Felix Tani
Felix Tani Petani

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Hariara, Pohon Tertinggi Sejagad yang Ada di Tanah Batak

25 April 2019   18:30 Diperbarui: 26 April 2019   13:49 1948 23 13
Hariara, Pohon Tertinggi Sejagad yang Ada di Tanah Batak
Pohon Hariara Tungkot di Kampung Sinambela, Baktiraja (Bakkara) Humbang Hasundutan. Dipercaya berasal dari tongkat Sisingamangaraja I yang ditancapkan di tanah (Foto: detik.com)

Bagi mereka yang sudah menonton film layar lebar Avatar besutan James Cameron, tentulah ingat dengan "Pohon Jiwa" (Tree of Souls) yang tumbuh di Planet Pandora, tempat suku humanoid Na'vi hidup.

Pohon Jiwa ini, semacam pohon willow raksasa, menjadi penghubung mistis antara Suku Na'vi dengan Eywa, "Dewi Ibu" pelindung Bangsa Na'vi dan ekosistem "bulan" Pandora tempat mereka hidup. 

Dikisahkan, juga ditunjukkan dalam film, pohon itu dapat tersambung langsung ke sistem saraf manusia. Cara itu diterapkan untuk memindahkan jiwa manusia ke dalam suatu "avatar" (tubuh humanoid Na'vi) agar selamat dari kematian. 

Dalam khasanah antropologi budaya, "Pohon Jiwa" itu disebut sebagai "pohon hidup" (Lat., arbor vitae; Ing., tree of life). Dalam konsepsi mitolog Mircea Eliade (1974) "pohon hidup" semacam itu dimaknai sebagai "poros jagad" (axis mundi). Sebuah poros yang menghubungkan manusia dengan roh leluhur dan dewa-dewa (dewata).

Itu imajinasi (film Avatar) dan teorinya (arbor vitae, axis mundi). Pertanyaannya, apa hubungannya dengan pohon tertinggi sejagat raya yang ada di Tanah Batak?

***

Dalam mitologi orang Batak (Toba), juga dalam "agama asli", terdapat keyakinan tentang keberadaan satu pohon mitis-kosmis yang dinamai hariara Sundung di Langit (Hariara Bertajuk di Langit). Tapi sebelum mengurai lebih jauh, saya ingin jelaskan dulu tentang pohon hariara itu sendiri.

Hariara adalah pohon yang termasuk dalam genus Ficus (Keluarga: Moraceae, Ordo: Rosales), sehingga kerap juga disebut "beringin". Tapi hariara sebenarnya berbeda dengan beringin. Penciri utama, dibanding beringin, daunnya lebih lebar dan buahnya lebih besar. Buah hariara bisa dikonsumsi, rasanya manis. Buah itu sering dikonsumsi anak kecil tapi terutama sebenarnya lebih banyak dimakan monyet.

Dalam budaya mukim orang Batak, hariara digunakan sebagai penanda kelayakan perkampungan. Sebelum menetapkan suatu tempat sebagai lokasi kampung baru, maka terlebih dahulu di situ ditanam anakan pohon hariara. Jika setelah tujuh hari hariara itu bertahan hidup, maka lokasi itu dianggap tepat sebagai perkampungan, dengan keyakinan bahwa tanah di situ subur, cocok untuk bertani.

Pohon Hariara Bolon di Kampung Sukkean, Onanrunggu Samosir (Foto: vaiqbo.blogspot.com)
Pohon Hariara Bolon di Kampung Sukkean, Onanrunggu Samosir (Foto: vaiqbo.blogspot.com)
Karena itu pohon hariara lazim sebagai penanda bagi perkampungan (huta) asli orang Batak. Posisinya ada di mulut atau gerbang kampung. Umur pohon hariara itu dengan sendirinya menunjuk pada usia sebuah kampung Batak.

Pohon hariara diberi predikat sundung di langit karena tampilan fisiknya yang selalu tumbuh tegak lurus, tajuknya tumbuh tinggi ke atas sekakan menyunggi langit. Pohon hariara, jika ditanam sejak pembukaan kampung, bisa dipastikan sebagai pohon tertinggi di sebuah kampung asli Batak.

Salah satu pohon hariara yang ikonik di tanah Batak adalah pohon hariara parjuragatan (parjuragatan, tempat menggantungkan hidup) yang hidup di Bakkara. Tepatnya di kampung kelahiran sekaligus pusat kerajaan Sisingamangaraja yaitu di Sinambela, Kecamatan Baktiraja, Tapanuli Utara. Tinggi pohon sekitar 50 meter dan diameter batangnya kurang-lebih 5 meter.

Menurut cerita turun-temurun, hariara Bakkara itu berasal dari tongkat Raja Sisingamangara I yang ditancapkan di tanah lalu tumbuh menjadi pohon. Karena itu dinamai juga Hariara Tungkot. Itu legenda, boleh percaya boleh tidak, tapi itu indikasi pohon tersebut sudah berumur ratusan tahun.

Warga Bakkara meyakini pohon hariara tungkot tersebut sebagai pohon keramat yang bisa memberi pertanda. Sehingga disebut juga sebagai hariara namarmutiha (namarmutiha, pertanda). 

Konon, dahulu kalau ada cabangnya patah, berarti Raja Sisingamangaraja akan wafat dan saatnya digantikan penerusnya. Jika rantingnya patah, maka ada anggota keluarga Sisingamangaraja yang akan meninggal dunia. Jika dedaunannya terbalik layu, maka akan ada bencana alam, misalnya paceklik karena kemarau panjang.

***

Kembali ke Hariara Sundung di Langit, ini adalah pohon imajiner, suatu "pohon hidup" (arbor vitae) atau "poros jagad" (axis mundi) yang hidup dalam keyakinan atau agama asli etnik Batak (Toba). Artinya pohon itu tidak hadir secara fisik, tetapi hidup dalam kosmologi orang Batak sebagai pohon mitis-kosmis.

Dalam kepercayaan agama asli (paganism) orang Batak, Hariara Sundung di Lagit itu diyakini sebagai pohon yang diciptakan oleh Mulajadi Na Bolon (Pencipta yang Maha Besar), dewa tertinggi (Mahadewa) orang Batak. Pohon itu diyakini diciptakan bersamaan dengan penciptaan "Tanah Batak" dan "Manusia Batak Pertama" oleh Mulajadi Na Bolon di Kampung Sianjurmulamula, Gunung Pusukbuhit, sebelah barat kota Pangururan, Samosir sekarang ini.

Dalam kosmologi orang Batak, hariara Sundung di Langit itu dibayangkan sebagai pohon mahabesar dan mahatinggi yang mengisi "Tiga Dunia" yaitu Banua Toru (Dunia Bawah, Dunia Dalam/Perut Bumi), Banua Tonga (Dunia Tengah, Dunia Manusia), dan Banua Ginjang (Dunia Atas, Langit, Dunia Dewa Tertinggi dan Dewa Tinggi).

Pohon mitis-kosmis ini dibayangkan tumbuh tepat di puncak Gunung Pusukbuhit, gunung magis orang Batak. Akarnya menghunjam jauh ke Dunia Bawah, batangnya tegak lurus ke atas di dunia tengah, dan tajuknya membentang (madeha, sangkamadeha) di Dunia Atas (Langit). Itu sebabnya dinamai hariara Sundung di Langit, suatu sosok pohon imajiner tertinggi sejagad raya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2