Mohon tunggu...
ADRIANUS S.
ADRIANUS S. Mohon Tunggu... Guru - Pendidik

Mengolah mental menuju profesional

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Doa dan Perjuangan Sang Ayah

8 Juni 2020   15:51 Diperbarui: 8 Juni 2020   15:48 58
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

“ Oh, ya, ya! Kog ngga kelihatan ya, Yah?” Aku menimpali pertanyaan ayahku. Tiba-tiba muncul ikan-ikan yang dimaksud ayahku bersama segerombolan ikan yang berwarna hijau. Rasa cemas pun hilang. 

Segera ayahku membuka bungkusan yang dibawa dari rumah, dan menebarkan diantara ikan-ikan itu. Ikan-ikan itu nampak gembira menikmati makanan yang disebarkan oleh ayahku. Mereka saling berebut dan meloncat untuk mendapatkan makanan-makanan itu. Rasa puas nampak telihat dari omongan yang keluar dari mulut ayahku.  

Sambil melemparkan makanan ikan itu, ayahku menceritakan dari mana bibit ikan itu dibeli, berapa banyak dulu menyebarkan benih ikan itu, serta berapa harga uang yang dikeluarkan untuk membelinya. 

Rupanya, ayahku tahu apa yang aku inginkan. Setelah menebarkan dua genggam makanan ikan itu, langsung diberikan kepadaku. Aku pun mengikuti apa yang dilakukan ayahku, memberi makanan pada ikan-ikan itu.

Di sela-sela merawat padi dan ikan, ayahku masih menjadi buruh cangkul milik tetangga. Buruh cangkul adalah pekerjaan jasa mencangkukan tanah orang lain untuk mendapatkan upah. Demi pendidikan anak-anaknya, pekerjaan kasar dan berat itu ia tekuni dan lakoni dengan tulus. 

Jika ayahku mendapat kiriman makanan yang berlauk ikan, daging,  atau telur, ia sisihkan untuk dibawa pulang biar anak-anaknya mendapatkan gizi yang baik.  Ia berharap walaupun orang tuanya hanya lulus sekolah dasar dan bekerja kasar, ia tidak ingin anak-anaknya hidup seperti mereka. 

Bahkan demi anak-anaknya, ia rela hidup prihatin dengan rutin melaksanakan puasa mutih setiap neton (hari kelahiran) anak-anaknya. Doa yang ia lakukan tidak hanya dalam untaian kata, tetapi doa itu ia daraskan dalam setiap langkah perjuangan hidupnya ditengah ejekan tetangga kanan kiri, karena kemiskinan yang dialami.  

Pernah kudengar dengan telingaku sendiri, tetangga mengejek keluargaku karena memasak ikan tidak digoreng dulu karena tidak mampu membeli minyak goreng, tetepi langsung disayur. Ini menjadi topik yang sangat heboh di kampungku. Menjadi pembicaraan seluruh tetangga. Memang sedih rasanya diejek. Seolah-olah keluagaku adalah keluarga yang termiskin di kampungku.

Ibuku seorang pembuat tempe. Tidak banyak, hanya 3 atau 4 kilgram saja yang bisa dibuat karena dikerjakan sendiri. Mulai dari membeli kedelai, merebus, dan membungkus dengan daun pisang ia kerjakan sendiri. Pukul 05.30, Ibuku sudah berangkat ke pasar untuk menjual  tempe buatannya di pinggir trotoar depan pasar. Sekitar pukul 10.00, ibuku sudah pulang dari pasar untuk selanjutnya mengerjakan tugas hariannya membuat tempe.  

Sepulang sekolah aku membantu ibuku mencuci dan merebus kedelai. Kadang-kadang juga harus memetik daun pisang yang akan dipakai untuk membungkus tempe, jika tidak mendapatkan daun pisang di pasar karena langka. Mulai jam 5 sore, ibuku sudah mulai membungkus kedelai-kedelai yang sudah diberi ragi itu dengan daun pisang. 

Walaupun untungnya tidak banyak, tetapi ibuku mampu mengelola keuntungan itu dengan sangat baik. Ia bisa menggunakan keuntungannya untuk makan sekeluarga walaupun tidak kenyang. Rasa lapar masih sering kami rasakan, sedangkan makanan belum ada karena memang belum jam makan. Makanan kecil tidak pernah ada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun