Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Di Kuburan Mana Seharusnya Kenangan Dimakamkan?

3 Desember 2019   11:06 Diperbarui: 3 Desember 2019   11:09 0 14 2 Mohon Tunggu...
Puisi | Di Kuburan Mana Seharusnya Kenangan Dimakamkan?
https://cdn.pixabay.com

Pada rintik hujan? Bukan! Kenangan lebih pekat daripada mendung yang melahirkannya. Hujan hanya membangkitkan, tapi tak akan mampu menguburkan. Sekalipun disertai badai taifun. Atau mendatangkan berduyun-duyun para pelanun. Kenangan akan tetap berdiri setegak berhala-berhala Fir'aun di zaman majnun.

Pada berjilid-jilid puisi? Nehi! Kenangan telah menciptakan majas sendiri yang tak ada dalam daftar gaya bahasa. Ia lebih garang dari hiperbola. Ia lebih jalang dibanding metafora. Pada ruang-ruang sempit kosakata, kenangan menjelma menjadi raksasa yang fasih meludahi rasa.

Pada kerumunan benak? Tidak! Kenangan lebih lihai menyusup ke pedalaman hati. Menyusuri setiap langkan secara hati-hati. Lalu meledak seperti gunung berapi. Membanjirkan lava melalui aorta. Kemudian menyala sepenuh bulatan retina.

Kuburan paling tepat untuk memakamkan kenangan terletak di celah antara awan, buku-buku, dan pikiran.

Pada awan, ia bisa melebur dalam gulungan duka. Diusung dalam keranda yang ditanggai bianglala. Lalu dimakamkan di pinggiran purnama. Menjadi spektrum redup cahaya.

Pada buku-buku, ia memaku dirinya pada bab-bab yang membelasah. Menjadi risalah sejarah. Hingga akhirnya beranjak punah.

Pada pikiran, ia berdiam di ruangan yang terkunci rapat dengan anak kunci yang telah dibuang sejauh-jauhnya. Kenangan akan terkubur lama. Hingga kelak akan tiba masa menagih janjinya.

Kutai, 3 Desember 2019



VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x