Mohon tunggu...
Muhammad Farhan Atmawinanda
Muhammad Farhan Atmawinanda Mohon Tunggu... Penggores Tinta

Mempunyai passion dalam dunia sepakbola, basket, kuliner, dan fotografi. Berasal dari Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Piala Menpora: Legitimasi Pemerintah demi Kembali Hidupnya Sepak Bola Indonesia

15 Maret 2021   09:52 Diperbarui: 15 Maret 2021   09:58 104 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Piala Menpora: Legitimasi Pemerintah demi Kembali Hidupnya Sepak Bola Indonesia
Menpora Zainudin Amali bersama Ketua PSSI Mochamad Iriawan dalam pengumuman penyelenggaraan Piala Menpora. Foto: bola.kompas.com

Pandemi COVID-19 menghantam seluruh pelaksanaan kegiatan olahraga di dunia, tidak terkecuali Indonesia dengan sepakbolanya. Roda kompetisi Liga 1 2020 yang sempat berputar selama tiga pekan praktis berhenti total di tengah jalan.

Setelah nyaris satu tahun vakum, kini sinar harapan untuk bisa kembali mendengar hingar bingar sepakbola nasional mulai menemui titik terang setalah PSSI akhirnya mendapat restu dari pemerintah Republik Indonesia dan kepolisian untuk menggelar turnamen pramusim bertajuk Piala Menpora.

Pagelaran Piala Menpora tersebut merupakan hal yang sangat krusial. Turnamen tersebut dapat dijadikan sebuah bukti nyata bahwa untuk kedepannya kompetisi yang lebih panjang dan berkelanjutan (liga) siap kembali digulirkan. Berbagai pihak terkait, baik kepolisian, PSSI, klub peserta, pemain, pelatih, sampai suporter sepakbola di tanah air harus sama-sama berkomitmen pada turnamen ini bahwa mereka siap menyelenggarakan atau berpartisipasi dalam turnamen dengan protokol kesehatan yang reliabel dan konsisten dijalankan..

Pihak kepolisian misalnya, mereka akan terkait dengan proses perizinan dan pengamanan pertandingan dengan harus memastikan tidak ada kerumunan massa suporter saat pertandingan berlangsung. Begitu juga dengan PSSI dan PT Liga Indonesia Baru sebagai penyelenggara liga kedepannya, mereka harus membuktikan dalam turnamen Piala Menpora ini bahwa prosedur protokol kesehatan yang mereka siapkan dapat dijalankan dan bisa menjamin keselamatan pemain serta official yang bertugas.

Jika dipikir-pikir pemberian nama "Piala Menpora" pada turnamen pramusim ini merupakan langkah strategis yang brilian dari PSSI. Pemberian nama sebuah institusi negara secara tidak langsung akan menimbulkan citra bahwa turnamen ini sudah dilegitimasi dan didukung secara penuh oleh pemerintah. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana turnamen ini bisa sukses dalam penerapan protokol kesehatan dan sehat secara finansial. Semakin banyak kasus positif korona yang muncul ditengah penyelenggaraan Piala Menpora, maka akan semakin sedikit pula peluang liga yang berkelanjutan bisa kembali diselenggarakan dalam waktu dekat.

Jika Piala Menpora dapat digelar sesuai jadwal, para penggemar sepakbola dalam negeri sebentar lagi akan bisa melepaskan dahaga kembali melihat tim atau pemain favoritnya berlaga. Mereka yang haus akan tontonan sepakbola tersebut dengan bungkusan fanatisme yang berlebih bisa memunculkan dua efek yang saling bertolak belakang.

Di satu sisi mereka akan mendongkrak rating penayangan setiap pertandingan Piala Menpora ini di televisi. Pihak penyiar yang memandang hal ini sebagai peluang bisnis yang empuk di tengah masa pandemi akan berlomba-lomba menawarkan harga tertinggi untuk memiliki hak siar. Ujungnya, klub akan diuntungkan karena bisa mendapatkan pemasukan dan bisa menafkahi pemainnya.

Di sisi lain, suporter fanatik yang haus akan tontonan pertandingan sepakbola berpotensi merugikan semua pihak yang ada disini. Mereka bisa saja berbondong-bondong nekat pergi keluar kota atau stadion tempat berlangsungnya pertandingan yang melibatkan tim favorit mereka. Memang hal ini sudah diantisipasi PSSI dengan menetapkan bahwa suatu tim tidak akan bermain di stadion kandang atau kota mereka. Tapi tetap saja, kita tidak akan bisa memprediksi sejauh mana kenekatan suporter-suporter di Indonesia.

Kembali lagi, ini menjadi tanggung jawab klub untuk mengedukasi suporternya. Klub juga harus berkolaborasi dengan kepolisian untuk memastikan tidak aka nada keramaian atau kerumunan terbentuk di tempat lain selain stadion karena kegiatan nonton bareng misalnya. 

Di konteks yang berbeda klub juga harus memastikan bahwa mereka berada dalam kondisi yang sehat secara keuangan selama berpartisipasi dalam turnamen ini. Jangan sampai penyelenggaraan turnamen pramusim ini justru memunculkan masalah baru, seperti gaji pemain yang tertunggak. Ibarat kata pepatah "sudah jatuh tertimpa tangga", pemain-pemain yang ekonominya hancur karena pemasukannya sebagai pesepakbola tersendat selama satu tahun kebelakang bisa semakin terpuruk dan kita juga mungkin tidak bisa melihat liga kembali diselenggarakan dalam waktu dekat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN