Mawan Sidarta
Mawan Sidarta wiraswasta, Lulusan S1-Agronomi UNEJ

Bukan reporter sembarang reporter tapi reporter Kompasianadotcom. Traveler berwarna. Sudah menikah punya satu anak. Sekarang usaha kecil-kecilan di rumah. Bravo Kompasiana https://www.instagram.com/mawansidarta https://www.facebook.com/mawan.sidarta https://twitter.com/MawanSidarta1

Selanjutnya

Tutup

Jalan Jalan

"Masjid Tiban" Dibangun Sunan Ampel dalam Semalam

14 Juni 2013   10:35 Diperbarui: 24 Juni 2015   12:02 248 1 8
"Masjid Tiban" Dibangun Sunan Ampel dalam Semalam
13711781741690056988

[caption id="attachment_267703" align="aligncenter" width="400" caption="Masjid Rahmat di Kembang Kuning Surabaya"][/caption] Sejarah penyebaran Islam di Surabaya masih menyisahkan bekas. Terutama peran serta Raden Rahmad atau yang dikenal dengan nama Sunan Ampel. Salah satu dari sembilan wali ini memiliki banyak napak tilas di Surabaya. Salah satunya adalah Masjid Rahmat di kawasan Jalan Kembang Kuning, Surabaya. Tidak banyak yang tahu, bahwa cikal bakal Masjid Rahmat yang megah ini ternyata dulunya adalah sebuah pondok kecil menyerupai Musholla yang terbuat dari bambu. Sebelum mendirikan Masjid Ampel Surabaya, Raden Rahmat diketahui pernah mendirikan sebuah Langgar kecil atau Musolla di Kawasan Kembang Kuning Surabaya. Langgar tersebut saat ini telah berubah menjadi bangunan masjid besar yang dikenal dengan nama Masjid Rahmat Surabaya. Langgar kecil itu dibangun oleh Raden Rahmat ketika Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Prabu Brawijaya V. Langgar yang dibangunnya kala itu dijadikan sebagai pusat syiar Islam di kawasan Kembang Kuning. Bisa dikatakan, langgar Rahmat inilah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Ampel. Dari tahun ke tahun Langgar Rahmat yang dulu terbuat dari bilik bambu ternyata mengalami pemugaran dan dijadikan masjid. Masjid kecil berdiri sekitar tahun 1950 an sedangkan bangunan yang ada saat ini dibangun di tahun 1963 dan berdiri hingga sekarang. Masjid Rahmat Kembang Kuning yang merupakan masjid tertua memiliki keunikan atau ciri khas yang tidak dimiliki oleh masjid lain. Masjid Rahmat memiliki kiblat atau arah sholat yang langsung tepat dengan Masjidil Haram atau tepat menuju ka’bah Mekkah Arab Saudi. Dulu waktu ada polemik penentuan arah kiblat di Masjid Rahmat Kembang Kuning, tiba – tiba terjadi pergeseran di tempat pengimaman dan kemudian sempat dilakukan pengukuran. Dari pengukuran yang dilakukan, tim dari pemerintah sempat heran, karena mihrab masjid pas dengan Mekkah, tidak ada pergeseran sama sekali. Tidak hanya pengukuran yang dilakukan pemerintah yang mengherankan. Ketika mihrab masjid dilakukan pengukuran dengan teknologi yang lebih canggihpun, pergeseran juga tidak terlihat pada masjid peninggalan salah satu anggota Wali Songo ini. Masjid yang didirikan oleh Sunan Ampel (Raden Ahmat Rahmatullah) itu, selain arah kiblat yang lurus sejajar dengan Ka’bah. Masjid Rahmat juga menjadi patokan waktu shalat bagi masjid-masjid lain di Surabaya dan sekitarnya.

[caption id="attachment_267705" align="aligncenter" width="400" caption="Sisi lain Masjid Rahmat"]

13711783441789750847
13711783441789750847
[/caption] Masjid Rahmat Kembang Kuning memang punya sejarah yang tertaut erat dengan misi dakwah dan kebesaran nama Sunan Ampel. Menurut Kitab Pengging Teracah, Raja Brawijaya, penguasa Majapahit memberikanwilayah kepada Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di bagian utara tanah kekuasaan Majapahit. Dalam Perjalanan menyebarkan agama Islam di wilayah utara, Sunan Ampel disertai beberapa pengikut, diantaranya ada pengikut setianya bernama Ki Wirosaroyo. Ki Wirosaroyo sebelumnya beragama Hindu.

[caption id="attachment_267710" align="aligncenter" width="400" caption="Pusara Mbah Karimah dan Ki Wirosaroyo"]

13711793611600124191
13711793611600124191
[/caption] Kebetulan beliau punya anak gadis bernama Karimah Dari hasil pemikahan ini, pasangan tersebut dikaruniai dua orang putri, yakni Siti Mustosima dan Siti  Murtosiah. Yang kemudian dipersunting Sunan Ampel. Lalu dua putri Sunan Ampel ini, Siti Mustosima atau Dewi Mursimah, menikah dengan Sunan Kalijaga, sedangkan Siti Murtosiah atau juga disebut Dewi Murtasiah menikah dengan Sunan Giri. Sesampai di Surabaya di Kademangan Cemoro Sewu, Sunan Ampel lebih dulu membangun tempat ibadah. Tempat ibadah yang didirikan Sunan Ampel bersama Ki Wirosaroyo ini, berbentuk musholla kecil. Konon langgar atau musholla ini dibangun hanya butuh waktu semalam dan di kawasan sekitar bangunan musholla banyak tumbuh bunga berwarna kuning.

[caption id="attachment_267708" align="aligncenter" width="400" caption="Gerbang masuk makam Mbah Karimah dan Ki Wirosaroyo di Kawasan Kembang Kuning Surabaya"]

1371179224663627797
1371179224663627797
[/caption] Sehingga pada pagi harinya masyarakat sangat terkejut dengan keberadaan musholla tersebut. Maka masyarakat sekitar kemudian menyebutnya Langgar Tiban (Langgar Kembang Kuning) Musholla ini sudah direnovasi total menjadi Masjid Rahmat. Renovasi total dimaksudkan karena takut akan adanya pengkultusan yang dikhawatirkan akan menjurus pada perbuatan sirik.

[caption id="attachment_267712" align="aligncenter" width="400" caption="Masjid Agung Sunan Ampel yang didirikan Sunan Ampel setelah langgar Kembang Kuning"]

13711794811145725576
13711794811145725576
[/caption] Setelah itu, Sunan Ampel melanjutkan perjalanan menyebarkan Agama Islam di wilayah Surabaya Utara. Sempat pula membangun tempat ibadah di Kampung Penilih Surabaya. Setelah itu kemudian membangun masjid di Ampel Dento yang dikenal dengan nama Masjid Ampel seperti sekarang ini. Bagi Anda atau traveler yang ingin mengunjungi masjid ini bila menggunakan kendaraan umum dari terminal bus antar kota Purabaya, Bungurasih. Anda bisa naik bus kota jurusan Blauran atau Tugu Pahlawan. Atau bila dari Terminal Joyoboyo, Anda bisa naik angkot lyn D jurusan Pasar Turi. Bus dan angkot tersebut akan melewati Jalan Diponegoro Surabaya. Dari Jalan Raya Diponegoro lokasi Masjid Rahmat berjarak kira-kira 200 meteran. Sedangkan makam Karimah dan Ki Wirosaroyo berada di kawasan Kembang Kuning yang tidak jauh dari Masjid Rahmat Kembang Kuning Surabaya.