Mohon tunggu...
Marius Gunawan
Marius Gunawan Mohon Tunggu... Profesional

Tulisan sebagai keber-ada-an diri dan ekspresi hati

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Kasus Makar, Masih Ada Dalang Belum Terungkap?

13 Juni 2019   06:43 Diperbarui: 13 Juni 2019   07:10 0 5 3 Mohon Tunggu...
Kasus Makar, Masih Ada Dalang Belum Terungkap?
Sumber gambar: viva.com

Rupanya kasus pengungkapan para aktor kerusuhan dan makar masih koma, belum titik. Polisi masih mencari dalang utama untuk itu Polisi tengah mendalami ada-tidaknya pihak lain di luar Kivlan Zen dan Habil Marati yang diduga terlibat dalam kerusuhan 22 Mei.

"Ya, semua masih didalami lebih lanjut oleh penyidik," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra kepada detikcom, Rabu (12/6/2019).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Staf Kantor Kepresidenan Moeldoko.

Kalau dilihat rencana yang disusun dan sasaran mereka yang ditargetkan untuk dibunuh jelas bahwa para aktor yang telah diungkap oleh polisi hanyalah masih aktor lapangan. Aktor intelektualnya masih bersembunyi. Mengapa?

Hal itu bisa dilihat dari dugaan motifasi para tersangka tersebut.

Untuk para eksekutor jelas tindakan mereka nampaknya hanya bermotifkan ekonomi. Mereka dibayar untuk melakukan hal itu. Juga mereka dijanjikan bahwa keluarganya dijamin jika karena tindakannya harus mendekam di penjara.

Lalu KZ yang menurut polisi diduga memerintahkan para eksekutor itu juga kelihatannya masih belum dalang utama. 

Hal ini dapat diuji dari pertanyaan: mengapa ke empat tokoh nasional dan pemimpin lembaga survei itu yang menjadi sasaran? Dan apa keuntungan yang didapat oleh KZ jika aksi tersebut berhasil?

Untuk pertanyaan pertama, jelas yang di sasar adalah mereka yang bertanggungjawab terhadap kemanan negara ini. Sekaligus para tokoh Nasional ini adalah pembantu utama Presiden.

Artinya menghilangkan mereka kemungkinan besar akan terjadi kekacauan dan kerusuhan. Dalam kondisi itu pastilah dengan mudah ditunggangi oleh kekuatan yang dapat menguasai negara ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2