Mohon tunggu...
Marida fitriani
Marida fitriani Mohon Tunggu... Informatif ,edukatif & bermanfaat

Yakin Usaha Sampai

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Wahai Saudaraku "Jangan Bandel", Waspada Tidak Cukup Butuh Tindakan Nyata

22 September 2020   11:04 Diperbarui: 22 September 2020   11:19 23 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Wahai Saudaraku "Jangan Bandel",  Waspada Tidak Cukup Butuh Tindakan Nyata
Photo : tampak masker di sepeda motor tidak digunakan (dok: fitrie)

Meningkatnya kasus terpaparnya virus Covid 19 saat ini di seluruh Indonesia tidak terkecuali di Aceh membuat kita semua tidak boleh menganggap enteng atau bahkan menganggap bahwa Covid itu tidak ada .

Setiap hari ada saja yang diumumkan terpapar Covid 19 , Virus ini bisa menimpa siapa saja dimulai dari masyarakat biasa, petugas pemerintah , tenaga medis bahkan banyak Bupati / walikota yang dinyatakan positive Covid 19.

Belumkah kita mengakui bahwa Virus ini ada , masihkah ada diantara kita yang menganggap ini adalah sebuah konspirasi, masih beranikah kita sampaikan ke orang- orang bahwa kita tidak akan terpapar virus tersebut.

Tidak memiliki riwayat perjalanan ke zona merah , tidak penyakit bawaan dan tidak dinyatakan reaktif virus saja tidak menjamin seseorang tidak terkena Virus Corona , faktanya banyak yang tanpa gejalapun akhirnya di nyatakan positif berdasarkan hasil test Swab.

Oleh karenanya , wahai saudaraku, alangkah baiknya  jangan pernah angkuh, angka yang masih rendah ini sebaiknya menjadi cemeti bukan hanya bagi para pemangku kebijakan untuk bekerja lebih giat lagi, menelusuri setiap sisi dan sudut dari kota ini.

Bagi pemangku kebijakan , evaluasi ulang kebijakan, kepatuhan masyarakat, kesiagaan laboratorium, sumber daya manusia dan kesiagaan tim medis sebagai bagian dari langkah identifikasi penyebab rendahnya angka deteksi COVID19 sehingga fenomena gunung es COVID19 hanya sebatas impian belaka.

Beberapa waktu lalu sebelum ditetapkannya New Normal , diawal sudah diterapkannya  gerakan Work From Home (WFH) agar masyarakat tetap di rumah mulai dari bekerja, belajar dan beribadah kecuali terdapat suatu hal yang mendesak dan harus dikerjakan di lingkungan luar.

Di Aceh misalnya ,  hal ini dilakukan saat ditemukannya kasus positif corona pertama di Aceh,  Masyarakat cukup patuh dengan membentuk Gugus Tugas COVID19 sampai ke Gampong- gampong , memberlakukan jam malam namun tidak lama berselang kemudian pemberlakuan jam malam ini pun akhirnya di hilangkan oleh adanya anggapan dapat melumpuhkan perekonomian yang berujung pada menurunnya penghasilan masyarakat menengah kebawah.

Dicabutnya pemberlakuan jam malam memunculkan fenomena baru dimana masyarakat beramai-ramai memenuhi kedai kopi seperti tidak ada lagi virus corona di muka bumi.

Dan sampai saat ini pun dimana pasien positive Covid 19 terus mengalami peningkatan namun fenomena ini terus berlanjut seperti yang terlihat saat ini,warung kopi masih terus buka dan masyarakat ramai masih duduk atau sekedar bercengkerama di warung kopi baik pada siang hari maupun malam hari.

Tidak hanya itu , sekolah yang awalnya menerapkan belajar jarak jauh ( daring) pun akhirnya di perbolehkan dengan tatap muka dikarenakan sebuah aturan yang membenarkan daerah- daerah zona hijau covid 19 untuk belajar ke sekolah kembali seperti sebelum- sebelumnya .

Menjadi pertanyaan dan sampai saat ini belum ada jawabannya , bahwa fakta yang terlihat dan dirasakan saat ini tentulah bertolak belakang dengan saat awal - awal virus corona memasuki wilayah kita tetapi mengapa justru kebijakan atau aturan tidak lebih ketat

Meningkatnya kasus pasien positiv Covid 19 tidak serta merta dapat mempengaruhi keramaian di warung kopi , pasar , sekolah , kegiatan perkumpulan - perkumpulan lainnya . Semua aktivitas seperti biasa tidak ada  perbedaan bahkan cendrung tidak kita ketahui bahwa wabah virus itu sedang melanda bumi ini .

Informasi baik dari media sosial dan lainnya terkait seseorang yang terpapar virus Covid 19 atau ditutupnya Poliklinik atau ICU Rumah sakit  dan IGD hanya sebatas narasi yang hanya sedikit menggunggah perasaan saja.

Anjuran penerapan protokol kesehatanpun hanya menjadi slogan -slogan yang di dianggap menjadi kepentingan orang- orang tertentu saja . Memakai masker karena takut terkena rajia, mencuci tangan hanya syarat dan social distancing hanya diterapkan demi kebutuhan dokumentasi .

Sebagai umat beragama dan berkeyakinan pastilah kita mengakui bahwa hidup mati , sehat dan sakit merupakan takdir Tuhan Yang Maha Esa , namun tidak karena alasan tersebut menjadikan masyarakat  tidak berhati-hati terhadap kemungkinan terburuk dari pandemi ini.

Manusia wajib berikhtiar, berusaha dan berdoa dengan tujuan kita semua melakukan tindakan yang sama, mulai dari pemerintah, ulama dan masyarkat agar terbebas dari wabah ini.

Untuk itu mari bersama - sama  melakukan hal yang sama dalam mencegah penularan COVID19 ini. Waspada saja tidak cukup namun harus ada tindakan bersama dengan kepatuhan sedini mungkin, dan jangan abai terhadap anjuran pemerintah.

Jika masyarakat konsisten dengan sikapnya yang " Bandel" , apa yang akan jadi di daerah kita kedepannya ?.
Mungkinkah angka kasus COVID 19 ini akan berkurang? Atau justru semakin meningkat? Mau sampai kapan kita seperti ini ? Mau sampai kapan kita social distancing? Mau sampai kapan kita bekerja dari rumah, belajar online, hidup terus di dunia maya? Mau sampai kapan COVID19 menjadi penghalang aktivitas keagamaan dan aktivitas ekonomi  serta aktivitas pendidikan anak- anak kita ?

Wahai Saudaraku , Semua keputusan dan jawaban ada ditangan kita, karena kita adalah pelaku penularan dan korban COVID19 saat ini.

Ayo pake Masker , Ayo jaga jarak, ayo bersama kita putuskan rantai penularan COVID 19. Mari saudaraku , saat kita sadar betul akan kondisi ini maka mari buktikan dengan tindakan.

Semoga ikhtiar semua masyarakat akan memutus rantai penyebaran virus Covid 19 dan hilangnya wabah di bumi ini (f3)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x