Mohon tunggu...
fxfelly murwito
fxfelly murwito Mohon Tunggu... -

bapak satu istri dan satu putri.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sejarah Perjalanan Resep sampai ke Sekolah Memasak

30 Oktober 2017   06:13 Diperbarui: 30 Oktober 2017   06:50 732
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Adalah perpaduan seni, pengetahuan dan pengalaman serta jutaan galon keringat untuk membuat mata menjadi lapar yang kemudian menyihir tangan agar menggerakkan sendok garpu ke dalam mulut.

Sejak manusia mulai memasak hasil buruan di atas bara api, sejak itulah sejarah masak-memasak dimulai. Setelah itu pula cara memasak mulai diwariskan, diajarkan dari orang tua kepada anak, dari majikan kepada hamba atau dari juru masak senior kepada juniornya. Pewaris-pewaris ini kemudian bereksperimen, menyempurnakan, menciptakan resep dan cara memasak yang baru.

Buku Memasak

Transisi mewariskan pengetahuan kuliner dari gaya informal dan verbal ke dalam aturan baku sekolah formal terjadi secara bertahap. Untuk diketahui bahwa sampai abad pertengahan resep belum tertulis dalam buku. Resep tertua ditemukan di dinding makam bangsawan Mesir. Seiring berjalannya waktu, resep tidak menjadi daya tarik, namun tetap saja beberapa penggila masakan menuliskan masakan kesukaannya ke dalam lempengan-lempengan batu. Dari lempengen batu kemudian disalin ke dalam gulungan perkamen.

Pada masa setelah gulungan perkamen, resep dapat ditemukan dalam larik-larik puisi, seperti puisi yang berjudul 'Hedypatheia' (Pleasant Living, Life of Luxury) karya Archestratus, penulis Yunani yang hidup sekitar 350 SM di pulau Sisilia.

Kemudian, kumpulan resep yang pertama dibukukan oleh Marcus Gavius Apicius, pencinta kuliner Romawi yang hidup pada abad pertama masehi. Konon, dia boleh disebut sebagai penyusun buku resep pertama tapi bukan penulis buku resep, resep yang disusunnya berjudul 'De re coquinaria' (Segala Sesuatu Tentang Masakan). Menurut Seneca, penasehat utama kaisar Nero dan penulis beberapa naskah terkenal salah satunya 'Oidipus, Medea', Apicius meninggal karena bunuh diri dengan minum racun. Awalnya, setelah Apicius mengetahui dirinya hampir bangkrut, dia kemudian menghabiskan semua hartanya dalam sebuah pesta makan super eksotis dan diakhir pesta dia meneguk racun.

Buku resep pertama yang dicetak dan didistribusikan terbatas adalah 'Le Mnagier de Paris' (buku panduan untuk istri yang baik) yang ditulis oleh seorang pria tua tanpa nama. Sedangkan buku resep yang dicetak dan didistribusikan dalam skala besar adalah buku yang disusun Bartolomeo de Sacchi, di tulis dalam bahasa latin dan berjudul 'De Honesta Voluptate et Valitudine' (1480). Beberapa buku berikutnya adalah The Kuchemaistrey, dicetak di Jerman tahun 1485 dan the Viandier de Taillevent, dicetak di Prancis tahun 1486. Namun buku-buku tersebut disinyalir bukan karya asli penulisnya. Kemungkinan besar mereka menyusun dan menyalin resep-resep dari gulungan perkamen kuno. Jadi kurang tepatlah jika mereka disebut sebagai penyusun buku resep.

Seratus tahun kemudian, buku resep ditulis dan dicetak untuk kepentingan penulis. Misalnya, Edward Kidder pada tahun 1739 membuat 'The Receipts of Pastry and Cookery' untuk mempromosikan sekolah memasaknya yang berdada di London. Begitu juga dengan Marthe Distell pada 1895, membuat buku resep untuk sekolahnya La Cuisinire Cordon Bleu dan Fannie Farmer pada 1896 untuk Boston Cooking. Pada abad 20 di mana kursus memasak tumbuh pesat, jumlah buku memasak juga turut memuncak, begitu pula ragam kepentingannya.

Sekolah Memasak

Sekolah atau kursus memasak yang ada sekarang berhutang jasa kepada kue yang sering kita sebut sebagai 'pie'. Pada akhir tahun 1600 Chef Edward Kidder membuka toko pie pertama di Cheapside. Dalam waktu singkat pie buatannya menjadi primadona seantero kota London, bahkan lidah warga kota disebelahnya tak mau melewatkan nikmatnya pie isi daging domba dan daging ayam dengan dua pilihan rasa, manis atau asin. Kidder kemudian membuka toko kedua, ketiga dan ketika nyonya-nyonya bangsawan ingin belajar dari Kidder, saat itulah cikal bakal sekolah memasak dimulai. Semakin hari sekolah Chef Kinder makin populer dikalangan bangsawan, maka belajarlah nyonya-nyonya itu bagaimana membuat pie, pudding, hingga tatacara penyajiannya.

Buku 'The Receipts of Pastry and Cookery' menjadi langkah Kidder menuju puncak kejayaan. Di usianya yang ke 73 tahun, buku yang tergolong buku resep pertama di dunia itu menjadi temannya mengajar selama 6 hari dalam seminggu. Sayangnya, tak lama setelah buku itu terbit, Kidder menghembuskan nafas terakhirnya. Tak kurang dari 6.000 nyonya bangsawan belajar seni memasak. Tidak sembarang perempuan bisa belajar di kelasnya yang ekslusif. Kidder telah menetakkan fondasi bahwa kelas seni memasak itu memang harus mahal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun