Cerpen

Cerpen Fantasi - Andira dan Sebuah Awal (Mulanya Takhayul Bulan Suro Kalender Jawa)

13 September 2017   20:46 Diperbarui: 6 November 2017   17:26 409 0 0

Andira dan Sebuah Awal

Oleh : Dara Ginanti

17 April 2012

Sakura ini kembali mekar setelah dinanti - nanti, warna pink-nya tidak pernah bosan ditengok mata sepanjang hari. Aku duduk di ayunan itu menanti sang Suro dengan janjinya. Akankah aku kembali dari negeri Gingseng ini? Manusia berbadan tegap yang dinanti-pun akhirnya datang membawa sesuatu dibalik badannya, dia tersenyum dihadapanku kemudian duduk di batu dekat ayunan. "Ikutlah aku, pulanglah ke Indonesia," katanya lirih masih dengan tersenyum. Aku menatap wajah teduhnya, dia mengeluarkan tangannya dari balik badan dan membuka sebuah kotak kecil. Cincin dengan berlian kecil diatasnya.

"Biarkan aku yang memulai."

***

22 Oktober 2007

Trias Marwah Andira, tulisan itu bertengger dipojok kertas ulangan dengan nilai 20 yang baru saja dibagikan. Ya, itulah aku dengan seragam abu -- abu putih kumal menerimanya tanpa rasa menyesal. Pak Setyo kembali marah -- marah untuk yang kesekian kalinya padaku, dan aku duduk didepannya sambil korek -- korek kuping tak memperhatikan. Hingga akhirnya bel istirahat berbunyi, aku berdiri menggebrak meja. "Sudahlah pak, tidak usah ceramahi saya lagi!".

Aku melangkahkan kaki keluar kelas, bukan untuk ke kantin melainkan untuk keluar gerbang. Pergi ke tempat nongkrong adalah tujuanku saat ini. Tak butuh waktu lama, aku sampai masih dengan seragam sma, bertemu dengan para berandal lain. Seperti rutinitas, pencopetan dan pemalakan adalah yang dilakukan saat ini. Daripada buang - buang uang disekolah mempelajari hal - hal tidak penting, lebih baik cari uang dijalan buat tambah tambah uang jajan. Laki - laki dengan ransel hitam itu menjadi target kami selanjutnya, dari wajahnya kami bisa menduga bahwa dia adalah seorang mahasiswa. Pastilah dia punya uang jajan yang lumayan untuk kami para berandal cilik yang kekurangan uang. Aku dengan kelima kawan lainnya yang usianya lebih tua dariku itu menghadang sang laki - laki dengan optimisnya. Laki - laki lembek seperti itu pasti mudah dipalakin, begitu pikirku.

"Eh cupu, bagi kami duit dong," kataku pada sang lelaki dengan nada tidak sopan. Meskipun aku perempuan, tidak ada keraguan dibenakku untuk berkata kasar padanya. Jika dia melawan, tinggal lawan balik dengan basic dasar karateku yang sudah terlatih lama ini. Tak sulit menghajar seorang mahasiswa sepertinya, aku disini tersohor sebagai preman wanita yang kejam dan ditakuti. Meski usia muda dan seragam sma ini tidak mencerminkan seorang preman sama sekali, masyarakat sekitar telah mengenal siapa itu Trias Andira didunia luar.

"Saya tidak akan memberikan uang saya pada kalian, kalian pasti hanya akan menghambur - hamburkan uang itu!" Jawab sang laki - laki dengan berani.

"Tak tau kita siapa rupanya. Heh, kau orang baru disini? Belum tau siapa Trias Andira?" Jawabku sambil mendorong bahunya kebelakang. Kami mengelilingi sang laki - laki dengan tubuh tegapnya, kembali mengancam dan siap mengeroyok.

"Wanita malang yang tidak punya masa depan!" Jawabnya dengan nada suara yang lebih tinggi.

"Apa katamu?! Hajar dia!" Dengan naik darah kami mulai memukuli si laki - laki tak tau diri itu. Dia tidak melawan. Tak lama wajahnya pun berubah babak belur. Kami sandarkan badannya ketembok dan mulailah kami beringas.

"Masih berani bilang kami ini malang, hah??" Kataku didepan wajahnya.

"Kau gadis yang telah membuat kesalahan besar, sangat malang."

"Beraninya kau mengatakan kata - kata itu padaku!" Tanganku mulai melayang dan mendarat diwajahnya, namun sebelum itu mendarat tangan sang laki - laki sudah memeganginya dulu. Dia mulai melawan dengan gerakan - gerakan bela diri yang sebelumnya tak dia perlihatkan. Dia hajar semua kawan - kawan berandalku hingga semuanya terjatuh ke aspal. Dia pegangi tanganku dan gantian aku yang tersandar ditembok. Wajah kami berjarak tak lebih dari dua jengkal dan aku bisa melihat jelas wajah tampannya yang setengah babak belur. Aku terdiam sejenak, melihat mata cokelat teduhnya yang tak mencerminkan kekejaman sama sekali, jauh berbeda dari milikku. Seperti milik seorang yang tak asing lagi.

"Hentikanlah apa yang kau lakukan, masa depanmu bisa saja hancur karena kelakuanmu sendiri," katanya dengan nafas terengah. Aku tidak terlalu mengerti dengannya, aku hanya terdiam mengagumi seseorang yang bahkan tak pernah kulihat sebelumnya. Aku terdiam dan luluh.

Dia melepaskan tanganku dari gengamannya dan berbalik. Dia mengambil tas hitamnya dan berjalan menjauh dari tempat kami nongkrong dengan kaki sedikit terpincang. Kami tak habis pikir dengan laki - laki itu, bisa - bisanya dia mengalahkan geng preman kami?

***

Pulang dengan uang jajan tak seberapa dari hasil palakan, aku langsung telentang dikasur lama kamarku. Nasib beruntung nampaknya sedang tidak memihak pada kami. Dari balik dapur, si wanita tua itu datang membawakan segelas teh. Dengan wajah lelah, dia menghampiriku.

"Kemana saja nak? Gurumu menelepon ibu lagi, dia bilang kau membolos. Tidak bisakah kau datang ke sekolah sekali saja tanpa meninggalkan pelajaran?"

"Kenapa sih bu, berisik saja mengurusi urusan orang lain!"

"Sampai kapan, nak? Yang kamu lakukan itu tidak benar!"

"Sudahlah ibu!" aku berdiri dari tempat tidur dan mendorongnya hingga terjatuh. Aku sudah lelah mendengar semua perkataannya setiap hari, kusiram dia dengan minuman panas buatannya sendiri dan bergegas meninggalkan rumah hampa ini. Dia memanggilku dari belakang, tapi aku tak menengok. Ku acak -- acak lemari pakaian ibu di bilik sebelah dan mengambil semua lembaran uang yang ada dari sana.

Aku berjalan keluar gang kumuh itu dan memberhentikan sebuah taksi. Taksi itu berjalan mengikuti arah tujuan yang kuberikan menembus malam gelap pukul 11 kota metropolitan, Jakarta. Klub malam yang dituju pun akhirnya nampak didepan mata setelah sekian menit berkendara diatas aspal, itulah tempatku melepas semua beban. Lampu berkelap -- kelip yang menerangi ruangan membawa semangatku semakin menggila, di dalam telah menunggu kawan -- kawan berandal lainnya dengan kesibukan masing -- masing mengajakku bergabung. Lagi -- lagi kebiasaan itu berulang, minuman keras rasanya tak pernah lepas dari keseharianku di klub.

Jam masih berdenting menunggu malam berlarut hingga akhirnya menunjukkan pukul 2 pagi. Musik tak berhenti berputar heboh dan tak menghentikan mabukku. Ketika tangan ini memegang gelas wine yang tinggal setengah, tiba -- tiba pula pada saat itu suatu benda dilemparkan memecahkan gelasnya. Wine dan kaca pecah belah berserakan di lantai dan sontak aku berteriak kesal karena ulahnya. "Siapa yang melakukan hal ini!"

Teriakanku tak ada yang menjawab, tak ada yang merasa melemparkan benda itu. Aku menenngok ke luar dan melihat seorang wanita bermasker lari menjauh. Beraninya dia! Aku mulai memaki -- maki wanita itu dan memukulnya, dia tidak berkata sepatah katapun dibalik maskernya. Dengan kemarahanku aku mendorongnya dan ketika aku akan menarik masker itu dari wajahnya, dia menolak dan memberontak. Siapa dia beraninya menentang Andira yang sedang bersenang -- senang. Tak kalah jago, nampaknya dia pernah belajar bela diri juga. Tapi seperti apa yang orang -- orang berikan julukan, disini akulah pemenangnya.

"Beraninya kau!" Aku mencekik leher wanita brengsek itu.

"Pulanglah Andira! Wanita malang!" Jawabnya kecil. Beraninya dia menyebutku wanita malang. Geramku semakin memuncak, hingga akhirnya aku menamparnya dengan tanganku. Dia hanya diam. "Kau pasti akan menyesal, Andira!"

"Beraninya kau bicara seperti itu didepanku, biar kubuat mulutmu tak bisa bicara lagi!" tanganku terbang di udara memukul sang gadis tak tau diri itu, tapi sebelum tangan itu sampai di tubuhnya, seseorang telah memagangi tanganku terlebih dahulu dan menghalangi tanganku untuk memukulnya dari belakang. Laki -- laki berbadan tegap itu memegangi tanganku dan mendorongku menjauh dari si gadis, mereka bergandeng dan pergi meninggalkan tempat itu menjauhiku. Kedua manusia kurang ajar yang sangat ingin kupukuli itu pergi menjauh sangat cepat sampai aku tak bisa mengerjarnya, mungkin karena aku sedang mabuk juga.

Dari kejauhan aku menyipitkan mata, mengingat -- ingat orang yang baru saja kulihat. Tidak asing dimata ini, tapi aku tidak mengingat siapa. Malam yang semakin larut tak kunjung meredamkan emosi gadis ini, hingga akhirnya aku hanya bisa terlarut dalam dunia malam dan kemabukan ini. Hidupku hanya gemerlap di klub untuk malam ini.

Laki -- laki di gang yang pernah menghajar geng kami? Ya, dia yang bersama gadis itu. Aku yakin sekali. Dia adalah orangnya. Kenapa dia kembali?

***

Andira terbangun dari tidur malam pendeknya di hotel bintang lima seorang teman kaya yang semalam ikut mabuk -- mabukan di clubing yang sama. Pergaulannya sudah sangat memprihatinkan, tidak ada lagi yang mengawasi dan membatasi kehidupannya. Hidupnya sudah sangat bebas dan buruk. Andira membasuh wajahnya perlahan dan keluar duduk di balkon bersama si teman. Teman itu duduk sambil memmbaca koran paginya. Pembicaraan tak lepas dari pertemuan santai mereka itu, hingga akhirnya sesuatu menarik perhatian Andira.

Topik berita utama di koran menceritakan seorang wanita tua yang meninggal di gubuknya. Sebuah desa yang tak asing lagi ditelinganya. Ya, sudah tak dapat dielakkan lagi. Itu pasti sang ibu. Andira nampak panik karenanya, bukan karena sedih kehilangan ibunya, tapi karena takut orang -- orang menuduhnya atas kematian si ibu. Andira kebingungan kesana kemari memikirkan cara bagaimana dia bisa lepas dari masalah kriminal ini. Apakah dia akan berakhir di penjara? Polisi tidak boleh menemukannya. Pada akhir berita di koran mengabarkan jika polisi masih mengusut kasus ini dan menelusuri apakah wanita itu dibunuh tau mengalami kecelakaan. Setidaknya Andira masih bisa sedikit bernafas akan masalah ini, dia hanya perlu berpura -- pura tak tau akan wanita itu.

Andira bergegas meninggalkan hotel itu. Dia mengambil tasnya dan memakai sepatu. Betapa kagetnya Andira ketika mendapati cairan merah kental di sepatunya dan melekat mengotori telapak kakinya, seperti darah. Apa ini? Andira semakin curiga dan membuka tasnya, yang tak kalah mengejutkannya dia mendapati kertas -- kertas peringatan didalamnya yang ditulis menggunakan lipstik merah.

'Hargai waktumu, jangan rusak masa depanmu.' Itu hanya sebagian dari tulisannya. Teror -- teror tak masuk akal ini sangat mengganggu. Isinya sama saja dengan nasihat -- nasihat emak, bahkan lebih parah. Pengirim surat ini tak pandai dalam mengintimidasi orang, pikirnya. Andira menemukan sebuah amplop didalam tas itu, sepucuk surat bertengger rapi di dalamnya. 'Masa bahagia Andira' itu tulisan di depan amplopnya, sangat kekanak -- kanakan.

Andira membaca surat itu dengan segenap emosinya, raut wajahnya berubah seketika setelah membaca surat itu. Teror lagi. Apakah orang yang kemarin? "Acha, adakah orang yang memegang tas ku semalam kemarin?"

"Tidak seingatku, kau hanya mabuk dan mabuk. Lalu kau tertidur dengan tas itu disebelahmu." Jawab teman kaya itu. Nyatanya memang tak ada orang yang melakukannya.

Hari demi hari teror datang. Peringatan -- peringatan itu tak habisnya sampai kepada Dira. Andira sudah tidak lagi percaya dengan teror receh itu. Sebagai wanita, dia sudah terasah akan hal -- hal seperti itu. "Kau mau aku lepas dari dunia malam? Lihat saja apa yang justru kulakukan. Jangan coba -- coba ceramahi aku!"

Seorang Andira kini terjebak dalam dunia malam yang lebih keras, semakin teror itu mendatanginya semakin pula dia tidak mengikutinya. Peringatan -- peringatan tertulis berisi ajakan untuk mejauhi dunia malam itu kini hanya menjadi tamu semata. Andira ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa menghentikan langkahnya.

***

Pintu rumah kos itu diketuk lagi, isinya pastilah paket teror lagi. Aku hanya tertawa mendengar ketukannya. Tidak bosan -- bosannya si pengirim melakukannya. Kali ini aku menemukan sebuah kotak berisi foto -- foto sebuah gubuk yang dikelilingi polisi dengan seorang wanita sebagai pusatnya. Kertas dibawahnya tertulis 'Jangan biarkan masa ini menimpamu'. Apa dia mengatakan kalau hal itu akan terjadi padaku? Yang benar saja, jangan membual.

Tak hanya clubing dan minuman keras, kini aku juga mendekati rokok. Biarkan saja si pengirim itu melihat Andira yang sangat ia inginkan untuk berubah itu menjadi semakin berandal. Siapapun peneror itu pastilah dia seorang yang bodoh.

Pintu itu kembali diketuk, foto yang ada didalamnya kali ini adalah foto seorang wanita tertidur di sebuah kamar rumah sakit dengan dahi yang diperban. Wajah itu adalah wajahku sendiri. Wajah Trias Marwah Andira. Apa -- apaan ini? Keterlaluan. Dari mana dia mendapatkan foto ini? Apakah ini nyata?

"Editan yang mengesankan, cukup sudah! Kalau kau ingin aku untuk berubah, biarkan aku yang berubah. Menjadi lebih buruk dari apa yang kau inginkan." Aku merobek foto menyedihkan itu dan membuangnya ke asbak rokok yang tersebar disana. Ini tidak lucu.

Malam berlarut dalam kegelapan bersamaan dengan keberangkatanku, tempat yang sama setiap malam menjadi tujuan. Tidak ada lagi orang yang membatasi kesenanganku. Aku habiskan semua uang dan tenaga untuk bersenang -- senang disini. Mobil sedan merah itu menjemputku, aku dan kelima teman clubing lainnya berkendara seperti biasanya menyusuri jalanan. Kami memutar musik keras -- keras di dalam mobil dan ngebut dijalanan malam yang lenggang. Hingga akhirnya Sara yang memegang kendali mobil pun membelokkan arah kendali secara tiba- tiba ke trotoar jalan dan menabrakkan mobilnya. Semuanya gelap seketika.

***

Aku terbaring di ranjang tempat tidur dengan tangan yang tersambung dengan selang infus. Aku terkaget dan melonjak seketika. Tanganku meraba sekeliling dan menengok kelingkungan sekitar. Ini. Keadaan ini. Sama seperti apa yang ada di foto itu. Aku tidak bisa meyakini apa yang barusan kulihat, aku berlari keluar kamar dan mendapati  Sara terbaring pula di kamar sebelah, dalam kondisi yang parah pula. Dia tersadar dan sedang mengotak atik handphone nya. Aku melangkah menghampiri Sara. "Bagaimana kita bisa berada disini, Sar?"

"Malam itu kita mengalami kecelakaan, tidakkah kau menyadarinya?" Jawabnya.

"Bagaimana bisa? Apa kau menabrak sesuatu?"

"Tidak, aku tidak menabrak apapun, tapi aku melihat sesuatu. Aneh sekali."

"Apa yang kau lihat, Sar?" Aku semakin penasaran.

"Aku melihat kau ada diluar mobil, tepat ditengah jalan raya. Itulah kenapa aku memutar stir-nya. Aku sangat yakin kalau itu kau, tapi sangat jelas aku melihatmu ada dibelakang bersama yang lain. Mungkin orang itu hanya mirip denganmu." Jawabnya terheran.

"Aku?" Peneror itu pasti ada hubungannya dengan semua ini. Aku melepas selang infus yang ada di tanganku dan meninggalkan rumah sakit itu. Aku memberhentikan taksi dan memintanya mengantarku kembali ke rumah kos. Aku mengacak -- acak asbak sampah itu lagi mencari sobekan foto dari si peneror. Aku menemukannya. Ya, keadaan yang sama dengan apa yang terjadi padaku hari ini. Apakah ini ramalan? Siapa si peneror?

Aku membuka tirai, melihat seorang polisi berdiri di halaman depan sedang menelepon. Apakah foto itu akan terjadi juga? Tidak, polisi itu kemari bukan untuk menangkap. Dia mencari seseorang. Aku dapat mengetahuinya dari caranya bicara ditelepon. Teror itu nyata. Peringatan -- peringatan itu benar adanya. Aku mulai mempercayai si peneror. Apakah maksudnya? Wanita itu? Dialah penerornya. Aku sangat yakin dengan hal itu. Aku menemukan kotak lainnya di meja belajarku, isinya tak lain adalah foto lagi. Itu fotoku disebuah ruang sidang. Foto lain di belakangnya bergambar aku mengenakan seragam tahanan bersama wanita -- wanita lainnya. Aku memperhatikan setiap foto yang ada, dan yang di paling bawah memperlihatka aku yang berlumuran darah tergeletak bersama seorang dokter disampingnya. Aku melempar semua foto itu, itu kah aku? Aku ketakutan setengah mati. Jika foto -- foto itu benar, sisa waktuku setelah ini pastilah tidak ada kesenangan lagi. Aku melempar semua barang di kotak itu, aku harus pergi menjauh dari tempat ini juga. Aku berlari dengan langkah terhuyung keluar kos dengan sedikit tangisan.

Aku membuka pintu kos dan meihat seseorang telah bediri disana. Dia menarik tanganku dan menaruh telunjuknya dibibirku memberikan isyarat diam. Dia lah laki -- laki itu, laki -- laki yang sempat mengalahkan geng ku di gang dan laki -- laki yang menarik tanganku saat aku akan memukul si gadis bermasker itu. Laki -- laki itu tak berbicara, aku bisa melihat mata cokelat nya dengan jelas dari sini. "Kau kah si peneror itu hah?! Kau yang meletakkan foto -- foto itu didepan pintu!" teriakku dengan sedikit tangisan.

"Diamlah, apakah kau bisa tenang? Polisi - polisi itu sedang berstrategi di luar sana." Dia setengah berteriak pula, tapi setelah itu dia kembali diam. Dia menengok ke kanan dan ke kiri, begitu pula aku yang masih dalam kepanikan. Dia melepaskan genggaman tangannya.

"Sekarang dengarkan aku, semua foto itu hanyalah peringatan. Jika kau mengubah diri, kau bisa mengubah semua itu." Katanya dengan nada tenang.

"Jadi kau yang selama ini melakukannya hah? Kau yang mencampuri urusanku selama ini?" Aku mulai melayangkan kepalan tanganku padanya, namun lagi -- lagi dia yang mengalahkanku. Dia memegangi kepalan tangan itu dan membuatku tak bisa bergerak.

"Kenapa kau begitu keras kepala? Sekarang dengarkan aku Andira." Katanya lagi. Mata cokelatnya menatap tajam kearahku. Suasana diam seketika.

"Aku adalah Suro, time traveller 2200." Jawabnya. Ini sungguh tak masuk akal, aku hampir saja berteriak lagi, tapi Suro langsung memberikan isyarat diam.

"Teror -- teror itu, bukanlah aku. Tapi itu dari Andira masa depan."

"Dasar pembual, kau kira kau bisa membohongi ku seperti anak kecil?"

"Kau kira kau cukup baik? Orang sepertimu hanya akan merusak masa depan orang lain, kau lah orang yang akan mengacak -- acak time mechine-ku dimasa depan!" Dia berbicara dengan nada tinggi. Pikiranku sedang sangat kacau saat ini, apakah mungkin mesin waktu diciptakan? Agama bahkan hampir mengharamkan hal itu. Bagaimana bisa hal yang hampir mustahil itu terjadi?

"Tidakkah kau merasakan hal berbeda terhadapku?"

***

Kepedulian Suro nampaknya tak disadari Andira masa lalu, Andira masa lalu yang berandal dan keras kepala tidak dapat mempercayai begitu saja omongan itu. Hingga akhirnya disitulah awal dimana Andira berjalan melewati masa -- masa bersama Suro. Perjalanan itu membawa Andira ke masa -- masa depannya, Andira melihat keberandalan-nya sendiri, kebahagiaannya sendiri, dan kebimbangannya. Pada masa perjalanan itu, Suro jatuh hati pada Andira. Sesuatu yang membuat perubahan padanya. Menjadi satu -- satunya alasan mengapa Suro sangat peduli dengan masa lalu Andira.

7 January 2100

Ya, Andira adalah pengacau mesin waktu Suro pada masa itu. Sebuah kesalahan pula bagi Suro karena dia terlalu jatuh hati pada manusia masa lalu itu. Pertemuannya di sebuah gang saat sedang menyusuri lingkungan kumuh itu adalah saat pertama kali dimana dia menatap mata indah Andira. Namun, waktu dan masa yang berbeda tak bisa menyatukan keduanya pada saat yang sama. Awal yang baru bagi Andira dan Suro, perubahan besar yang menjadikan keduanya menyadari diri masing -- masing.

***

Korea, 17 April 2012.

"Aku menyadari kenapa Andira ingin kembali ke masa lalu dan mengubah dirinya sendiri yang berandal. Aku sangat menyadari kenapa Andira meneror dirinya sendiri di masa lalu. Aku sangat merasakan penyesalan itu. Penyesalan karena menyia -- nyiakan ibu, juga penyesalan karena merusak badanku sendiri karena gemerlap dunia malam itu." Aku berbicara pada Suro yang masih duduk di batu dengan kotak cincinnya.

"Kau telah membawaku ke masa dimana ini berubah. Kau telah mengubah dan memberi awal baru bagiku, Suro. Andira sekarang bukanlah dia yang dulu. Jika kau membawaku kembali ke Indonesia di masa aku bahagia, itu akan tidak adil bagi kita."

Sakura itu jatuh di pangkuanku, angin sore menyapa melewati kami dengan kehangatannya. Aku menatap cincin itu. "Kau akan menjadi angin, kau akan hilang pada masamu. Aku tidak ingin kau menyia -- nyiakan orang disekitarmu sendiri di abad ke-22 dan melakukan kesalahan yang sama seperti yang kuperbuat."

Waktu adalah misteri. Masa adalah alurnya. Suro menghilang dari tatapanku. Aku telah dibawanya melihat keindahan sekaligus keburukan dunia yang mungkin hanya orang -- orang tertentu saja yang dapat melihat.

Aku berjalan menyusuri gang itu perlahan.

Sains dimasaku belum menemukan mesin waktu, agama di masaku tidak membenarkan adanya time traveller. Konflik antara keimanan dan ilmu pengetahuan akan kembali ke masa lalu menjadi rahasia para generasi. Seandainya Suro tidak kembali, mungkin aku akan berakhir di penjara sendirian menyesali kesendirianku. Simpul antara aku dan Suro tak akan terbuka kembali. Namun aku tau, disetiap langkahku Suro mengawasi dari atas sana. Dari masa yang mungkin tak akan pernah kulalui.

Aku berdiri didepan gubuk yang sangat kurindukan ini. Didalamnya, seorang wanita yang sangat kurindukan telah menyapa hangat. Ibu. Aku memeluknya erat.

***

Suro hilang di lubang waktu entah dimana. Dia meninggalkan masa untuk sekian kalinya. Tidak kembali ke Andira dan tidak kembali ke abad 22. Tanpa disadari pula, reinkarnasi mereka lahir pada satu masa yang sama. Menciptakan awal yang baru bagi kedua manusia itu. Andira dan sebuah awal.

***

"Dari mana mama tau tentang takhayul itu? Apa benar Suro dan Andira itu nyata?" Seorang anak bertanya kepada ibundanya setelah mendengar cerita lama tentang Suro itu. Keheranannya masih memuncak.

"Yang pasti jangan berbuat macam -- macam waktu bulan Suro, nanti kalo kamu nakal, kamu bakal kesedot ke lubang waktu," Sang ibu mulai mengancam si anak. Kisah Suro dan Andira kini tenggelam seiring waktu bergulir menjadi sebuah takhayul anak -- anak tentang sebuah bulan di kalender jawa, bulan Suro.

***