Mohon tunggu...
Muhammad Fachri
Muhammad Fachri Mohon Tunggu... Freelancer - #OpenToWork

Mengisi waktu untuk menulis.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bersama Sejarah Kita Belajar Jatuh Cinta

21 September 2020   11:27 Diperbarui: 21 September 2020   11:45 587
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pernyataan Sikap PPSI/istimewa

Akhir-akhir ini media memberitakan mengenai rencana Kemendikbud menghapus mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran wajib dalam kurikulum SMA sederajat. 

Tentu berita ini membuat masyarakat menjadi resah, karena kita tahu bahwa pelajaran sejarah sudah menjadi wajib sejak Indonesia merdeka, atau sekurang-kurangnya sejak SD kita sudah belajar sejarah, menghargai sejarah, dengan tujuan semata-mata untuk menanamkan rasa cinta kepada bangsa, perjuangan, pahlawan, dan tanah air. Terkait berita yang beredar ini, Perkumpulan Program Studi Sejarah Se-Indonesia (PPSI) sudah menyatakan sikap untuk menolak terkait rencana penghapusan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran wajib dalam kurikulum SMA sederajat.

Pernyataan Sikap PPSI/istimewa
Pernyataan Sikap PPSI/istimewa
Namun, isu ini segera dibantah oleh Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui akun Instagram @kemdikbud.ri pada 20 September 2020, Nadiem menyatakan “Saya ingin mengklarifikasi beberapa hal, karena saya terkejut, betapa cepat informasi tidak benar menyebar tentang mata pelajaran sejarah. Saya ucapkan tidak ada sama sekali kebijakan, regulasi, atau rencana penghapusan mata pelajaran di kurikulum nasional”. Melalui pernyataan tersebut membuat keresahaan ini sedikit berkurang.

Klarifikasi Isu Mapel Sejarah melalui akun Instagram @kemdikbud.ri
Klarifikasi Isu Mapel Sejarah melalui akun Instagram @kemdikbud.ri
Berkaitan dengan hal itu, muncul pertanyaan satu-persatu.

“Kenapa kita perlu belajar sejarah?”

“Kenapa kita tidak boleh menghapus pelajaran sejarah?”

“Apa guna sejarah?”

“Apa yang dimaksud dengan sejarah?”

 Kuntowijoyo dalam Pengantar Ilmu Sejarah, mengatakan bahwa “orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya”. Sejarah itu berguna secara intrinsik dan ekstrinsik. Secara intrinsik sejarah berguna sebagai pengetahuan. Seandainya sejarah tidak ada gunanya secara ekstrinsik, yang berarti tidak ada sumbangan di luar dirinya, cukuplah dengan nilai-nilai intrinsiknya. Akan tetapi, disadari atau tidak, ternyata sejarah ada di mana-mana (Kuntowijoyo, 2013: 15).

Kuntowijoyo memaparkan setidaknya empat guna sejarah secara instrinsik, yaitu (1) sejarah sebagai ilmu, (2) sejarah sebagai cara mengetahui masa lampau, (3) sejarah sebagai penyataan pendapat, dan (4) sejarah sebagai profesi. Secara ekstrinsik, sejarah mempunyai fungsi pendidikan, yaitu sebagai pendidikan (1) moral, (2) penalaran, (3) politik, (4) kebijakan, (5) perubahan, (6) masa depan, (7) keindahan, dan (8) ilmu bantu. Selain sebagai pendidikan, sejarah juga berfungsi sebagai (9) latar belakang, (10) rujukan, dan (11) bukti (Kuntowijoyo, 2013: 15-20).

Penjelasan Kuntowijoyo di atas seharusnya sudah bisa dipahami bahwa sejarah berguna sebagai ilmu pengetahuan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun