Mohon tunggu...
Herman Wijaya
Herman Wijaya Mohon Tunggu... profesional -

Penulis Lepas.

Selanjutnya

Tutup

Hukum Artikel Utama

Paradoks Tjoet Nya Dhien dan Ratna Sarumpaet

5 Oktober 2018   16:49 Diperbarui: 6 Oktober 2018   00:14 4694
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Di tengah hutan, di bawah guyuran hujan deras, Tjoet Nya' Dhien duduk bersimpuh di atas tanah. Kerudung dan pakaiannya basah kuyup. Mulutnya terus bergumam, menyebut asma Allah, menangis, menyesali nasib Pang Laot yang mati ditembak marsose.

Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Veltman menatap Tjoet Nya' Dhien dari jarak sekitar 5 meter. Mereka ingin menangkap Tjoet Nya' Dhien. Tetapi tidak segera dilakukan. Mereka seperti terkesima, mungkin juga kasihan melihat sosok Tjoet Nya' Dhien. Ada rasa hormat terhadap pejuang wanita yang sudah mulai tua itu. Kapten Veltman membuka topinya sebagai tanda hormat.

Tjoet Nya' Dhien yang terus bergumam menyebut nama Pang Laot. Tubuhnya menggigil menahan dingin.

Kapten Veltman mendekatinya lalu jongkok di samping Tjoet Nya' Dhien. Dengan nada tertahan dia berkata, "Maafkan saya datang sebagai prajurit...saya Kapiten Veltman.....saya diperintahkan dan berkewajiban menjalankan ini.....maafkan saya...maafkan....saya ditugaskan membawa Anda...."

Tjoet Nya' Dhien bergeming, ia tak sudi mendengarkan suara musuh yang paling dibencinya, kaphe-kaphe (kafir). Veltman menyadari hal itu. Dia lalu meminta Teuku Leubeh untuk membujuk Tjoet Nya' Dhien.

Teuku Leubeh menjalankan tugasnya. Ia membujuk Tjoet Nya' Dhien, meminta Tjoet Nya' Dhien mengikuti permintaan kaphe-kaphe untuk menyerah. Tjoet Nya' Dhien dijanjikan akan dirawat dengan baik.

Tjoet Nyak Dhien tidak menjawab. Tiba-tiba ia meraung, menerjang Teuku Leubeh, menikam lelaki itu dengan rencong sambil berteriak, "Bikin malu kaum!"

Teuku Leubeh roboh meregang nyawa, para serdadu anak buah Kapten Vieltman siap menembaknya, tapi dilarang oleh sang komandan.

"Jangan ditembak, bawa dia! Perlakukan dengan baik!" kata Velman kepada anak buahnya. Tjoet Nya Dhien lalu ditandu, di bawah ke luar hutan.

Itulah hari terakhir Tjoet Nya Dhien dalam perlawanannya melawan Belanda yang digambarkan dalam film Tjoet Nya' Dhien karya Eros Djarot (1988). Sebuah adegan paling mengesankan dari film terbaik yang pernah dibuat di Indonesia.

Film ini drama epos biografi itu memenangkan Piala Citra sebagai film terbaik dalam Festival Film Indonesia 1988. Film ini dibintangi Christine Hakim sebagai Tjoet Nja' Dhien, Piet Burnama sebagai Panglima Laot, Slamet Rahardjo (kakak Eros Djarot) sebagai Teuku Umar, dan Rudy Wowor.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hukum Selengkapnya
Lihat Hukum Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun