Mohon tunggu...
Rusmin Sopian
Rusmin Sopian Mohon Tunggu... Freelancer - Urang Habang yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.

Urang Habang. Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @RusminToboali. FB RusminToboali.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kain Sarung di Rumah Pak Ustad

3 Februari 2021   21:13 Diperbarui: 4 Februari 2021   13:06 433
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kain sarung / lektur.id

Purnama malam hadir dengan cahayanya yang indah. Seolah ikut mengiringi jejak langkah Pak Ustad menuju pulang ke rumah, usai sholat Isya di Mushola kampung. Belum sampai halaman rumahnya, mata Pak Ustad terbelalak. Pandangannya tertuju kepada sebuah mobil truk yang parkir di halaman rumahnya. Terlihat beberapa orang menurunkan barang dari mobil dan memasuki pekarangan rumahnya. 

Pak Ustad mempercepat langkah kakinya. Sinar malam purnama masih bercahaya dengan indahnya. Saat tiba di depan rumahnya, mata Pak Ustad kembali terbelalak. Belasan  kantong karung tergeletak di teras rumahnya.

" Barang apa ini?," tanya Pak Ustad.

" Kami disuruh mengirim barang ini ke rumah Pak Ustad," jawab seseorang.

" Setahu saya, saya tak pernah memesan barang-barang ini," ujar Pak Ustad.

" Ini barang dari Pak Besar untuk Pak Ustad. Pesan beliau kain sarung ini mohon dibagikan kepada para jemaah mushola dan orang-orang Kampung ini," jelas seorang pemikul barang itu.

Pak Ustad menelan ludah. Sementara cahaya bulan purnama masih bercahaya dengan indahnya. Menerangi alam semesta.

Berita Pak Ustad menerima titipan belasan karung yang berisikan kain karung dari seorang petinggi daerah menyebar bak virus. Semua warga Kampung menarasikan berita itu di berbagai tempat dan ruang publik. Tak terkeculai di warung kopi Kampung.

" Saya heran dengan Pak Ustad. Kok maunya membagikan kain sarung milik petinggi daerah kepada warga," ujar seorang warga.

" Iya. Saya juga heran. Tidak biasanya Pak Ustad mau membagikan kain sarung kepada publik." celetuk warga yang lain sembari menyeruput kopi yang masih panas.

" Pak Ustad kita itu disegani para petinggi negeri ini karena sikapnya yang lurus dan tegas. Tidak neko-neko. Tapi kali ini kok bisa lemah kayak begitu ya. Ada apa ya," tanya seorang warga.

Azan Ashar berkumandang dengan sakralnya. Merelegiuskan semesta.

Senja itu, Pak Ustad tiba-tiba datang ke warung kopi yang terletak diujung kampung. Kedatangan Pak Ustad tentu menimbulkan sejuta tanya di hati para warga kampung yang menjadikan Warkop itu sebagai tempat untuk kongkow-kongkow sekaligus melepas lelah usai seharian membanting tulang.

Tiba-tiba Pak Ustad berbicara. Suasana warkop jadi hening. Mulut para pengunjung yang biasanya ramai dan menghingarbingarkan warkop kali ini membisu. Seakan terkunci dengan rapatnya. Senyap. Sementara di angkasa, kepakan sayap elang mengornamen langit nan biru.

" Saya menerima barang titipan berupa kain sarung dari Pak Besar. Dan kain-kain sarung itu sudah saya salurkan kepada yang berhak menerimanya sesuai amanah pemberinya. Tak ada pesan apapun untuk para penerima kain sarung itu," ujar Pak Ustad.

" Jadi ini tidak ada kaitannya dengan tahun politik, Pak Ustad," tanya seorang warga.

" Tidak ada sama sekali. Ini murni sedekah dari beliau. Tak ada kaitan dengan politik atau pilkada. Tak ada sama sekali. Makanya saya mau menyalurkannya kepada warga dan jemaah mushola kita. Ini murni sedekah dari seorang Hamba Allah yang kebetulan menjadi pemimpin. Beliau telah menjelaskannya kepada saya. Beliau hanya ingin bersedekah dan bersedekah. Bahkan sebenarnya beliau enggan orang tahu bahwa ini adalah sedekah dari beliau," jelas Pak Ustad.

Para warga yang berada di warkop hanya mengangguk-angguk. Ada sejuta kebahagian yang terpancar di wajah mereka. Sementara di langit yang biru, sekelompok elang bergerombol menari-nari diangkasa yang biru.  Mereka menarikan sebuah tarian jiwa. Ya, sebuah tarian jiwa sebagai ekspresi sebuah kebebasan.

Toboali, rabu malam, 3 Februari 2021

Salam dari Kota Toboali, Bangka Selatan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun