Mohon tunggu...
Mariemon Simon Setiawan
Mariemon Simon Setiawan Mohon Tunggu... Mahasiswa - Silentio Stampa!

Orang Maumere yang suka makan, sastra, musik, dan sepakbola.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

El Clasico dan Pengalaman Keterlukaan

13 April 2021   08:05 Diperbarui: 16 April 2021   11:27 297
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

(El Clasico yang sengit itu telah memungkinkan hal-hal di atas itu terjadi; termasuk memungkinkan seorang anak asrama SMA membalas dendamnya dengan menendang kaki pembina asramanya saat jam olahraga sore.)

#2. Ketika Saya Terluka...

Saya sudah mulai gelisah ketika melirik jam di ponsel; sudah jam setengah sepuluh (malam). Sudah satu jam lebih saya dan beberapa teman duduk mengelilingi meja, menikmati moke (minuman beralkohol tradisional khas orang Maumere) ditemani ayam bakar, mi goreng, dan kuah ikan. Sebelumnya, semua sudah siap memasang taruhan untuk El Clasico nanti. Namun, mungkin karena sudah mulai mabuk, tidak ada yang sadar, setengah jam lagi pertandingan dimulai. Saya harus segera pulang.

Saya pamit dengan alasan gerbang rumah akan ditutup pada jam 10 nanti. Menarik, karena selain berhasil menipu mereka, teman-teman yang sudah separuh mabuk itu sama sekali tidak menyadari, bahwa di rumah saya tidak pernah ada pintu gerbang! Pertandingan baru saja dimulai saat saya tiba di rumah.

Ketika Fede Valverde mencetak gol saat laga belum genap sepuluh menit, ketakutan dan rasa kesia-siaan mulai membentang dalam pikiran saya.

Bisa dibayangkan, saya meninggalkan teman-teman hanya untuk menonton El Clasico ('menghilang' saat sedang minum moke sering dikatai banci). Saya membiarkan si teman yang berulang tahun hari itu (penyebab kami berkumpul di rumahnya malam itu) menjadi satu-satunya pendukung Barcelona yang tersisa setelah kepergian saya hanya karena ingin menonton duel itu.

Dengan lampu motor yang suram dan lensa kacamata yang berminyak (karena terkena krim kue ulang tahun) saya beranjak pulang menempuh jarak kurang lebih 4 km, hanya untuk menyaksikan taktik Ronald Koeman. Saya rela meninggalkan makanan yang enak-enak di atas meja tadi demi menonton aksi Lionel Messi, dan saya meninggalkan sejenak kebersamaan yang akan selalu awet sepanjang usia itu dengan 90 menit penuh derita di depan TV.

Gol balasan Ansu Fati beberapa menit kemudian sedikit memberi harapan, tetapi permainan agresif Real Madrid dan tendangan pinalti Sergio Ramos yang membawa Madrid unggul membuat saya meragukan kemenangan Barcelona. Hingga pada akhirnya, 'tarian' Luca Modric di hadapan Jasper Cillessen berhasil membuat saya baru berani membuka pesan-pesan WhatsApp (WA) yang masuk satu jam setelah laga.

Sama seperti daya magis sepakbola pada umumnya, El Clasico tidak saja menghipnotis jutaan pasang mata di depan TV atau layar ponsel, tetapi merasuk hingga grup-grup WA; tidak saja di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya; tidak saja menginspirasi para penulis sepakbola, tetapi juga memancing imajinasi kreatif para pembuat meme; tidak saja menjadi tema para mahasiswa di kantin, tetapi juga topik pembicaraan bapak-bapak pegawai kantor yang sedang beristirahat.

Dua sisi wajah sepakbola dalam rupa El Clasico terlihat jelas. Ia mampu menimbulkan perang kata-kata, sanggup membuat seorang pendiam menjadi tukang hina dengan mulut paling tajam, dan membuat seseorang yang jago bermain sepakbola dan sering bertanding dari satu turnamen ke turnamen lainnya bisa terpancing emosinya karena ia tidak bisa membalas olokan dari temannya yang sama sekali tidak bisa menendang bola dengan baik.

Dan yang paling menyedihkan, karena El Clasico, seorang laki-laki terpaksa menunda jadwal malam mingguan, dan harus memperbaiki hubungannya setelah menerima pesan dari perempuannya: "Makan kau punya Barcelona itu!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun