Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... Buruh - buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Itu Luka, Bukan Cinta

22 Desember 2018   23:08 Diperbarui: 22 Desember 2018   23:22 374
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber; pixabay.com

Di saat banyak pilihan mengemudikan mata, banyak kemungkinan menyetir isi kepala, lalu banyak kejadian menavigasi keputusan. Kau malah terpejam, mengosongkan pikiran, dan merotasi kesimpulan.

beginilah jika kau terlalu banyak membaca bagaimana cara menyortir pertimbangan ke dalam faksi kebimbangan.

Di saat yang lain, kau menemui keanehan fragmen hidup sejak pagi. Kopi yang tak manis lagi, sarapan yang terlewati, hingga keinginan menjerang matahari. Selanjutnya kau menjadi malas menyeduhkan gula, tak mau mengunyah rasa, dan menampik datangnya cahaya.

tak usah dikata lagi. Kau memang menyukai cara-cara tak lazim untuk menikmati apa saja yang kau sebut sebagai cara mencintai.

Bukan apa-apa. Kau harus tahu sesungguhnya mesti memilih apa.

Kalau tidak, kau akan terjebak dalam keraguan yang menumbuhkan onak.

Itu namanya menginginkan luka. Bukan menyempurnakan cinta.

Jakarta, 22 Desember 2018

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun