Mawan Sidarta
Mawan Sidarta wiraswasta, Lulusan S1-Agronomi UNEJ

Bukan reporter sembarang reporter tapi reporter Kompasianadotcom. Traveler berwarna. Sudah menikah punya satu anak. Sekarang usaha kecil-kecilan di rumah. Bravo Kompasiana https://www.instagram.com/mawansidarta https://www.facebook.com/mawan.sidarta https://twitter.com/MawanSidarta1

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

"Wedang Tape", Minuman "Ndesani" tapi Kaya Manfaat

27 September 2018   20:11 Diperbarui: 28 September 2018   12:49 1611 5 7
"Wedang Tape", Minuman "Ndesani" tapi Kaya Manfaat
Secangkir wedang tape singkong (dok.pri)

Di tengah semakin maraknya makanan (jajanan) dan minuman modern yang nota bene asal muasalnya dari negara lain itu tak pelak menjadikan makanan dan minuman asli daerah (tradisional) semakin dilupakan dan dianggap kurang kekinian oleh sebagian masyarakat khususnya oleh kaum millenial.

Meski tidak tahu persis berapa angka pastinya alias pukul rata, namun saya berkeyakinan kalau masyarakat sekarang lebih menaruh perhatian kepada soft drink, es kepal, es krim, burger, hotdog, fried chicken serta makanan dan minuman modern lainnya ketimbang minuman tradisional seperti wedang yang terkesan kuno dan ndesani itu.

Apa itu wedang?

Wedang merupakan istilah dalam Bahasa Jawa untuk menyebut minuman yang dibuat dari bahan-bahan seperti  bubuk kopi, daun teh kering, rimpang jahe juga tape singkong yang dipadukan dengan gula tebu (gula pasir atau gula batu) atau bisa juga dengan tambahan gula merah (gula Jawa) yang kemudian diseduh dengan air panas atau hangat (1).  

Seperti namanya, minuman wedang terdiri dari beberapa macam di antaranya : wedang jahe, wedang kopi, wedang susu, wedang teh dan wedang tape (singkong).

Sebagian masyarakat kita juga menambahkan beberapa jenis rempah tertentu ke dalam minuman wedang yang telah dibuatnya agar lebih berkhasiat dan rasanyapun menjadi lebih nikmat seperti kapulaga, cengkeh dan kayu secang.

Kalau wedang kopi, wedang jahe juga wedang susu mungkin masih banyak kita temukan di warung-warung kecil atau lapak sederhana yang berdiri di pinggir jalan, kampung atau sudut desa. 

Namun wedang tape dalam hal ini tape yang dibuat dari singkong (ketela pohon) sepertinya jarang terdengar orang menjualnya di warung atau lapak. Paling wedang tape singkong itu hanya dibuat untuk dinikmati sendiri bersama anggota keluarga di rumah. 

Pembuatan tape singkong sangatlah mudah dan bisa dilakukan sendiri di rumah dengan menaburkan ragi secara merata di bagian permukaan singkong yang sudah direbus (dikukus) hingga matang (2). 

Selain dari nama varietasnya, untuk mudahnya kita biasanya mengenal singkong dari warnanya, yakni singkong putih dan yang berwarna kuning. 

Singkong berwarna kuning dan bertekstur empuk (Jawa = medhuk) banyak dipilih orang untuk pembuatan tape.

Tape singkong yang sudah siap untuk dikonsumsi, bisa diolah lagi untuk beberapa jenis jajanan lainnya seperti gimbal (gorengan) tape (Jawa = godho tape), dodol tape (Jember = suwar-suwir), isi es campur dan wedang tape.

Meski hanya terbuat dari singkong namun tape memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh kita (3).

Tape yang dibuat dari bahan ketan khususnya ketan hitam banyak dimanfaatkan orang untuk penganan di kawasan berhawa dingin karena menghangatkan badan terutama bagian perut. Kalau di Jawa Timur bisa kita temukan di daerah objek wisata alam Coban Rondo (Malang) dan kawasan Pacet, Mojokerto. 

Setelah melalui proses fermentasi sedemikian rupa, air tape ketan hitam dimanfaatkan orang untuk minuman keras (Jawa = badhek) dengan kandungan alkohol yang memabukkan.

Cara mudah membuat Wedang Tape Singkong 

Potongan tape singkong dan gula merah (dok.pri)
Potongan tape singkong dan gula merah (dok.pri)
Wedang tape singkong sepertinya menjadi minuman bersahaja namun sangat asyik dinikmati saat santai bersama keluarga sambil menikmati acara televisi apalagi ketika memasuki suasana dingin musim hujan.

Untuk diketahui, beberapa daerah di Jawa Timur dikenal sebagai penghasil tape singkong yaitu Kota Bondowoso, Situbondo, Jember, Probolinggo. Bondowoso sendiri sangat kesohor dengan tapenya yang khas dan manis sehingga dijuluki kota tape.

Bagi masyarakat Sunda (Bandung dan sekitarnya) tape dikenal dengan istilah peuyeum

Yang unik pada peuyeum ialah singkong tidak dipotong kecil-kecil seperti pada tape singkong Bondowoso yang ditempatkan dalam wadah anyaman bambu (Jawa = besek) atau tape singkong biasa yang sering kita temukan di pasar-pasar melainkan dibiarkan memanjang dan digantung pada lapak atau warung (4).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2