Mohon tunggu...
Ika Mulya
Ika Mulya Mohon Tunggu... Melarung Jejak Kisah

Pemintal Aksara

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Monyet Cokelat di Dada Gendis

15 Mei 2020   15:46 Diperbarui: 15 Mei 2020   16:36 36 11 3 Mohon Tunggu...

Dugaanku benar. Hari ini, Gendis memakai pakaian yang sama lagi. Rok seragam abu-abu dipadu kaus oblong putih bergambar monyet cokelat di bagian dada. Begitu lagi, begitu lagi. Selama kami ikut bimbel sebulan terakhir ini, tidak pernah sekali pun aku melihat dia berbeda penampilan. Entahlah, itu kaus yang sama, atau mungkin Gendis punya selusin kaus serupa.

Bagiku, meskipun berkulit sawo matang, Gendis itu manis. Tiap kali tertawa, matanya menyipit hampir terpejam. Pipinya yang berlesung membulat seperti bakpau, sangat menggemaskan. Namun sayang, aku belum pernah membuat Gendis tersenyum, apalagi tertawa lepas. Sekadar berbasa-basi pun belum pernah.

Semua rasa yang entah apa, hanya bergejolak dalam dada. Bahkan, aku tahu nama gadis itu, ketika ada teman bimbel yang berteriak memanggilnya. Kami belum berkenalan secara langsung.

"Ya, ngobrol dong, Zam. Payah lu, ah! Gitu aja, nggak berani! Kapan elu bisa punya cewek?" ejek Fahmi, saat kami membicarakan Gendis.

"Tapi, gue belom kenalan sama dia, Mi. Entar dikira sok akrab lagi."

"Ah, ribet amat sih, lu! Jadi cowok tuh, gaspol aja. Gak usah banyak pertimbangan."

Fahmi benar. Aku memang cowok peragu, terlalu banyak pertimbangan. Takut begini, takut begitu. Ujung-ujungnya, mundur sebelum mencoba.

"Lah, malah bengong. Cepet deketin, Zam! Nanti si monyet cokelat keburu disamber orang, tauk!" Fahmi menepuk bahuku lumayan keras. Di wajahnya ada senyum puas meledek.

"Kasar lu, Mi. Namanya Gendis, bukan Monyet Cokelat."

"Gue tau! Lagian, itu cewek aneh banget, sih. Yang laen bajunya pada up to date. Fashionable, gitu. Lah si Gendis, itu meluluuu."

Akhirnya, kami malah membahas kaus Gendis. Latihan soal-soal fisika tidak lagi jadi perhatian. Beralih ke gambar monyet cokelat yang wajahnya tampak sedih.

"Lu yakin, muka tuh monyet lagi sedih?" tanya Fahmi dengan pangkal alis bertaut. Serius bercampur heran.

"Yakin."

"Ckckck ... segitu detailnya lu. Apa karena ada di bagian dada? Hahaha."

Kutonjok lengan kiri Fahmi. "Ngeres luh!"

Aku dan Fahmi sama-sama heran. Di sekolah, banyak teman cewek yang suka kucing. Aksesoris dan alat tulis mereka serba berbentuk atau bergambar si meong. Tidak sedikit pula yang senang kelinci atau kupu-kupu. Cuma Anya yang tampaknya masih jadi penggemar Shaun The Sheep. Itu pun masih terbilang lucu. Monyet? Ah, aneh!

"Mungkin, kaus itu hadiah dari pacarnya. Makanya, dia pake terus," Fahmi mulai menebak-nebak, usai menyeruput teh dingin kemasan botol.

"Tapi, gue nggak pernah liat Gendis diantar atau dijemput sama cowok," sanggahku. Hati ini tak terima dengan dugaan Fahmi yang tidak enak didengar itu.

Fahmi langsung berkata, "Ya kan, kita cuma tau dia di tempat bimbel. Lagian, bisa aja mereka itu LDR-an."

Aku cuma bisa terdiam. Meskipun apa yang dikatakan sahabatku itu menyesakkan dada, ada benarnya. Lalu, haruskah aku mundur saja? Jika tidak, bisakah aku merebut Gendis, si gadis berkaus monyet cokelat dari pacarnya?

"Zam! Lu kebanyakan bengong. Sikat, cuy!"

"Oke."

Aku sok-sokan pede gila. Tidak tahu dari arah mana kenekatan yang tiba-tiba menyergap diri ini. Pokoknya, secepatnya harus dicoba atau aku bakal kehilangan kesempatan. Fahmi pasti mau membantu. Dia sahabatku yang jago ngebucin.

***

Setelah berhasil berbasa-basi dengan Gendis, aku juga jadi bisa mengontaknya lewat WhatsApp. Ternyata, tidak sesulit yang kubayangkan. Obrolan berjalan lancar jaya. Namun, pertanyaan tentang kaus favoritnya itu masih kutahan. Mungkin sampai besok. Walaupun tak ada jadwal bimbel, kami sepakat bertemu di toko buku.

"Baru kali ini, gue liat lo nggak pake kaos gambar monyet." Komentarku to the point saat bertemu Gendis di rak buku-buku fiksi remaja.

"Iya, cuma gue pake kalo lagi bimbel atau ekskul," jawabnya masih menyisakan tanda tanya. Kenapa? Apa istimewanya kaus bergambar monyet cokelat itu?

Tak menyia-nyiakan kesempatan, aku berkata, "Pasti istimewa banget ya kaus itu."

Kulihat matanya mengembun. Ya Tuhan, aku jadi merasa bersalah.

"Usaha bokap gue itu sablon kaos, Zam. Setahun lalu, almarhum mau jemput gue, tapi di jalan kecelakaan. Bokap gue meninggal di tempat kejadian. Kaos itu, kaos yang lagi dia dikerjain, tapi belom selesai." Air mata Gendis mulai menuruni pipi tembamnya.

Aku celingak-celinguk, berharap tak ada pengunjung toko yang memperhatikan kami. "Belum jadi?"

Lalu, dengan menahan isak, Gendis kembali bercerita. Dia bilang, harusnya ada tulisan 'Be Happy' di kaus yang bergambar monyet cokelat berwajah sedih itu. Dia memakainya sebagai obat rindu pada sang ayah.

"Kalo pake kaos itu, gue jadi semangat. Nggak tau kenapa. Berasa kayak ada bokap yang nemenin, jagain, sekaligus nyemangatin gue. Makanya gue pake mulu."

"Oh, begitu. Ummm, gue sempet ngira kaos itu ... dari cowok lo."

Gendis menyeka air matanya dengan tisu. Aku lega saat melihat dia tersenyum tipis. "Gue nggak punya pacar, Zam."

Nyesss! Izinkan aku jadi monyet cokelat di dadamu. Yang akan selalu menghiburmu dan berkata, "Be happy ... with me." Yang siap menemani dan menyemangatimu. Yang terus ada di dadamu, di ruang hati paling istimewa.

"Zam! Kok malah bengong? Kita ke bagian komik, yuk!"

"Iya, Sayang. Eh!"

Gendis tersipu. Belum pernah aku melihatnya semanis ini. Belum pernah pula aku merasa selega ini. Mendekati seorang gadis ternyata tak sesulit yang kubayangkan.

"Zam, kalo Fahmi udah punya cewek belom?"

Dadaku berkecamuk. "Kenapa?"

"Dia kocak, ya. Aku suka cowok kayak Fahmi."

Monyet!

(Tamat)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x