Mohon tunggu...
Maulida setiani
Maulida setiani Mohon Tunggu... imel

mahasiswa :)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Psikologi Anak Terganggu akibat "Broken Home"

18 September 2019   10:01 Diperbarui: 18 September 2019   10:11 0 2 0 Mohon Tunggu...
Psikologi Anak Terganggu akibat "Broken Home"
(Foto: Okezone/Blackristianews)

Beberapa dari kalian pasti sudah tidak asing dengan kata "Broken Home". Sebenarnya apa sih itu broken home? Kenapa di dunia ini selalu ada broken home? Padahal banyak dari mereka yang broken home sebenarnya menginginkan hidup dengan keluarga yang bahagia.

Broken home atau keluarga tak utuh adalah kondisi dimana keluarga mengalami perpecahan atau adanya cekcok pertengkaran, perselingkuhan, sakit hati dan sebagainya. 

Pada kejadian broken home yang menjadi korban pertama adalah anak. Broken home dapat berpengaruh pada batin dan psikologi anak. Anak bisa memiliki trauma yang sangat fatal pada waktu itu juga atau pada waktu mendatang.

Anak akan merasa dunianya seakan runtuh karena kurangnya kasih sayang dan cinta dari orang tua. Seperti yang terjadi pada diri saya sendiri. Mungkin orang orang diluar sana akan mengira keluarga saya baik baik saja. Karena saya selalu berusaha ceria setiap harinya.

Namun siapa sangka orang yang berusaha ceria ini sedang menutupi kesedihannya dengan tersenyum ini, sudah mengalami broken home.

Berawal dari umur saya yang masih 5 tahun, saya sudah melihat pertengkaran orang tua saya. Ayah saya selingkuh pada saat saja masih belum lahir. Namun masalah perselingkuhan ini diungkit hingga saya masuk SMA dengan topik yang sama.

Waktu saya kecil saya sempat menyalahkan ibu saya yang selalu mengungkit masalah itu padahal kejasiannya pun sudah sangat lama. Namun setelah saya mengerti apa itu perselingkuhan dan tentang sakit hati, setiap ada pertengkaran saya sudah berubah haluan menyalahkan ayah saya.

Puncaknya pada malam itu, ibu saya kembali mengungkit kejadian perselingkuhan ayah tanpa sebab yang jelas pada saat saya sedang belajar. Karena kesal dengan pertengkaran tersebut akhirnya saya membanting pintu kamar dan menguncinya hingga esok pagi.

Paginya saya berpamitan kepada ibu dan ayah saya seperti biasa. Siangnya saya mendapat telfon dengan kabar bahwa ibu saya masuk rumah sakit. Beliau stroke dan mengalami koma selama  dua minggu dan pada hari ke 14 ibu saya meninggal.

Pada saat itu saya tidak bisa menjelaskan bagaimana bentuk kesedihan saya. Beberapa hari berikutnya, ayah memberi kabar bahwa beliau akan menikah lagi. Saya dan saudara-saudara saya tidak setuju.

Ketika saya sudah memohon-mohon bahkan sampai menangis, namun beliau tidak menghiraukan. Seketika itu hati saya kembali hancur dan dunia saya runtuh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x