Mohon tunggu...
Cerpen

Darah Persaudaraan

7 November 2017   23:56 Diperbarui: 8 November 2017   00:06 814
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Aku ingin bergabung dengan PETA."

Ya, kalimat itu yang membuat kesunyian tersebut pecah. "Apa?" jawab Ayah dan Ibu bersamaan. "Ya, aku ingin bergabung," Aku meletakkan sendok yang aku pegang dengan kencang ke piring, "Besok aku akan memulai pelatihan. Aku akan bertemu dengan abang."

11 Februari 1945

"AYO. KALIAN ADALAH PENGECUT ATAU TENTARA?!" teriak komandan dengan kencang kepada barisan aku. Sebagai ketua, aku merasa tertekan. Meskipun baru 2 hari di pelatihan sudah serasa bertahun-tahun. Pelatihan yang berat dan juga setiap saat. Selama 2 hari ini susah sekali untuk mencari Abang. Dari bibir mulut aku dengar, Abang sudah bekerja di lapangan dan juga ada yang bilang tewas saat berperang.

"Eh, Aden, mau cari Abang? Dia sedang mengikuti pemberontakan itu," bisik Pedro. Aku menengok setelah mendengar kata Abang. "Maksudmu, kamu tahu bahwa aku sedang mencari Abang?" tanyaku sambil menaikkan alisku.

Pedro mengangguk, "Kelihatan. Tidak mungkin seorang yang sepertimu datang-datang untuk mengikuti PETA. Orang sepertimu sangat cinta tanah air. Kamu tidak suka dengan apa yang terjadi di Indonesia tanah kita sekarang.." Perkataan Pedro disela oleh Komandan. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" sambil memberikan tatapan tajam. "Sebaiknya kalian lanjut berlatih. Saya tidak mau ada anak bimbingan saya yang bermain-main di saat yang serius." Kami berdua pun langsung sigap menuruti.

"Bagaimana kau bisa tahu tentang keberadaan Abang?" tanyaku dari seberang kasur. "beberapa anak PETA yang sudah lama, ditarik oleh Supriyadi. Komandan platon itu. Katanya si beliau tidak suka dengan cara kerja Jepang terhadap Indonesia. Beliau akan melakukan pemberontakan sekitar minggu ini," Pedro diam sebentar lalu menatap ke jendela. "Beliau sedang merekrut pemuda-pemuda yang siap untuk memberontak PETA."

Aku harus bergabung.

"Pedro, mari kita memberontak," kataku dengan nada bahagia dan senyuman.

12 Februari 1945

"Kalian sudah lihat? Betapa menderitanya para pekerja yang dipaksa, disiksa? Sekarang, beritahu saya. Mengapa kalian masih mau mengikuti apa perintah komandan PETA?" Teriak Supriyadi. Aku dibawa ke ruangan rahasia di daerah Blitar. Tampaknya ini adalah rumah beliau. Tetapi, sangat gelap. Hanya terang 2 lampu kuning yang menyinari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun