Mohon tunggu...
Masfik Seven
Masfik Seven Mohon Tunggu... Pegiat Literasi

Bismillah! Lillah!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Nilai Diplomasi Islam Dibalik Peristiwa Isra' dan Mi'raj

2 November 2019   07:51 Diperbarui: 2 November 2019   23:34 125 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nilai Diplomasi Islam Dibalik Peristiwa Isra' dan Mi'raj
isra-mi-raj-5dbcd3b4d541df629f06b2a2.jpg

Kisah ini bermula ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam mendapat perintah dari Allah Subhanahu wa Ta'aalaa untuk melakukan isra' mi'raj. Yaitu perjalanan dari Mekkah ke Masjidil Aqsha (Isra') dan dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha (Mi'raj). Setelah melakukan Isra', beliau disambut Malaikat Jibril di Masjidil Aqsha dan kemudian melanjutkan mi'raj melewati tujuh lapis langit menuju ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan Mi'raj, beliau bertemu dengan nabi-nabi terdahulu. Di langit tingkat pertama ada Nabi Adam 'Alaihi Salam, langit kedua ada Nabi Isa dan Yahya 'Alaihuma Salam, langit ketiga ada Nabi Yusuf 'Alaihi Salam, langit keempat ada Nabi Idris 'Alaihi Salam, langit kelima ada Nabi Harun 'Alaihi Salam, langit keenam ada Nabi Musa 'Alaihi Salam dan langit ketujuh ada Nabi Ibrahim 'Alaihi Salam. Dan akhirnya Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam naik ke Sidratul Muntaha seorang diri dan bertemu dengan Rabb.

Di Sidratul Muntaha ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mendapatkan perintah langsung sholat sebanyak 50 waktu dalam sehari untuk ummat manusia. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun turun dan bertemu dengan Nabi Musa 'Alaihi Salam. Beliau menyampaikan perintah yang baru diterimanya. Mendengarkan apa yang disampaikan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, Nabi Musa 'Alaihi Salam berkata bahwa perintah itu terlalu berat bagi ummat Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Nabi Musa 'Alaihi Salam berkaca dengan pengalamannya sendiri ketika mengajak dan membimbing Bani Israil. Maka, kembalilah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertemu Allah Subhanahu wa Ta'aalaa.

Akhirnya, Allah Subhanahu wa Ta'aalaa memberikan keringanan lima waktu sholat dalam sehari semalam. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun kembali menemui Musa 'Alaihi Salam. Musa mengatakan bahwa itu pun masih terlalu berat. Kembalilah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menemui Allah Subhanahu wa Ta'aalaa . Hal ini terus berulang kali hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta'aalaa memutuskan:

"Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban sholat itu lima kali dalam sehari semalam. Setiap sholat mendapat pahala 10 kali lipat, maka 5 kali sholat sama dengan 50 kali sholat. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan yang dia tidak melaksanakannya maka dicatat untuknya satu kebaikan. Dan jika ia melaksanakannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa berniat melakukan satu kejelekan namun dia tidak melaksanakannya maka kejelekan tersebut tidak dicatat sama sekali. Dan jika ia melakukannya, maka dicatat sebagai satu kejelekan."

Akhirnya, Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun kembali turun dan bertemu Musa 'Alaihi Salam. Musa 'Alaihi Salam masih merasa bahwa perintah itu masih berat bagi ummat Islam. Namun, ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam diminta kembali, beliau menolaknya. Beliau merasa malu karena berulang kali meminta keringanan. Akhirnya, jadilah perintah sholat sebanyak 5 kali dalam sehari semalam. Namun, pahala kebaikannya setara dengan 50 kali sholat. Karena satu kebaikan akan dilipatgandakan 10 kali.

Salah satu poin penting tentang diplomasi yang bisa kita ambil dari kisah Isra' Mi'raj ini adalah bahwa orientasi utama diplomasi adalah untuk kemaslahatan ummat, bukan golongan tertentu. Diplomasi dalam Islam tidak selayaknya untuk memaksakan kehendak. Namun, harus dilihat dari berbagai sisi tentang baik dan buruknya.

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan Musa 'Alaihi Salam mengerti betul kondisi ummat. Oleh karenanya, mereka memohon keringanan, supaya ummat nantinya bisa melaksanakan perintah sholat tersebut. Namun, permohonan keringanan kedua nabi ini tidak serta merta harus dipaksakan. Hal ini tergambar ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memutuskan untuk berhenti meminta keringanan.

Maka, seperti inilah diplomasi yang diajarkan oleh Islam. Dimana negosiasi atau tawar-menawar seharusnya bukan untuk memenuhi egoisme individual. Namun, harus mengutamakan kemaslahatan ummat keseluruhan dan kepentingan bersama.

VIDEO PILIHAN