Mohon tunggu...
Meidy Yafeth Tinangon
Meidy Yafeth Tinangon Mohon Tunggu... write and share for empowering, peace and justice

www.meidytinangon.com | www.info-pemilu-pilkada.online | www.pikir.net | www.globalwarming.web.id | www.minahasa.xyz | www.mimbar.online |

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Inspirasi Ketika Buku Itu Kuterima

1 Maret 2021   18:06 Diperbarui: 1 Maret 2021   18:36 107 24 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Inspirasi Ketika Buku Itu Kuterima
sampul buku "150 Kompasianer menulis Tjiptadinata Effendi" / dokpri

Inspirasi pagi hari ini adalah ketika menerima kiriman buku berjudul: "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi".

Kok inspirasi? Apa hubungannya menerima kiriman buku dengan inspirasi pagi? Kalau toh juga disebut inspirasi, apa inspirasi itu?

Begini, buku bagi saya memang adalah sumber inspirasi lewat pengetahuan yang kita baca. Tapi buku ini unik sekaligus spesial. Buku bunga rampai dengan 150 penulis yang menjadi kontributor tulisan. Jarang pemirsa. Jadilah inspirasi pertama adalah menghimpun tulisan fiksi di Kompasiana dalam sebuah buku.

Berikutnya, Buku ini adalah buku bunga rampai/kumpulan artikel yang sejatinya adalah memoribilia menyambut Wedding Anniversary Opa Tjiptadinata dan bunda Roselina Tjiptadinata. Siapa mereka?

Opa Tjip dan Bunda Rosa begitu saya biasa menyapa mereka adalah tokoh teladan literasi sejati khususnya di negeri Kompasiana, blog keroyokan terbesar se jagad raya.

Bagi kompasianer (sebutan untuk penulis di kompasiana.com) mereka berdua adalah penulis teladan. Sampai usia tua konsisten menulis setiap hari. Opa Tjip misalnya, dalam catatan pengantar mas Pepih Nugraha, telah menulis 5.000 artikel di Kompasiana dengan keterbacaan sekitar 5 juta. Wow!

Jadilah inspirasi kedua, menulis hingga tua dan hingga tak ada waktu dan kemampuan untuk menulis lagi.

Salah satu tujuan menulis bagi saya adalah untuk berbagi ide, kisah dan rasa. Tak peduli berapa orang yang menerima manfaat dari karya tulis kita. Yang penting menulislah.

Terakhir, saya mendapatkan kiriman buku edisi terbatas ini, karena saya turut menyumbang 1 artikel berjudul "Tjipta dan Rosa yang Membangkitkan Aku". Sebuah puisi atau karya fiksi yang berangkat dari perkenalan daring di negeri Kompasiana dengan dua sejoli literasi tersebut.

Fakta pertemuan itu, memang telah menjadi inspirasi hampir setahun yang lalu ketika pandemi C19 mulai merajalela. Opa Tjip dan Oma Rosa yang sudah lansia itu, masih konsisten menulis, apalagi kita?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN