Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... Buruh - buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Reinkarnasi (Bab 20)

17 November 2018   09:43 Diperbarui: 17 November 2018   10:06 408
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sungoddess_by_aleah777

Saat malamlah Sin Liong menampakkan siapa dirinya yang sesungguhnya. Pemuda ini menutup toko kelontongnya selepas Isya dan menghilang di kegelapan. Apalagi yang dilakukannya kalau bukan memata-matai pesanggrahan Trah Maja yang kini telah dikelilingi tembok kukuh dengan penjaga berpatroli selama 24 jam.

Sin Liong hanya memantau perkembangan. Sampai saatnya tepat untuk mengajak Raja dan Citra yang sedang menikmati kehidupan petani mereka.

Sin Liong tidak tahu kapan. Dia hanya menunggu kabar dari Babah Liong. Menurut papanya, situasi semakin runyam. Banyak pihak yang melibatkan diri dengan serius. Tidak hanya Trah Maja dan Trah Pakuan yang sekarang saling intai. Tapi beberapa pihak lain juga. Dari negeri Cina bahkan! Begitu kata papanya.

----

Gian Carlo mengamati dengan teropongnya sambil bersembunyi di balik batu besar. Aktifitas di padepokan mewah itu cukup ramai. Beberapa mobil berjajar di halaman parkir. Termasuk mobil yang tadi dibuntutinya.

Hmm, 4 meter! Gian Carlo memperkirakan tinggi pagar yang mengelilingi padepokan. Orang Itali ini juga yakin, beberapa lapis kawat tipis yang melilit tembok sejak dari ketinggian 3 meter hingga penampang atasnya adalah kawat listrik tegangan tinggi. Gian Carlo mencoret kemungkinan menyusup melalui dinding tembok.

Beberapa penjaga nampak berjaga di gerbang depan. Lewat gerbang juga tidak mungkin. Gian Carlo terus menggerakkan binokulernya. Mencari celah terbaik sekaligus memetakan banyaknya kemungkinan.

Nah! Mungkin itu jalan satu-satunya! Teropong Gian Carlo berhenti pada puncak bukit tinggi agak jauh di belakang padepokan. Jika melihat ketinggian dan jaraknya, paragliding rasanya layak untuk dicoba. Saat malam tentu saja.

Hanya saja dia harus melumpuhkan penjaga di belakang yang standby di puncak sebuah menara. Dan itu harus dilakukannya sembari melayang di udara. Gian Carlo terus menulis di buku kecilnya. Rencananya harus matang. Kalau tidak, bisa-bisa dia hilang di tempat terpencil ini. Tanpa seorangpun tahu.

----

Hoa Lie dan Feng Siong meminta Kapten Sandro dan anak buahnya berdiam saja dalam mobil. Sambil memulihkan kondisi, mereka juga bisa memantau keadaan di luar. Berjaga-jaga. Siapa tahu orang-orang yang menyerang mereka tadi datang mengganggu. Kapten Sandro yang masih merasa lemas hanya menggangguk. Racun ini benar-benar menjengkelkan. Gerutu Kapten Sandro sambil menggenggam pistolnya erat-erat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun