Mohon tunggu...
Naftalia Kusumawardhani
Naftalia Kusumawardhani Mohon Tunggu... Psikolog - Psikolog Klinis (Remaja dan Dewasa)

Psikolog Klinis dengan kekhususan penanganan kasus-kasus neurosa pada remaja, dewasa, dan keluarga. Praktek di RS Mitra Keluarga Waru. Senang menulis sejak masih SMP dulu hingga saat ini, dan sedang mencoba menjadi penulis artikel dan buku.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Telinga Sering Berdenging? Hati-hati Pertanda Tinnitus

22 Maret 2021   00:21 Diperbarui: 22 Maret 2022   00:11 2090
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi tinnitus, telinga berdengung, telinga berdering, sakit telinga.(SHUTTERSTOCK/Orawan Pattarawimonchai)

Beberapa kondisi psikologis yang dapat terjadi a.l gangguan tidur, gangguan emosional, masalah konsentrasi, dan sensitif terhadap stimulus auditori lainnya.

Gangguan siklus tidur umumnya berupa perubahan pola tidur, kualitas tidur buruk, dan insomnia. Gangguan emosional yang kerap terjadi adalah pemarah, mudah tersinggung, paranoia (merasa orang lain membicarakan dirinya), cemas, gelisah tanpa tahu penyebabnya, dan depresi. Sedangkan masalah konsentrasi muncul ketika mereka harus mengerjakan tugas atau pekerjaan seperti biasanya tapi mereka membutuhkan waktu lama dan tidak mampu menyelesaikannya. 

Sensitif terhadap stimulus auditori lainnya terjadi ketika ada suara lain. Mereka tidak bisa mendengar kalau suara lain lebih rendah volumenya daripada suara berdenging di dalam telinganya.

Dalam kasus klien ABC, semua gejala dan dampak dari tinnitus dialami. ABC mudah marah karena dia merasa keluarganya tidak suka padanya. 

Mereka sering membicarakan dirinya. Dia juga merasa keluarganya tidak peduli dan tidak ada yang percaya padanya kalau telinganya bising. 

ABC tidak bisa tidur nyenyak karena telinganya berbunyi terus menerus. Supaya tidak bunyi, ia menggunakan headset dan menyetel lagu yang lebih keras daripada sensasi bisingnya. Tentu saja cara ini memperparah kondisi dan kualitas pendengarannya. 

Pada tinnitus, organ cochlea di dalam telinga yang bermasalah dan stimulasi tanpa henti semacam itu akan membuat kondisi semakin buruk.

Sebagai mahasiswa, ABC juga tidak mampu menyelesaikan tugas kuliah. Dengan adanya kuliah online, dia makin kesulitan. Kalau dia tidak pakai headset, dia tidak bisa konsentrasi. 

Kalau pakai headset, suara bising itu seperti bertambah keras. Ia juga mengalami konflik dengan anggota keluarga lain karena kadang-kadang ia mendengar saudaranya berteriak, padahal saudaranya sedang berada di ruangan lain. 

Keluhan ini bisa disalahmaknai sebagai halusinasi auditorik, padahal ini merupakan gejala sensitif terhadap stimulus auditoris.

Intervensi Psikologi dalam Kasus Tinnitus

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun