Mohon tunggu...
Moe Syafriansyah
Moe Syafriansyah Mohon Tunggu...

kutangusang.tumblr.com

Selanjutnya

Tutup

Media

Internet, Memudahkan Bukan Memusnahkan Hidup

20 Januari 2016   01:55 Diperbarui: 20 Januari 2016   01:55 95 0 0 Mohon Tunggu...

Berawal dari melihat apa yang terjadi sehari-hari di internet tentang semakin banyaknya kejadian dan peristiwa yang bermuara pada dunia maya ini mungkin butuh beberapa sudut pandang untuk melihat dimana letak salahnya. Bagaimanakah semestinya para pengguna menyikapi sang primadona bagi teknologi komunikasi dan informasi yang sedang naik daun ini.

Dulu di akhir 90an kita masih asing dengan internet. Fungsinya pun mungkin masi sebatas mengirim-menerima email, chatting dan mencari informasi yang juga masih terbatas. Sampai akhirnya kecanggihan otak manusia
dalam mengembangkan teknologi internet melesat cepat tanpa dituntun oleh kemantapan hukum menyangkut media baru ini. Platform read-only bergeser menjadi platform dimana semua orang bisa membuat konten dan menyebarkannya secara luas.
Internet pun menjadi anak prematur dengan kemampuan luar biasa tapi tidak ada kekuatan (hukum) yang mengontrolnya.

Di fase ini semua orang bebas memasukkan dan mendapatkan segala hal yang mereka suka. Mulai dari mengakses ilmu-ilmu yang belum pernah kita tahu dengan sangat cepat dan mudah. Kita juga bisa memanfaatkannya untuk menemukan teman lama atau bahkan keluarga yang hilang. Mengkonversi jarak jauh menjadi teknologi informasi real-time. Sampai menggiring orang dalam jumlah massal untuk sama-sama berbuat baik. Bahkan semua hal ini bisa dilakukan oleh anak kecil sekalipun.

Tapi, koin selalu punya dua sisi, internet pun selain memiliki sisi positif, Ia juga memiliki sisi negatif. Ketika tidak adanya kekuatan yang bisa mengendalikan konten di dalamnya yang berasal dari segala macam sumber dan latar belakang, sehingga apapun yang masuk seketika berubah menjadi bola liar. Konten digital pun dengan sangat mudah dimanipulasi, sehingga terjadi salah persepsi.
Oleh sebab itu, internet menjadi media "favorit" untuk para oknum yang tidak bertanggung jawab, merubah objective sebuah konten menjadi alat provokasi. Orang yang punya niat baik pun bisa berubah jahat hanya karena penerima salah memahami konten yang sudah terlanjur tersebar luas.
Kita bisa memilih apa yang kita mau baca tapi tidak bisa memilah siapa pembaca kita. Dan yang terburuk, media ini pelan2 berevolusi menjadi senjata pencabut nyawa.

Ironis, ketika kita dengan suka cita menggunakan fitur-fitur di sosial media untuk menyebarkan kebahagiaan sedangakan secara bersamaan juga bisa menghantarkan orang pada berita duka cita. Berkedok media sosial, internet lalu merayu semua kalangan agar tidak bisa jauh-jauh dari gadgetnya. Manusia pun seolah menjadi abdi dari "kerajaan" baru ini. Mereka pun rela melakukan apa saja demi menjadi "raja" atau "ratu" di sini. Bukan hal positif yang patut dirayakan.

Saat akhir-akhir ini ramai pemberitaan tentang banyaknya kematian akibat dari foto selfie telah menjadi salah satu bukti kalau internet perlahan menjadi sebuah media mematikan. Para pengguna dibuat terbuai dengan tren yang membanjiri media sosial dan menyamarkan berbagai akibat yang bisa terjadi jika tidak diiringi dengan pemikiran logis.
Semua berlomba-lomba mendapatkan materi untuk dipublikasi dan (mungkin) dipuji. Mereka lebih berani maju ke depan demi mendapat gambar "bagus" dari pada mundur untuk menjaga nyawanya sendiri (contoh pada saat tragedi Sarinah minggu lalu). Tidak benar ketika ada warga sipil yang tetap berada di lokasi peristiwa (menonton/berjualan) malah dibuat "tenar" di berbagai media alih-alih diamankan atau diingatkan.

Kita semua melek media sosial, tapi kadang-kadang buta tujuan akhir menggunakannya.
Jadilah seorang tuan yang positif, bukan budak primitif dalam memanfaatkan media internet ini. Bijaksana lah dalam merespon sebuah tren (digital), dan kita pun akan banyak terselamatkan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x