Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Sosiolog Pertanian dan Pedesaan

Sedang riset pertanian natural dan menulis novel anarkis "Poltak"

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

[Poltak #060] Somba Marhula-hula Elek Marboru

18 Juni 2021   16:41 Diperbarui: 18 Juni 2021   16:59 266 26 15 Mohon Tunggu...
Lihat foto
[Poltak #060] Somba Marhula-hula Elek Marboru
Ilustrasi kolase oleh FT (Foto: kompas.com/dok. istimewa)

"Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab."  Pelajaran Civic di kelas empat SD Hutabolon. Guru Paruhum sedang membahas Sila Kedua dari Pancasila.  

"Ada di antara kalian yang mengerti maksudnya?"

Murid-murid diam seribu bahasa.  Tentu saja tak seorang pun dari mereka yang mengerti makna kemanusiaan yang adil dan beradab. Mendengarnya pun baru minggu lalu, saat pelajaran pertama Civic.  

Minggu lalu, Guru Paruhum telah menjelaskan makna  sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa.  "Sudah mengerti maksudnya?" tanya Guru Paruhum di akhir penjelasan.  Semua anak diam, tanda tak paham. 

Berharap anak kelas empat SD paham arti Ketuhanan Yang Maha Esa?  Guru Paruhum bagai pungguk merindukan bulan.  Poltak hanya ingat satu kalimat dari uraian Guru Paruhum, "Berdoalah, doa Bapa Kami, setiap pagi." Ketuhanan Yang Maha Esa ada di situ.

"Ingat perkelahian Poltak dan Jonder minggu lalu saat main kasti?"  Murid-murid mengangguk semua. "Itu contoh kemanusiaan yang tidak adil dan tidak beradab."

Pikiran Poltak melayang ke peristiwa seminggu yang lalu.  Guru Paruhum, dengan tenaga Samson, mencencang dirinya dan Jonder ke dalam ruangan.  Lalu mengangkat dan mengonggokkan mereka berdua di atas meja guru.

"Kau, Jonder! Tak beradab!  Berta sudah menyerah.  Masih kau bantai juga!"  Jonder diam.  Sambil melap  sisa darah di bawah hidungnya dengan kertas kelat.

"Kau, Poltak! Tak adil! Kau tak berhak menghajar Jonder.  Itu urusan Pak Guru.  Lihat, akibat perbuatanmu.  Hidung Jonder berdarah, gigi serinya goyah!"  Poltak diam. 

"Kau, anak tak beradab," sambil melotot kepada Jonder, "dan kau, anak takadil," sambil melotot kepada Poltak, "mau damai atau terus berkelahi?" 

Guru Paruhum keluar dari ruangan, kembali mewasiti permainan kasti.  Dia biarkan  Poltak dan Jonder mengambil keputusan sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN