Mohon tunggu...
Muhammad Bahruddin
Muhammad Bahruddin Mohon Tunggu... Dosen - Dosen

Dosen Media dan Komunikasi Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya. Berminat pada penelitian media, politik, iklan, dan film. Saat ini sedang menyelesaikan program Doktoral Komunikasi Universitas Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Dua Garis Biru" Keluar dari Kelaziman Film Remaja

5 Agustus 2019   11:15 Diperbarui: 7 Agustus 2019   10:14 1153
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Misalnya, adengan ketika seorang guru mengumumkan nilai ulangan harian para siswa. Sang guru meminta para siswa untuk berdiri ketika dia menyebut nilai ujian mereka. Saat menyebut angka 100, Dara berdiri. Sang guru menyebut bahwa Dara adalah gambaran siswa yang memiliki masa depan cerah. Demikian seterusnya, hingga sang guru menyebut angka 40. Giliran Bima berdiri. Sang guru kemudian menggambarkan sosok Bima yang terancam masa depannya suram. Karena itu Bima harus banyak belajar. Penjelasan sang guru disambut celotehan dan gurauan para siswa di kelas.

Gurauan yang lazim terjadi di banyak sekolah ini sekaligus menyimpan pesan dan kritikan bahwa nilai ujian di sekolah tak selamanya menjadi paramater untuk mengukur masa depan seseorang. Tapi perilaku seseorang menjadi salah satu faktor penting untuk menentukan nasibnya kelak.

Kebiasaan dan gaya bicara remaja yang sedang tren saat ini banyak ditemukan di film ini. Hal ini tampak dalam adegan ledekan atau guruan teman-teman Bima dan Dara. Mereka melabeli Bima dan Dara sebagai suami istri. Pelabelan ini biasa dilakukan para remaja terhadap mereka yang sedang berpacaran. Demikian juga sebutan suami untuk para artis K-Pop kegemaran mereka, sebagaimana Dara yang menjadi satu dari remaja yang menjadi fans beratnya K-Pop.

Kehadiran K-Pop di Indonesia, sulit dilepaskan dari kehidupan para remaja kelas menengah perkotaan, termasuk Dara. Kamarnya penuh dengan poster grup-grup boyband asal negeri gingseng itu. Bahkan dia berusaha keras untuk bisa kuliah di negeri boyband itu dengan latihan bahasa Korea setiap hari secara autodidak.


'Balas Dendam' Gina

Film Dua Garis Biru ini tampaknya menjadi ajang "balas dendam" bagi Gina setelah lebih dari sepuluh tahun hanya bisa menulis skenario saja tanpa mamiliki kewenangan untuk mengatur detail sekaligus memutuskan adegan, sebagaimana tugas seorang sutradara. 

Karena itu, di film ini dia mampu menutupi kelemahan-kelemahan yang selama ini kerap dilakukan oleh banyak sutradara di film yang ia tulis, terutama dalam pengambilan dan pemotongan gambar (shot) yang kurang pas. Bagi dia, pengambilan gambar dalam film tidak sekedar menunjukkan objek tertentu tapi juga bisa "berbicara" tanpa harus disampaikan secara verbal. 

Misalnya, saat mengambil gambar wajah Bima secara close up. Guratan dan tekstur yang tergambar dalam wajahnya sangat detail. Warna kulitnya tampak coklat, mengkilap, serta natural tanpa make up, seolah gambar tersebut sedang berbicara bahwa Bima adalah laki-laki, perkampungan, dan anak orang susah.

Demikian juga objek-objek long shot yang kerap dieksplorasi Gina. Misalnya, kondisi kumuh perkampungan di Jakarta, gang-gang sempit, sungai yang berair keruh, dan lalu lalang masyarakat perkampungan dalam kota, sudah bisa menjawab bahwa seperti apa kondisi ekonomi keluarga Bima. Pengambilan gambar secara long shot ini sekaligus sebagai kritik terhadap pemerintah tentang kehidupan kaum miskin kota.

Gina juga tidak lupa memperhatikan nasib ondel-ondel sebagai produk budaya Betawi. Hingga saat ini belum banyak yang peduli dengan para pegiat budaya tersebut. Meskipun mereka tetap eksis namun nasibnya semakin kembang kempis. Inilah salah satu kelebihan Gina yang selalu jeli menyisipkan pesan dan kritik namun dikemas dengan manis.

Penulis naskah film Ayat-Ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Surban ini juga sadar bahwa cerita film tak boleh sepenuhnya serius dan tegang. Di tengah cerita harus disisipi adegan-adegan humor, romantis, haru biru, atau pemandangan yang bisa membuat mata rileks. Karena itu sepanjang 113 menit, film Dua Garis Biru jauh dari kesan membosankan. Selama film berlangsung, Gina berhasil mengaduk emosi penonton. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun