Mohon tunggu...
Maylin Krey
Maylin Krey Mohon Tunggu... Dokter - Dokter Umum

Peserta didik Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Gizi Klinik FKUI - RSCM

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Mengatasi Kegemukan pada Anak di Masa Pandemi Covid-19

11 Desember 2021   10:06 Diperbarui: 11 Desember 2021   10:17 326 6 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Penyusun : dr. Maylin Krey / dr. Nurul Ratna, M.Gizi, SpGK, Departemen Ilmu Gizi FKUI RSCM

Sejak Maret 2020 pandemi COVID-19 dialami oleh banyak negara, hal ini menyebabkan  diberlakukannya kebijakan membatasi aktivitas masyarakat dalam rangka mengurangi penyebaran dan penularan COVID-19. Pandemi COVID-19 menyebabkan masalah serius pada kehidupan anak-anak karena terjadi penutupan sekolah dan penghentian mendadak program sekolah di sebagian besar negara. Anjuran pemerintah untuk tetap tinggal di rumah sangat memengaruhi perilaku makan, aktivitas, dan pola tidur anak termasuk kesehatan mental dan perkembangan psikologis anak.

Dampak dari pembatasan kegiatan menyebabkan obesitas pada masa anak-anak semakin meningkat, dan timbul kekhawatiran orang tua untuk mengatasi hal ini. Sebuah penelitian di Yordania yang dilakukan pada 477 anak-anak dan remaja berusia 6-17 tahun didapatkan hasil peningkatan berat badan yang signifikan sebelum dilakukan dan sesudah pemberlakuan lockdown. Lebih dari 50% subjek melaporkan bahwa mereka menghabiskan lebih dari 3 jam di depan layar dan mengalami peningkatan konsumsi makanan secara signifikan selama diberlakukannya kebijakan lockdown.

Selama pandemi COVID-19 pendidikan telah berubah secara dramatis dengan munculnya metode pembelajaran sekolah secara e-learning, yaitu pengajaran dilakukan dari jarak jauh menggunakan platform digital. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan menggunakan media elektronik untuk pendidikan maupun rekreasi dan memiliki lebih sedikit kesempatan untuk terlibat dalam aktivitas fisik. Menonton televisi, bermain game komputer menyebabkan meningkatnya waktu di depan layar, penurunan aktivitas fisik, asupan makanan tinggi kalori dan lemak, yang semuanya itu menyebabkan obesitas pada anak semakin meningkat. Anak-anak juga sering tidur larut malam untuk menonton TV atau bermain game, sehingga bangun tidur lebih siang. Hal ini tampak bahwa orang tua mengalami kesulitan mengatur jam tidur anak-anaknya. Pola tidur yang terganggu secara alamiah mengganggu pola makan yang berdampak pada kenaikan berat badan. Selama pandemi anak-anak cenderung untuk makan berlebihan karena kurangnya hiburan di rumah serta ketersediaan makanan yang konstan, yang menyebabkan anak-anak lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan makan dan bermain game.

Obesitas pada anak adalah suatu kondisi dimana berat badan anak sangat berlebih menurut usia dan tinggi badannya. Untuk usia di bawah 5 tahun, anak disebut obesitas bila berat badan menurut tinggi badan dan indeks massa tubuh (IMT) menurut usia berada di atas +3 standar deviasi sesuai kurva WHO 2006. Sedangkan pada anak usia di atas 5 tahun, bila  IMT menurut usia di atas persentil 95 kurva CDC 2000.

Obesitas pada anak adalah salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang berkembang pesat di semua negara maju, berkembang, dan bahkan negara berpenghasilan rendah. Anak obesitas nantinya lebih berisiko untuk terkena penyakit degeneratif seperti diabetes, darah tinggi, stroke, kanker, radang sendi, masalah pernapasan, gangguan pencernaan, pubertas dini, dan masalah psikososial, berupa depresi, kecemasan, kepercayaan diri rendah, dan isolasi sosial. Melibatkan orang tua dalam strategi pengelolaan berat badan anak-anak adalah tindakan terbaik untuk pengelolaan obesitas, karena kebiasaan sehat pada anak dimulai dan dikembangkan mulai dari rumah. Orang tua secara langsung memengaruhi lingkungan sosial dan fisik anak-anak dan secara tidak langsung memengaruhi perilaku, kebiasaan, dan sikap melalui proses sosialisasi karena orang tua adalah model bagi anak. Persepsi efek ini dapat membantu dalam pencegahan dan pengobatan obesitas.

Prinsip penatalaksaan obesitas pada anak berdasarkan panduan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) adalah menerapkan pola makan, aktivitas fisik yang benar, dan modifikasi perilaku. Dalam hal ini orang tua adalah sebagai panutan. Tatalaksana obesitas disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Pola makan dan aktivitas fisis yang sehat dapat diterapkan jangka panjang untuk mempertahankan berat badan tanpa menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.

Jenis aktivitas fisik yang dapat diterapkan pada anak dengan obesitas berupa olahraga aerobik, penguatan otot dan tulang. Durasi latihan fisik yang disarankan adalah aktivitas fisik sedang  selama 20 sampai 30 menit setiap hari dan berbagai modifikasi aktivitas lainnya, berupa:

Anak obesitas cenderung menggemari makanan atau minuman yang mengandung tinggi kalori, berlemak, dan manis. Kebiasaan ini sebaiknya diganti dengan memperbanyak konsumsi makanan yang kandungan kalorinya lebih rendah, misalnya lauk hewani tanpa lemak, mengolah makanan tanpa digoreng, mengurangi makanan selingan berlemak dan manis, tetap mengenalkan aneka sayur dan buah setiap hari, dan minum air putih yang cukup sesuai kebutuhan.

Prinsip pengaturan makan pada anak dengan obesitas harus sesuai dengan kebutuhan dan usia, karena pada masa anak-anak masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pola makan harus terjadwal dengan teratur berupa makan besar tiga kali sehari dan selingan hingga dua kali sehari, serta diberikan minum air putih di antara waktu makan. Waktu makan pada anak dibatasi selama 30 menit setiap kali makan. Perlu diperhatikan juga lingkungan yang netral dengan cara tidak memaksa anak untuk mengonsumsi makanan tertentu dan jumlah makanan ditentukan oleh anak.

Pemberian selingan untuk anak dengan obesitas dapat dipilihkan selingan yang sehat dan dapat mempertahankan rasa kenyang pada anak. Dapat dipilihkan selingan seperti buah potong, bubur kacang hijau, puding susu atau susu rendah lemak. Selain itu dapat pula menerapkan panduan makanan traffic light diet, meliputi green food yaitu makanan yang dapat dikonsumsi setiap hari, mengandung tinggi vitamin, mineral dan serat namun rendah lemak, gula dan garam. Contoh makanan yang termasuk dalam green food yaitu buah, sayur, ikan, daging tanpa lemak, kacang-kacangan, roti gandum dan susu rendah lemak. Yellow food yaitu makanan yang boleh dikonsumsi dalam porsi kecil, tetapi tidak dianjurkan untuk dimakan setiap hari, contohnya daging olahan rendah lemak dan garam, produk roti dan sereal olahan, susu tinggi lemak, kue dan biskuir rendah lemak dan gula. Sedangkan red food adalah makanan yang boleh dikonsumsi sebanyak 1 kali dalam seminggu atau tidak dikonsumsi sama sekali karena mengandung tinggi kalori, lemak jenuh, gula dan garam dan rendah vitamin dan mineral, contohnya gorengan, daging olahan tinggi lemak, kue, minuman manis dan coklat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kesehatan Selengkapnya
Lihat Kesehatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan