Novel

Hembusan Angin Cemara Tujuh 33

4 Juli 2018   22:46 Diperbarui: 5 Juli 2018   15:38 383 0 0

Hembusan Angin Cemara Tujuh 33

Pada waktu awal kedatangan  di Rotterdam, setiap Sabtu siang tepat jam 13.00 , Wikarya selalu sudah siap di Bok telepon umum dengan dua kartu telepon 25 guldenan.Seperti ritual yang harus dijalani tepat waktu.

Selisih waktu Rotterdam dengan Jakarta adalah 6 jam. Rotterdam lebih lambat, dari Jakarta. Saat itu jam 19.00 di  Tangerang. Isteri dan anaknya sudah siap di rumah tetangga, yang punya sambungan telepon. Pemilik sambungan telepon memang masih langka waktu itu. Jadi harus nebeng tetangga, pemilik telepon yang pegawai PT Telkom.

Sutopo, Deni dan Puspa menunggu di luar bok kaca itu. Lalu mereka menyaksikan  momen mengharukan sekaligus menggelikan ketika itu.

Saat sambungan telah terhubung, mendengar suara isteri dan anaknya yang pingin berbicara bersamaan, Wikarya menangis megap megap , emosional seperti anak kecil. Seminggu berpisah dengan keluarganya, rupanya terasa sangat lama bagi Wikarya. Begitu, megap megap nya  reda, dan Wikarya mau bicara , sambungan terputus. Dia harus memasukan kartu keduanya baru dapat tersambung  lagi.

Dari momen telepon yang berderai air mata itu, Wikarya menjadi ledekan teman temannya, dan mendapat sebutan Mr 25 gulden 3 minutes crying. Memang satu kartu telepon yang seharga 25 gulden itu , hanya bisa dipakai telepon 3 menit ke Jakarta dan sekitarnya.

Tantangan dan pengalaman para rantau, yang berada puluhan ribu jauhnya dari rumah pasti beragam dan berbeda beda.

Bagi Sutopo, pria yang masih lajang, tantangan dan pengalamannya lain lagi. Tidak begitu merasa home sick atau kangen rumah. Apalagi punya pacar baru seperti Marieska, Indo Beland yang mempesona. Dunianya menjadi penuh gairah dan berwarna.

Dari Marieska, Sutopo sedikit banyak tahu kehidupan sosial di Belanda pada umumnya.

Sistem pemerintahan Belanda bisa dibilang adalah Sosialis Liberal. Terlihat dari Pemerintah yang menerapkan social security.

Bagi warga negaranya yang sedang menganggur tidak punya pekerjaan , mereka berhak mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Sekitar 1100 gulden per bulan, atau hampir setara dengan 1000 dolar Amerika. Sedangkan Untuk penganggur yang sudah berkeluarga, memperoleh 1500 gulden per bulan.

Ada satu cerita lucu, dari satu pasangan keluarga pengangguran, Pria Indonesia dan wanita Suriname, ngakali tunjangan bulanan pengangguran ini.

Entah siapa yang kreatif mencetuskan ide, apakah si suami atau istrinya. Untuk mendapatkan tunjangan yang lebih besar, mereka secara de jure melakukan perceraian. Sehingga dengan status cerai, mereka masing masing mendapat tunjangan 1100 gulden per bulan. Lebih besar 700 gulden dari tunjangan apabila mereka tetap berstatus keluarga. Tetapi de factonya, mereka tetap berhubungan seperti suami isteri, tentu saja secara sembunyi sembunyi. Itulah cerita pasangan pengangguran yang berani dan kreatif.

Dari Marieska pula, Sutopo tahu ada kebiasaan kebiasaan di Belanda, yang berbeda dengan kebiasaan di Indonesia. Misalnya, basa basi membagi makanan di tempat umum, yang di Indonesia adalah hal yang biasa, di Belanda kebiasaan itu tidak akan terjadi. Demikian juga , membantu, menawarkan diri untuk mengangkat barang bawaan yang berlebih kepada seseorang di tempat umum. Meskipun seorang itu sudah tua tua sekalipun, kebiasaan itu tidak terjadi disini.

Pembelajarannya adalah, ketika seseorang keluar rumah, dia harus sudah bisa mengukur diri, akan kebutuhan maupun kemampuannya.

Budaya ini membuat seseorang itu, menjadi memiliki kebiasaan merencanakan segalanya. Dan bangsa Belanda adalah bangsa perencana yang baik dan cermat.

Masalah bandingan kebiasaan di Belanda dan Indonesia, Sutopo pernah tersinggung berat, tapi akhirnya membuat dirinya berpikir dan merenung, dan menggaris bawahi sesuatu.

Ketika itu dia apel ke rumah Marieska. Karena Marieska belum pulang masih ada keperluan di luar, Sutopo cukup lama berbincang dengan Om Jefri. Ngobrol kiri kanan, utara selatan, dan ada satu topik yg membikin panas hatinya.

Om Jefri mengkritisi budaya pegawai negeri dan juga perusahaan pemerintah. Menurutnya ada kebiasaan yang menjadi suatu hipokrit massal  dan merata. Om Jefri bilang, kalau gaji pegawai di Indonesia itu sangat kecil, tapi kulturnya yang teramat besar. Sutopo sempat mendebat, tetapi terpojok dan lemah dengan fakta fakta yang disampaikan Om Jefri. Bahkan Sutopo menyadari sering mengalaminya juga.

Kultur itu berupa salam tempel untuk mempercepat, mempermudah maupun untuk keuntungan segala urusan. Tanpa salam tempel urusan jadi rumit dan panjang. Menurutnya, kebiasaan itulah yang menjadi akar masalah budaya korupsi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2