Mohon tunggu...
Min Adadiyah
Min Adadiyah Mohon Tunggu... Ahli Gizi - nakes ahli gizi, pembelajar manajemen abadi

Penata Impian (karena yakin Sang Maha selalu realisasikan impian kita)

Selanjutnya

Tutup

Roman Pilihan

Mekar Seperti Matahari 9

31 Oktober 2023   07:30 Diperbarui: 31 Oktober 2023   09:08 52
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Roman. Sumber ilustrasi: pixabay.com/qrzt

Pelan-pelan aku salin naskah yang tadi beliau sodorkan. Masih sambil bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang ini. Naskah sederhana dalam bahasa sederhana dan lugas itu berhasil aku salin dalam waktu tak lebih dari 45 menit. Ada  salinan dari beberapa bahasa yang diminta pak Robert. Aku mengerjakannya satu per satu dalam file yang berbeda berdasarkan bahasa. Hingga file terakhir yang dipesannya ternyata harus menggunakan huruf yang masih belum terlalu aku pahami. 

"Maaf Pak, yang ini saya kurang mampu." ujarku sambil menyodorkan laptop perlahan ke arahnya. Dia hanya mengangguk perlahan. Masih tak melepaskan pandangan dari kertas yang sedang dicoret-coretnya. Aku menunggu beberapa saat untuk mendapat perhatiannya. Fitur wajahnya mengingatkanku pada sosok berwajah Jepang yang  sering muncul di drama. Aku sejenak terkesiap. Dia keturunan Jepangkah? 

"Ini kamu scan saja, lalu tolong disimpan dalam satu file bersama dengan lainnya." ujarnya sambil menyodorkan kertas yang tadi dicoret-coretnya. 

"Ini huruf kanji Pak?" tanyaku. Dia menoleh sejenak. Tersenyum. 

"Menurutmu?" tanyanya sambil matanya mengarah ke salah satu printer scanner yang ada di ruang itu. 

"Ya Pak, saya scan dulu." ujarku ringkas. Mungkin benar, dia tidak membutuhkan penerjemah berbahasa Jepang karena dia sendiri sudah memahami betul mengenai hal itu. Namun, rasanya sangat tidak etis aku bertanya mengenai hal tersebut. Malam itu adalah  kesempatan terakhir aku bertemu dengannya. Saat makan pagi, aku sudah tidak bertemu atau melihat kelebatannya. Hingga siang dan keesokan harinya saat semua delegator beranjak meninggalkan ruang konferensi dan tinggal kami para LO yang pintar tapi harus bersikap bodoh di area ini. 

Aku benar-benar bad mood di akhir sesi, apalagi ketika kemudian Genda menelponku. 

"Kamu  dapat apa dari sesi conference kemarin?" tanya Genda setelah sekedar berbasa-basi tanya kabar. 

"Aku gak dapat apapun kecuali aku merasa aku kayak gadis bodoh yang cuma disuruh-suruh."sungutku. Genda tertawa. Ih, sadis amat sih? 

"Genda, aku serius, buat apa semua pelatihan selama ini kalo yang kata Genda aku bakalan dapat tugas penting nyatanya cuma pura-pura bodoh doang." rengekku  lagi. Genda mendengus untuk menghentikan tawanya. Aku rasa hari ini Genda sedang berada di kantor BIN atau malah sedang sidang di DK PBB? 

"Sayang..., justru itu, Genda mau berterima kasih karena kamu "pura-pura bodoh" itu Genda jadi dapat sesuatu yang penting." ujarnya. "Sudah dulu ya, yang penting kami baik-baik saja. Jangan lupa, tugasmu selama tiga bulan ini adalah fulltimer di kantornya Robert di Jakarta. Global Pradana Transportation (GPT). Kamu tahu letak gedungnya kan? Kamu harus ada di sana dalam waktu...." 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Roman Selengkapnya
Lihat Roman Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun