Mohon tunggu...
Much. Khoiri
Much. Khoiri Mohon Tunggu... pegawai negeri -

Penulis dan Dosen Sastra (Inggris), Creative Writing, Kajian Budaya dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Trainer dan Perintis 'Jaringan Literasi Indonesia' (Jalindo). Alumnus International Writing Program di University of Iowa (USA, 1993); dan Summer Institute in American Studies di Chinese University of Hong Kong (1996). Kini menjadi Kepala UPT Pusat Bahasa Unesa. Anggota redaksi jurnal sastra 'Kalimas'. Karya-karya fiksi dan nonfiksi pernah dimuat di aneka media cetak, jurnal, dan online—dalam dan luar negeri. Buku-bukunya antara lain: "36 Kompasianer Merajut Indonesia" (ed. Thamrin Sonata & Much. Khoiri, Oktober 2013); "Pena Alumni: Membangun Unesa melalui Budaya Literasi" (2013); antologi "Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku" (2014), buku mandiri "Jejak Budaya Meretas Peradaban" (2014) dan "Muchlas Samani: Aksi dan Inspirasi" (2014). Eseinya masuk ke antologi "Pancasila Rumah Kita Bersama" (ed. Thamrin Sonata, 2014) dan papernya masuk buku prosiding "Membangun Budaya Literasi" (2014). Menjadi penulis dan editor buku "Unesa Emas Bermartabat" (2014). Buku paling baru "Rahasia TOP Menulis" (Elex Media Komputindo, Des 2014).\r\n\r\nBlognya: http://mycreativeforum.blogspot.com\r\ndan www.kompasiana.com/much-khoiri.\r\n\r\nMelayani KONSULTASI dan PELATIHAN menulis karya ilmiah, karya kreatif, dan karya jurnalistik. \r\n\r\nAlamat: Jln. Granit Kumala 4.2 No. 39 Perumnas Kota Baru Driyorejo (KBD) Gresik 61177. \r\nEmail: much_choiri@yahoo.com. \r\nKontak: 081331450689\r\nTagline: "Meretas Literasi Lintas Generasi"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Musuh dalam Selimut

12 April 2015   20:33 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:12 266 7 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Musuh dalam Selimut
14288455031726596883

[caption id="attachment_360388" align="aligncenter" width="448" caption="Sumber ilustrasi: http://ciricara.com/2012/08/10/ciricara-ciri-musuh-dalam-selimut/"][/caption]

Oleh MUCH. KHOIRI

Dalam film Jodha-Akbar raja Mughal, baginda Jalaluddin Akbar, digambarkan sebagai raja kuat dan berpengaruh. Kekuasannya sangat besar. Namun, begitulah, semakin pohon mangga berbuah lebat, semakin banyak orang sangat berhasrat untuk memanjatnya atau merobohkannya.

Siapakah orang yang potensial menjadi musuh seorang raja? Ternyata tidaklah jauh dari sang raja sendiri. Sama dengan orang yang berhasrat memanjat pohon atau merobohkan pohon mangga di atas, maka demikianlah orang yang bernafsu merecoki raja dalam mengemban tugas kenegaraan. Mereka bukanlah orang asing sama sekali—sebaliknya, mereka orang-orang terdekat.

Itulah musuh dalam selimut, istilahnya. Sepintas mereka adalah bawahan, mitra, teman, keluarga, atau orang kepercayaan raja. Namun, sebenarnya tidak demikian; mereka justru amat hipokrit (munafik) dan berjiwa ganda. Syarifuddin, ipar raja Jalaluddin Akbar, telah menjadi musuh dalam selimut. Demikian pun Adam Khan (panglima perang) dan Haman Anga (perdana menteri).

Bahkan, Jalaluddin sendiri pernah bilang bahwa dia seorang raja besar, dan karena itu amat mungkin memiliki banyak musuh dalam selimut. Dia menyadari posisinya dan bahaya yang mengancamnya. Dalam film tersebut, terbukti bahwa Syarifuddin mau menikahi adik raja, Bhaksi Banu, hanya untuk nunut kemewahan dalam keluarga raja—dan sekaligus untuk mengincar (dengan berbagai cara) singgasana raja.

Adam Khan, panglima perang, yang sekaligus putra perdana menteri, tak kalah besar nafsunya untuk menggulingkan raja. Iri dengki telah membakarnya siang malam, sehingga setiap waktu dia selalu memikirkan cara-cara licik untuk membunuh raja. Pada akhirnya, dia malah menemui ajalnya sendiri akibat kecerobohan yang diperbuatnya.

Tak kurang, Haman Anga, sang perdana menteri, ternyata selalu jadi musuh selimut yang paling militan. Dengan aneka tipu muslihat keji dan “kecerdikan” yang dimilikinya, entah berapa kali dia lolos dari kecurigaan raja. Namun, sebagaimana pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya gawal juga, demikian pun sang perdana menteri. Dia akhirnya dipenjara atas perbuatannya.

***

Film Jodha-Akbar yang tersaji di atas mengilustrasikan, betapa musuh tidak selalu harus berasal dari tempat jauh—melainkan bisa dari tempat paling dekat dengan sasaran. Bahkan, musuh bisa jadi orang yang semula terpercaya, yang karena iri dengki dia mengembangkan ketamakan dan keserakahan yang liar. Dia dibuta-tulikan oleh nafsu-nafsu jahatnya.

Tentu saja, orang-orang terdekat bisa menjadi musuh yang nyata dalam kehidupan. Mereka telanjur mengetahui sangat banyak; mereka mengetahui segala kekuatan dan kelemahan. Justru karena banyak tahu inilah mereka bisa mengatur beraneka strategi untuk menggunting dalam lipatan, atau menusuk dari belakang.

Itulah sebabnya para pemimpin besar, selain mengendalikan musuh-musuh yang nyata, mereka juga berusaha mengendalikan orang-orang terdekatnya. Mengendalikan, maksudnya agar mereka tidak marah dan dendam. Ada kutipan menarik dari Dahlan Iskan: “Marahnya orang luar bisa dilihat, tapi dendamnya orang dalam bisa seperti musuh dalam selimut: bisa mencubit sambil memeluk.” (Radar Surabaya, 21/12/2014).

Ternyata, musuh dalam selimut jauh lebih dahsyat bahayanya. Dengan mengetahui seluk beluk raja atau pemimpinnya, musuh dalam selimut tidak akan bergerak sendiri dalam menjalankan aksi dendamnya. Dia bisa saja bekerjasama dengan pemimpin lain atau negara lain. Musuh dalam selimut tak peduli berapapun biaya yang harus dikeluarkan untuk semua itu.

Begitulah, justru orang-orang dekatlah yang potensial menjadi “musuh dalam selimut”, akibat kemarahan atau iri-dengki yang menyelimuti hatinya. Karena itu, berhati-hatilah memilih orang-orang terdekat dalam pertemanan atau tim kerja. Keselamatan Anda menjadi taruhannya.**

Gresik, 12/04/2015

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x