Mohon tunggu...
Muh. Arkham Januar Mubarok
Muh. Arkham Januar Mubarok Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Mahasiswa UIN Malang

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Mengupas Singkat Perkembangan Fungsionalisme

29 September 2022   23:31 Diperbarui: 29 September 2022   23:38 119 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Masalah belajar adalah masalah yang selalu dihadapi oleh setiap orang.  Di era yang semakin maju saat ini, tentunya diikuti juga dengan permasalahan yang beragam seperti halnya dibidang Pendidikan. Siswa saat ini, memiliki kecendrungan mental yang berbeda dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Banyak dari mereka yang mentalnya mudah patah dan rapuh. Hal ini juga bisa mengakibatkan kualitas sumber daya manusia untuk lima sampai sepuluh tahun kedepan. Tentunya para guru diharuskan memberikan stimulus yang cocok dengan kondisi siswa pada zaman modern ini. Berbagai metodejuga perlu dikembangkan agar nantinya siswa dapat tumbuh dan berkembang mengikuti perubahan zaman. Salah satu upayanya ialah adanya Perkembangan Teori Fungsionalisme. Pada teori Fungsionalisme ini, memandang bahwa menekankan pada fungsi fungsi dan bukan hanya fakta-fakta fenomena mental.

 

Sejarah munculnya teori fungsionalisme pertama kali dikemukanan oleh Emile Durkheim, salah satu pemikir sosiologi yang berasal dari Perancis. Ia merupakan seseorang yang tertarik untuk melihat  perilaku masyarakat di tatanan masyarakat sosial.

Dari beberapa sumber, ditemukan bahwa teori struktural fungsional pada awalnya berasal dari pemikiran Durkhein yang dipengaruhi oleh pemikiran August Comte dan Herbert Spencer.Jadi pada awalnya Comte, mengembangkan analogi mengenai organisme kemudiaan dikembangkan oleh Spencer sebagai pemikiran mengenai persamaan organisme dan masyarakat atau juga dikenal sebagai requisite functionalism.

Durkheim menyebutkan, baahwa masyarakat terdiri dari bagian yang satu dan lainnya saling membutuhkan karena memiliki fungsi yang berbeda untuk menciptkaan sebuah kestabilan. Oleh karenanya, semisal ada satu bagian yang tidak berfungsi maka akan menyebabkan kerusakan pada sistem di masyarakat itu.

Berkaitan dengan hal ini, tentunya dalam belajar terdapat sebuah masalah, yang mana masalah tersebut aktual dan selalu dihadapi oleh setiap orang. Sehingga  dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan salah satu usaha. Yang dapat dilakukan adalah memahami bagaimana anak-anak belajar.

Untuk dapat memahami karakter belajar anak maka diperlukan berbagai teori belajar. Salah satunya adalah teori belajar fungsionalistik Dominan Edward Lee Thorndike. Ia mememiliki berbagai karya dalam bidang psikologi salah satunya psikologi pendiidkan. Oleh sebab itu ia disebut sebagai ahli teori belajar sepanjang masa.

Awalnya Pendiidkan di Amerika Serikat didominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949). Teori belajar Thorndike disebut teori koneksionolismr, karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara simulus dan respon. Biasanya teori ini juga disebut " Trial and error learning" dalam rangka menilai respon yang tterdapat bagi stimulus tertentu. Pada penelitiannya,  Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitannya terhadap beberapa tingkah laku anak-anak dan orang dewasa.

            Thomdike juga menyebutkan adanya asosiasi antara kesan indrawi dan impuls dengan sebuah ikatan atau koneksi. Dimana,  cabang cabang asosiasionisme ini sebelumnya telah berusaha menunjukkan bagaimana ide-ide menjadi saling terkait. Jadi, pendekatan Thomdike cukup berbeda dan dapat dianggap sebagai teori belajar modern pertama.

            Kemudian Tomdike menambahakn bahwa bentuk paling dasar dari proses belajar adalah Trial and error learninga atau belajar dengan uji coba. Istilah ini juga bisa diebut sebagai selecting and connection atau pemilihan dan pengaitan. Beliau menemukan teori ini dan kemudian dikembangkan berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890.

            Teori belajar yang dikemukakan Thorndike terdiri dari dua bagian, yaitu teori sebelum tahun 1930 dan teori pasca 1930. Teori sebelum tahun 1930 meliputi hukum, yaitu Hukum Kesiapan (Law of Effect), Hukum Latihan (Law of Exercise). Secara garis besar ketiga hukum tersebut menyatakan bahwa dalam proses belajar diperlukan adanya kesiapan siswa dalam menerima pelajaran, adanya pengulangan materi/ latihan dan situasi belajar yang menyenangkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan