari, jika dikalikan 30 hari dan dikalikan 12 bulan maka jumlahnya sangat banyak, ini belum selesai karena jika dikalikan usia seseorang jumlahnya akan jutaan. 

Riset ini menunjukan kepada kita bahwa semakin bertambah usia seseorang maka akan semakin merasa kurang percaya diri dan layak, seperti para alumni The7Awareness yang ketika akan menghadapi masa-masa pensiun mengalami 'Sindrom Toxic Success"

Dalam hal ini sepertinya harus ada yang terurai dari awal agar membangun bangsa yang kuat dimulai dari keluarga, dalam Naqoy Parenting disebutkan bahwa ada 3 hal yang harus difokuskan untuk mencetak anak-anak Indonesia hebat atau di atas rata-rata. 

Karena membangun bangsa yang kuat semuanya dimulai dari keluarga, jika dari keluarga kita berhasil menciptakan kebahagiaan maka akan berdampak kepada pekerjaan, pendidikan bahkan sosial spiritual. Adapun 3 langkah tersebut adalah sebagai berikut :

  1.  Berhentilah membandingkan anak. Kebanyakan orang tua ingin memiliki semuanya seragam dan sama, anak pertama dan kedua sama-sama pintar dan berprestasi, ketika salah satu dari keduanya berbeda secara tegas mengatakan 'kamu bisa ga sih seperti kakak  atau bisa ga sih seperti adikmu yang rajin dan pintar".
    Sikap membandingkan ini dianggap biasa dan wajar, padahal dalam usia anak yang sedang bertumbuh otak kananya hal ini bisa mengakibatkan seseorang menjadi kurang layak dan kurang percaya diri ketika kelak dirinya dewasa.  Orang tua seringkali ketika anaknya hanya satu orang tanpa disadari akan membandingkan dengan anak teman atau tetangganya.  
    Saya sendiri memiliki pengalaman nyata, saya memiliki anak kembar identik yang berparas cantik yang sama, tinggi sama bahkan sampai sekarang masih sering salah memanggil keduanya ketika bersama.
    Suatu hari ketika hari pengambilan rapot, anak kembar saya bernama Zaara Zyvaa masing-masing membawa pulang ke rumah, ketika kakanya Zaara menunjukan rapot dengan rangking 2, sementara adiknya Zyvaa menunjukan rengking 9 tampak wajah saya cemberut dan langsung fokus kepada Zyvaa dan mengatakan "Kenapa Zyvaa tidak seperti kaka", anak saya terdiam dan langsung masuk kamar setelah bersalaman.
    Di dalam kamar saya mendengar ada tangisan kecil, lalu saya menyadarinya bahwa hari ini membuat hatinya hancur, segera mengetuk kamarnya dan berkata "Maafin ayah sayang", tampak wajahnya yang kemerahan karena baru saja berhenti menangis, lalu saya melanjutkan "waktu ayah SD juga sering nilainya buruk, karena ayah sayang kepada nenek di kelas 4, ayah belajar terus sampai akhirnya menjadi seperti sekarang nak".
    Saya memeluknya dan meninggalkanya. Ternyata kata-kata saya ajaib bagi dirinya, keesokan harinya tampak lebih rajin dibandingkan kakaknya, ketika kelas 6 SD justru kakaknya tersalip dalam kualitas ranking sekolah.
  2. Selalu tampakan wajah bahagia setiap ada di rumah. Jangan izinkan anak-anak melihat aura orang tuanya "kasihan", walau beban dan masalah terlalu banyak, tetap tersenyum dan menunjukan kehidupan bahagia akan memberikan dampak baik terhadap anak-anak.
    Banyak orang tua yang ketika sedang menghadapi tekanan yang berat dalam pekerjaanya akan membawa pulang semua beban tersebut, sampai akhirnya anak-anak mengatakan dalam batin dan obrolanya "jangan gangguan ayah, mama, sedang ada masalah", Hal ini jika dibiarkan hanya akan menjadi kompulan energi buruk yang akan menuntun kita menemukan jalan buntu saja dikemudian hari. 
  3. Latih anak-anak memiliki mental pemberi, ini yang terpenting karena kelak dalam kehidupan nyata mereka yang akan berhasil justru bermental fokus kepada kontribusi, bukan yang justru merongrong dan menuntut.
    Ada orang tua ketika membuat sarapan anaknya sekolah langsung mengatakan "Ibu lagi sulit, jangan bagi-bagi yah , kalau ada teman minta jangan dikasih soalya dikit", sejak kecil akhirnya anak sudah memiliki persepsi bahwa berbagi itu jika longgar, sebaliknya jika sedang sulit maka tidak pantas memberi.
    Disisi lain ada orang tua yang sedang menyiapkan makanan sambil mengatakan "kalau ada teman kamu sayang minta bagi yah, karena anak yang suka berbagi hidupnya akan suskes". Dalam pikiran anak ini tentu saja terekam kata-kata sukses yang akan menuntunya menjadi manusia hebat kelak.

Selamat hari Anak Nasional, saatnya kita belajar ilmu parenting dari hal-hal sederhana untuk mencetak anak-anak hebat di atas rata-rata. 

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN