Mohon tunggu...
Muhammad Rafif
Muhammad Rafif Mohon Tunggu... Novelis - Mahasiswa

Selama belum masuk ke liang lahat, selama itu pula kewajiban menulis harus ditunaikan

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Ibu, Seseorang yang Mencintai Anaknya Tanpa Mengenal Syarat dan Waktu

3 Februari 2024   17:36 Diperbarui: 3 Februari 2024   17:39 559
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar: Canva

Wallahi lan oufii hanaanaki lahdhatan, hatta wa in uhdiiki muqlata aynii (Demi tuhan aku takkan mampu untuk sedikit pun membalas cinta dan semua kasihmu, meskipun aku memberikan kedua mataku) -Maher Zain Dalam lirik lagu Ummi-

Sembilan bulan lamanya, ibu mengandung kita di dalam perutnya. Kita memang tidak pernah ingat  bagaimana rasa perih dan menyakitkannya saat ibu melahirkan kita. Sama sekali, kita tidak ingat bagaimana rasanya saat pertama kali menangis di dekapan Ibu kita. Sedari bayi, ketika kita dalam proses belajar merangkak, duduk, lalu berjalan, hingga sampai bisa berbicara, ibu adalah sosok yang selalu mendampingi dan mengajarkan dengan kelembutan dan kasih sayang. Begitu pun ketika kita menangis di tengah malam, entah karena gangguan ataupun kehausan, ibu adalah sesosok penyabar yang rela begadang demi menenangkan diri kita hingga kita tertidur kembali.

Ketika kita lihat pada perjuangannya, sosok Ibu itu tidak pernah menagih syarat apapun untuk mencintai kita. Sejak proses ia mengandung sampai melahirkan kita, Ibu kita tidak pernah bisa memilih melahirkan anak seperti yang ia inginkan. Ibu kita tidak bisa menentukan calon anaknya berjenis kelamin apa dan ciri bentuk fisik anak yang ia inginkan. Sebab, ibu kita sejatinya tau bahwa terlahirnya anak tersebut merupakan suatu anugerah atau amanah dari pencipta untuknya.

Masih teringat dalam bayangan saya ketika ibu memakaikan baju sekolah ketika saya belum bisa memakainya sendiri. Masih teringat dalam bayangan saya, ketika waktu TK dulu, dengan setianya, Ibu saya selalu mengantar dan menunggu saya yang penakut ini hingga waktu pulang tiba. Masih teringat dalam bayangan, dengan tangannya yang lembut, saya menikmati suapan nasi darinya, bahkan hingga terakhir kelas 3, ketika makan, saya masih disuapi oleh ibu saya. Juga, masih teringat dalam bayangan, ketika saya masih ngompol ketika tidur, ibu membersihkan seprai tersebut tanpa merasa jijik.

Ketika menceritakan kenangan dan bayangan masa kecil itu, saya merasakan selalu ada kontribusi dari kebaikan ibu saya yang tiada henti-hentinya dengan landasan kasih sayang dan cintanya. Bahkan sampai saya sudah beranjak dewasa, cinta tulus dari seorang ibu tidak pernah berkurang sedikitpun. Ketika saya sedang sakit demam yang begitu tinggi, ibu dengan perasaan khawatirnya selalu ada di samping saya. Terkadang beliau mengompres dahi saya dengan air hangat, menyuapi makan sekaligus obat ke saya, dan dengan tangannya yang ketika disentuh terasa nikmat, ibu memijati kepala saya.

Memang benar dalam kenyataannya, seluruh ibu yang ada merupakan sosok yang kuat. Beliau bisa menjadi guru, dokter, dan chef secara bergantian sesuai kebutuhan. Pengorbanannya dalam mengurus kita sebagai anaknya, sungguhlah luar biasa. Bahkan, ketika kita lihat realitanya, seorang Ibu yang penuh cinta sanggup tatkala mengurusi dan mendidik lima atau enam orang anaknya. Belum lagi dihadapkan dengan mengurusi perihal pekerjaan rumah yang begitu banyak. Ajaibnya, Ketika dirinya sedang sakit, ibu kita masih tetap kuat melakukan berbagai pekerjaan tersebut. Dan hal seperti itu biasa saya lihat dari ibu, yang tetap memasakkan makanan untuk saya ketika hendak berangkat kuliah di pagi hari.

Berbicara tentang masakan, sebagai anak kita bersepakat bahwa masakan yang dibuat oleh ibu merupakan masakan yang membuat kita sebagai anaknya merasakan nikmatnya makan. J.S Khairen -Penulis novel Dompet Ayah Sepatu Ibu- pernah menulis di salah satu penggalan novelnya bahwa "Masakan ibu takkan kau temukan di restoran terbaik." Dan apa yang dikatakan penulis tersebut memang sangat tepat dan pas. Sebab, cita rasa yang disentuh dan dibuat oleh tangan seorang ibu terasa lebih istimewa dibanding ketika masakan itu dibuat oleh yang lain. Walaupun apa yang dimasaknya itu menu yang sederhana dan tidak mewah.

Cinta yang ibu berikan pada anaknya, nyatanya merupakan cinta yang sakit dan menderita. Dari semenjak kita muncul ke alam dunia ini, ibu kita sudah tersiksa dalam pengorbanannya dari beliau mengandung, melahirkan, hingga menyusui kita. Hal tersebut digambarkan dalam Qur'an Surat Lukman ayat 14, Allah berfirman: Wawassainal-insaana biwaalidaiih, hamalat-hu ummuhuu wahnan 'ala wahniw wa fisaaluhuu fii aamaini anisykurlii wa liwaalidaiik, Ilayyal mashir - Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu

Sebagaimana kita ketahui, Rasulullah Saw di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim menunjukkan bahwa jasa seorang ibu -yang disebut oleh Nabi SAW tiga kali berturut-turut- lebih besar dari seorang ayah. Ketika kita merujuk kepada pandangan para ulama tafsir, hal tersebut tentunya dikarenakan ada tiga fase tersulit yang dilewati oleh seorang ibu yang tidak bisa ditanggung oleh seorang ayah. Tiga fase itu ialah: mengandung, melahirkan, dan menyusui.

Dahulu, guru ngaji saya pernah bercerita, di zaman sahabat Nabi Saw, ada seorang pemuda dari negeri Yaman yang memberangkatkan ibunya berhaji dengan cara menggendongnya. Sebagaimana yang kita ketahui, antara Yaman ke Mekkah tentu tidaklah dekat, pemuda itu harus berjalan kaki menggendong ibunya dengan jarak sekitar 1000 KM lebih. Dan sesampainya di Mekkah pun, tanpa rasa lelah, ia masih menggendong ibunya untuk bertawaf, sai, hingga prosesi ibadah haji itu selesai. Setelah melakukan semua rangkaian haji, dengan kepercayaan diri yang tinggi, pemuda itu bertanya kepada sahabat Abdullah bin Abbas.

Pemuda itu bertanya, "saya ini sudah mengerjakan hal yang mulia itu, apakah saya sudah dikatakan anak yang berbakti dan sudah bisa membalas jasa ibu?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun