Mohon tunggu...
MJK Riau
MJK Riau Mohon Tunggu... Pangsiunan

Lahir di Jogja, Merantau di Riau

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Sedekah

13 Desember 2019   13:14 Diperbarui: 13 Desember 2019   13:15 18 0 0 Mohon Tunggu...
Sedekah
sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Karna

sebelumnya

Sedekah

Karna berjalan terhuyung-huyung menuju istana Awangga. Gamang hati Karna jika sampai di istananya, harus berjumpa dengan istri tercinta, Dewi Surtikanti. Perseteruan Karna dengan Prabu Salya, yang nota bene adalah ayah Dewi Surtikanti, menjadi salah satu alasan Karna gamang pulang ke istana Awangga.

Namun di luar itu, masalah Karna yang ternyata merupakan anak Sulung Dewi Kunti, membuat hati Karna terbelah. Kenyataan Karna menjadi Sulung Pandawa, menjadikan situasi sulit, yang harus dihadapi Karna. Di satu sisi, Karna diminta Dewi Kunti untuk dapat menumbuhkan sense of belonging keluarga Pandawa. Sebagai kakak Sulung Pandawa,  Karna diminta ikut merasa memiliki, Melu Handarbeni, Pandawa, bahkan Karna dipandang harus ikut membela, Melu Hangrungkepi, Pandawa. Sementara Karna merasa sudah terikat Janji untuk membela Duryudana, apa pun alasannya. Karna merasa tidak sanggup menceritakan masalah besar yang dihadapinya kepada Dewi Surtikanti.

Akhirnya Karna hanya merebahkan diri di pangkuan Dewi Surtikanti. Karna merasa lega, jika sudah berdua bersama Dewi Surtikanti. Kemesraan hidup bersama Dewi Surtikanti, sesaat dapat membuat Karna melupakan segala masalah yang dihadapinya. Begitulah Allah Subhana wa Ta'ala, menciptakan hidup manusia berpasang-pasangan, untuk saling melengkapi.

Namun Karna sadar bahwa masalah besar yang dihadapinya tetap harus diselesaikan. Karna kemudian ingat nasehat Kresna, supaya Karna, Mulat Sariro Hangroso Wani, mawas diri, repositioning, Muhasabah, melihat situasi kondisi yang terjadi dan mengambil keputusan berdasarkan Opportunity Cost, untuk melangkah ke depan.

Akhirnya Karna mengambil keputusan untuk melakukan manuver. Karna akan menjalani hidup sedekah, untuk menutup kesalahan kesalahan yang telah dilakukannya serta untuk mendapat jalan terbaik dalam meniti hidup menuju Sangkan Paraning Dumadi. Mau tidak mau, Karna kemudian berterus terang kepada Dewi Surtikanti, karena akan menjalani kehidupan yang ke luar dari jalur yang selama ini dijalaninya, sebagai Raja Awangga. Karna akan menjalani hidup sedekah, dengan jalan akan memberikan segala sesuatu yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkan, siapa pun orangnya, di mana pun tempatnya, kapan pun saatnya.

"Duh istriku Dewi Surtikanti yang tercinta. Relakan suamiku, Karna ini, akan menjalani laku, tapa sedekah." seru Karna, setelah menjelaskan panjang lebar mengenai permasalahan yang Karna hadapi.

"Duh, Kanda Karna, suamiku tercinta. Sungguh berat, pedih perih, rasa hati Surtikanti  sebagai istri, kalau harus melepaskan Kanda untuk menjalani laku tapa sedekah. Namun Surtikanti paham, kalau masalah yang Kanda Karna hadapi lebih besar dan berat dari pada, yang Surtikanti rasakan.  

Kanda Karna, berangkatlah dengan dada lapang. Surtikanti istrimu rela melepaskan Kanda Karna .. " jawab Surtikanti.

~~

Dalam perjalanan Karna menjalani laku sedekah, sampailah Karna di bukit bukit pasir pantai Parangtritis. Pada saat matahari mulai menurun menuju ufuk Barat, tiba-tiba ada muncul Dewa Matahari di hadapan Karna.

"Hey, Karna anakku. Hati-hati lah. Tidak lama lagi nanti Dewa Bulan akan mendatangimu. Dewa Bulan akan meminta baju pelindung pemberianku, yang kau miliki." seru Dewa Matahari.

Karna hanya memandang sesaat kepada Dewa Matahari. Dalam hati Karna, berpikir, rupanya punya rasa khawatir juga Dewa Matahari kepadaku. Namun itu hanya dilakukan Karna sesaat. Tanpa menjawab sapaan Dewa Matahari, Karna melanjutkan langkahnya.

"Hey, Karna.

Tahukah kamu Dewa Bulan itu siapa. Dewa Bulan adalah bapak Arjuna. Dewa Bulan begitu sayang kepada Arjuna. Dewa Bulan akan berusaha dengan segala cara bahkan kalau perlu dengan cara cara yang tercela, untuk mendapatkan baju sakti yang kau miliki.

Tanpa baju sakti itu, kau, Karna bukan lagi Satria Tanpa Tanding lagi di muka bumi. Mengertikah Karna!" seru Dewa Matahari.

Sebagai sesama Dewa, Dewa Matahari sadar akan kepandaian Dewa Bulan merayu manusia dengan segala kekuatan pesona Purnamanya.

Namun sebagai sesama Dewa, mereka tidak boleh saling mengganggu misi masing-masing, apalagi menghalangi. Walaupun yang akan menjadi target Dewa Bulan saat ini adalah Karna, anaknya. Karna anak Dewa Matahari. Dewa Matahari hanya boleh memberi informasi tetapi tidak boleh menghalangi.

Karna yang sudah bulat tekadnya, ingin menjalani laku sedekah, tidak mau menghiraukan lagi informasi yang diberikan Dewa Matahari. Karna melanjutkan langkahnya, menyusuri pantai Parangtritis.

Di tempat yang agak sepi, begitu malam menjelang, Karna berjumpa dengan seorang Pendeta tua renta. Tanpa basa basi, pendeta tua renta itu menyapa Karna:

"Ksatria.

Dapatkah dirimu menolong diriku seorang Pendeta, yang sudah tua renta ini ?"

"Bapak Pendeta, apakah gerangan yang dapat Karna berikan untuk dapat menolongmu, Pendeta ?" jawab Karna.

"Aku kedinginan di pantai berpasir ini. Maukah Ksatria memberikan baju yang paking berharga, yang kau miliki, supaya badanku, terhindar dari angin dan parit yang mengganggu ini." seru Pendeta tua renta itu.

Sesaat Karna termangu mendengar permintaan Pendeta tua renta itu. Apakah ini Dewa Bulan yang sedang menyamar sebagai Pendeta tua renta, untuk meminta baju saktiku, pikir Karna. Betul juga peringatan Dewa Matahari, Dewa Bulan akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan baju sakti Karna. Walau pun dengan cara tercela, Dewa Bulan akan melakukannya, termasuk dengan menyamar sebagai Pendeta tua renta ini, pikir Karna.

"Bagaimana Karna, bukankah kamu tadi mengatakan namamu, Karna.

Dapatkah kau berikan baju yang paling kau sayangi kepadaku!" agak mengeras suara Pendeta tua renta itu.

Sepertinya Pendeta tua renta itu sudah mulai kurang sabar, melihat Karna hanya termangu.

Namun tanpa pikir panjang lagi, Karna lalu merobek baju sakti yang melekat di tubuhnya, kemudian dengan segera diberikannya kepada Pendeta tua renta itu. Karna sudah mengambil keputusan akan menjalani laku sedekah, sehingga memenuhi permintaan Pendeta tua renta itu, Karna anggap sebagai jalan menuju Sangkan Paraning Dumadi. Toh dulu waktu lahir ke bumi, Karna juga tidak memiliki apa apa.

Tercekat hati Pendeta tua renta itu, melihat Karna memberikan baju saktinya. Dengan cepat diambilnya baju sakti Karna. Namun setelah itu, Pendeta tua renta itu menghilang dan kembali kepada wujud aslinya, sebagai Dewa Indra, Sang Dewa Bulan.

"Hey, Karna. Kau sungguh ksatria berbudi, setia pada janji. Begitu ingin menjalani laku sedekah, permintaan apa pun kepadamu, kau beri.

Tapi tahukah Karna, aku adalah Dewa Indra, yang tidak ingin melihat Arjuna kalah saat perang melawanmu, Karna.

Dengan baju sakti yang telah kau berikan kepadaku, maka kau bukan lagi merupakan Ksatria tanpa tanding lagi di muka bumi. " seru Dewa Indra.

Karna diam membisu. Tekad Karna sudah bulat, menjalani laku sedekah, untuk menuju jalan kepada Sangkan Paraning Dumadi. Apa pun resiko yang harus dijalani.

"Hey, Karna.

Sebagai balas jasa atas budi yang kau berikan kepadaku.
Terimalah senjata Konta milikku. Senjata yang paling sakti di dunia. Tidak akan ada musuh yang mampu selamat dari senjata Konta.

Tapi ingat, senjata Konta, hanya dapat digunakan sekali saja!" seru Dewa Indra.

Karna menerima senjata Konta yang diberikan Dewa Indra, lalu tanpa banyak bicara, Karna melanjutkan perjalannya.

Karna sadar bahwa Duryudana pasti akan khawatir, jika Karna tidak segera menemuinya. Walau pun Karna sadar, dirinya saat ini, bukan lagi Ksatria Tanpa Tanding di muka bumi. Tidak seperti yang lain lain, Karna beranggapan, harus memenuhi janji.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x