Mohon tunggu...
semutmerah
semutmerah Mohon Tunggu... Psikolog - Bukan untuk dikritisi, tapi untuk direfleksikan

Serius tapi Santai | Psychedelic/Progressive/Experimental | Memayu Hayuning Bawana

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Malahayati

10 Mei 2021   11:45 Diperbarui: 10 Mei 2021   12:12 476
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Kamu jahat, mas! Memberi harapan palsu ke siapa saja. Kamu gak mikirin perasaan aku. Sekarang kamu disini, besok disana. Sekarang kamu disana, besok disini. Aku bukan tempat persinggahan yang bisa kamu singgahi kapan saja dan bebas keluar masuk. Tidak, Mas."

***

Matahari menyingsing, sore telah gugur, menuju malam. Aku di dalam gerbong, dari Cikini menuju Jatinegara. Riuh dan ramai keadaan di dalam kereta, beruntung aku dapat posisi untuk berdiri, sehingga aku bisa melihat berbagai ekspresi. Ibukota, ya, dengan segala kerumitannya, sungguh menghadirkan keadaan manusia yang beragam jua; ada yang letih karena pekerjaan, ada yang senang karena tidak pernah merasakan kesusahan, ada yang murung entah bertengkar dengan keluarga atau pekerjaan atau dengan pasangannya, ada yang sayu pandangannya seakan-akan sedang putus asa dan mendekati kekecewaan atas dirinya atas hidupnya, ada pula yang bermata tenang seakan itu adalah cara terbaiknya untuk menyikapi kehidupan didalam ibukota.

'Jika dahulu ku tak cepat berubah, ini maaf ku untuk mu,' Sepenggal lirik dari lagu yang diputar dalam kereta membenak dan terus berputar dalam otak ku. Aku teringat akan Mala, mahasiswi Ilmu Sosial yang sekarang berhubungan dengan ku secara hati ke hati, akal ke akal, menjadi satu frekuensi yang terkadang bergelombang tak beriringan. Dinamika perasaan.

Mala. Aku memanggilnya secara pendek dari nama aslinya, Malahayati. Parasnya manis, bukan gula, buka pula madu, karena Mala lebih dari semua itu. Ia anggun, tidak cantik, tidak pula jelek, karena anggun itu lebih terhormat dari pada cantik yang berawal dari ketidakpercayaan diri lalu memaksa diri untuk tampil cantik, seakan-akan jika tidak cantik maka sama dengan jelek. Ya, Anggun lebih tepat aku sematkan padanya.

"Aku baru pulang dari Taman Ismail Marzuki, La. Kamu lancarkan kegiatan kuliahnya hari ini?", tanya ku pada Mala melalui pesan teks di handphone.

"Iyaaa, Alhamdulillah lancar. Kamu abis ngapain disana?",

"Ketemu kawan lama. Sama kaya aku, pejalan juga. Tenang, laki-laki kok, bukan lawan jenis. Hahahaaa." Jawabku, coba mencandai benaknya.

"Au ahhhhh. Gatau, gatau, gatauuu." jawabnya dengan nada merajuk. Entah karena ia cemburu atau mungkin karena sudah ketebak oleh ku apa yang ia pikirkan.

"Hahaha. Kamu uda makan kan, La? Ada tugaskah malam ini dari kampus?".

"Tugas ada, mas. Belum mood makan. Masih rebahan ini."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun