Mohon tunggu...
Marlianto
Marlianto Mohon Tunggu... Apa...

Mencari titik akhir

Selanjutnya

Tutup

Novel

Sang Warisan Leluhur (Hal 11)

3 Desember 2019   20:35 Diperbarui: 3 Desember 2019   20:42 0 0 0 Mohon Tunggu...

 Saat menaiki tangga, kakinya bergerak biasa saja, namun sungguh mengejutkan, karena di setiap langkahnya telah menimbulkan suara hentakan keras sehingga mengguncang tangga dan lantai dua. Para pengunjung pun tersentak kaget, mengira terjadi gempa. Meja dan kursi di lantai dua bergetar, bergoyang lalu bergeser dari tempatnya seirama dengan gerak langkah pria ini.  Kecuali meja dan kursi yang diduduki Dewi Kembang dan Runa, namun tampang mereka benar-benar menunjuk rasa kesal dan mendongkol, menanti siapakah yang berani berlagak menyebalkan ini.

Saat pria itu menginjak lantai dua, langkahnya terhenti, tertegun sejenak lalu tersenyum lebar, matanya berbinar-binar melihat ada dua wanita sudah duduk disana. Sambil mengembangkan kedua tangan, dia berseru,

"Maafkan aku, ternyata ada dua dara cantik disini, Dewi Kembang dan Runa Kamalini...!" tanpa dipersilahkan dia langsung bergabung ke meja Dewi Kembang dan Runa Kamalini. Duduk di hadapan mereka. Tatapannya bertumbuk dengan sorot mata coklat Dewi Kembang, seketika tatapan wanita ini menyihirnya, memikatnya, tembus ke hatinya. Tidak ingin dianggap tidak sopan seolah mengabaikan wanita satunya, dia melirik sekilas ke arah Runi Kamalini, sambil mengangguk. Lalu dibibirnya tersungging senyuman mesra, mengedipkan mata ke arah Dewi Kembang, melempar isyarat.

"Aku kira yang naik ke sini orangnya tinggi, besar, gemuk, buncit dan berewokan.Ternyata pria gagah, ganteng, berwibawa dan kalem." ucap Dewi Kembang, merasa sedang menjadi mangsa, balas mengerlingkan mata dan tersenyum manis sambil menggigit bibir bagian bawah, memendam hasrat.

Runa Kamalini ikut menimpali,"Siapa tak terbuai, baunya wangi, ilmunya tinggi. Siapakah gerangan tuan, silahkan mengenalkan diri?"

Pertanyaan itu membuat raut wajah pria berusia diatas 40-an itu nampak kecewa. Bila ini sanjungan, jelas ini sanjungan palsu. Dirinya selama ini sudah dikenal oleh setiap wanita, tiba-tiba mendapat sambutan hambar dari dua wanita yang mengaku tidak mengenalnya.  Ini sungguh menjengkelkan. Tapi perasaan kecewa itu buru-buru ditutupnya dengan tertawa renyah, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi, "Dunia sudah lama mengenalku sebagai  Sarjana Kipas Melati, Daksa Ardhana"

Gayanya berubah keren ketika mengenalkan diri, dadanya dibusungkan, suaranya dibikin garang. Tangannya tiba-tiba sudah menggenggam sebuah kipas, panjangnya 30cm. Lalu membukanya membentuk setengah lingkaran, jari-jari kipas itu terbuat dari baja putih mengilap sebanyak 20 buah, separuhnya ditutup kain warna hijau pupus dan terdapat  gambar bunga-bunga melati putih, serupa dengan sulaman di songkoknya. Ketika Daksa Ardhana mengibas-ngibaskan kipasnya, seketika bau harum bunga melati menyebar di lantai dua.

Hanya saja tanggapan dua wanita ini biasa-biasa saja. Bukannya terkagum-kagum. Lagi-lagi dia kecele.

"Ahh.." desah Dewi Kembang, diikuti gerakan menjilati bibir. Bibir merah merekah itu pun semakin basah. "Sayang sekali kami belum mengenal nama dan julukan tuan. Tapi tak sia-sia orang tuamu memberi nama Daksa Ardhana. Namanya sebagus orangnya..."

Daksa Ardhana terlihat mukanya masam, tersenyum kecut.

"Dewi Kembang, apalah arti sebagus-bagusnya nama, bila kau belum mengenalku. Tak kenal maka tak sayang. Namamu sudah lama terukir di hatiku, tiga tahun sudah kumenanti, hanya kabar berita tentang dirimu yang menghilang."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x