Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Mas Isjet Resign dari Kompasiana dan Akan Melangkah di Jalur Pendakian Baru

9 Juni 2018   04:25 Diperbarui: 9 Juni 2018   15:51 2077 34 16
Mas Isjet Resign dari Kompasiana dan Akan Melangkah di Jalur Pendakian Baru
dokumentasi Kompasiana

Secara fisik saya baru sekali ketemu Mas Isjet dan pertemuan itu terjadi sekitar satu setengah tahun yang lalu di Medan. Waktu itu saya baru mulai menjadi penulis aktip di blog kebanggaan kita ini setelah sebelumnya menjadi silent reader. Pertemuan itu bukanlah sesuatu yang disengaja. Pada waktu itu ada acara pelatihan penulisan kerjasama Kompasiana dengan sebuah bank yang diadakan di Hotel Aston Medan.

Saya datang ke tempat itu karena janjian dengan Fitri Manalu yang baru menerbitkan novelnya yang bertajuk "Minaudiere". Saya menginginkan  novel itu dan Fitri bilang "Kalau Amang " ada waktu, saya sekarang di Hotel Aston. "Amang" artinya ayah dalam bahasa Batak.

Tetapi kata itu dapat digunakan sebagai sapaan untuk orang yang lebih tua. Tentunya saya senang dengan sapaan Fitri yang demikian maklumlah usia saya sudah mendekati kepala tujuh sedangkan Fitri, cerpenis yang cukup dikenal di blog kita ini masih tergolong muda.

Sesampainya di Aston dan sesudah memperoleh 3 buah novel, Fitri bilang, Mas Isjet sedang di sini. Lebih baik Amang jangan pulang dulu biar kita nanti ngomong-ngomong dengan petinggi Kompasiana itu.

Sekitar 20 menit, Mas Isjet selesai memberi pembekalan pelatihan dan ke luar ruangan. Fitri memperkenalkan saya kepadanya dan kami bersalaman dengan erat.

Sesudah ngomong ngomong sambil berdiri sekitar 10 menit, Mas Isjet mengajak kami dan beberapa orang Kompasianer Medan ngopi atau minum-minum di Merdeka Walk sebuah pusat kuliner di Medan. Dengan berjalan kaki kami menyeberang jalan lalu kami pun tiba di pusat kuliner itu dan ngopi sambil ngobrol di sebuah cafe.

Sekitar satu jam ngobrol, Mas Isjet pun pamit karena ia harus segera ke Bandar Udara Kuala Namu dan terbang menuju Jakarta.

Dalam pembicaraan sekitar satu jam di cafe itu saya memperoleh kesan bahwa petinggi Kompasiana itu enak diajak ngobrol, cepat akrab dan pembicaraannya sering diselingi humor. Saya mendapat cerita dari Fitri dan juga Daus, Kompasianer juga yang menyatakan kalau sedang di Medan, Mas Isjet selalu ngajak para Kompasianer untuk ngumpul bareng.

Sejak pertemuan itu saya semakin intens membaca artikel-artikel nya yang diposting di blog yang kita banggakan ini. Membaca tulisannya asyik juga karena pada artikel itu ia seperti bercerita. Adakalanya konten yang ingin disampaikannya sebenarnya termasuk berat. Namun demikian ia mampu menuliskannya dengan ringan dan enteng.

Dari artikelnya itu jugalah saya tahu bahwa ia lulusan Pondok Pesantren Modern Gontor. Sedikit banyaknya saya tahu juga tentang pesantren itu. Di pesantren Gontor para santrinya sehari hari diwajibkan berbicara kalau tidak berbahasa Arab maka harus berbahasa Inggris.

Gontor awalnya saya kenal karena salah satu tokoh yang saya kagumi yakni pemikir Islam, Nurcholish Majid pernah juga mondok di pesantren ini. Selanjutnya tidak berlebihan kalau menyatakan sejak pertemuan di Merdeka Walk itu, setiap artikel Mas Isjet selalu saya baca.

Demikianlah pada Jum'at, 8 Juni 2018 muncul artikelnya yang bertajuk "Bukan Selamat Tinggal". Dari judul nya saya belum bisa menebak tentang hal apa yang akan dibahasnya pada artikel itu.

Tetapi kemudian setelah membacanya saya mulai mendapat gambaran tentang apa yang ingin disampaikannya. Pada alinea ketiga artikel itu, ia langsung menyatakan per Juli 2018 ia tidak lagi bekerja di Kompasiana dan kedudukannya sebagai COO Kompasiana akan dijabat oleh Nurulloh.

Saya terkejut membaca pernyataannya dan langsung muncul pertanyaan dalam hati. Ada apa dengan Kompasiana, mengingat sekitar satu setengah tahun yang lalu ketika berada di karier puncak, Kang Pepih Nugraha juga mengundurkan diri dari pengelola blog yang kita banggakan ini.

Saya lanjutkan membaca dan tertegun juga menyimak alasan pengunduran dirinya. Menurutnya ketika seseorang sudah berada di puncak gunung maka ia punya dua pilihan.

Pertama, membuat jalur pendakian baru dan yang kedua atau melanjutkan jalur yang ada. Terhadap kedua hal ini ia memilih membuat jalur pendakian baru.

Tentulah kita memahami membuat jalur pendakian baru itu tidak mudah. Bisa bermunculan berbagai risiko yang belum terprediksi sebelumnya. Mungkin orang yang sudah berumur seperti saya akan "menasehatinya" untuk apa lagi membuat jalur pendakian baru, kan lebih baik anda terus di puncak gunung yang sekarang.

Tapi Mas Isjet tentu melihatnya dari kacamata yang berbeda dari kacamata saya. Ia dengan sadar meninggalkan zona nyaman yang sudah digenggamnya itu dan rela meninggalkan "kemewahan" yang ada untuk kemudian bertarung pada jalur pendakian yang lain.

Disinilah saya sadar, rupanya usia membuat cara pandang kami berbeda. Saya lupa bahwa Mas Isjet masih berdarah muda dan senang menghadapi tantangan.

Sebagai COO Kompasiana tentu dia sudah "arrive". Tetapi dia sadar terlalu lama dalam posisi yang demikian akan membuat nya kecut menghadapi tantangan. Sebelum hal tersebut terjadi, ia resign dari Kompasiana dan siap bertarung diluar sana.

Setelah selesai membaca artikelnya itu saya sadar, ooo rupanya yang baru saya baca itu sejenis pidato perpisahan untuk kita Kompasianers.

Selamat mengayunkan langkah di jalur pendakian baru itu Mas Isjet dan selamat untuk Mas Nurulloh sebagai nakhoda baru blog yang kita cintai ini.

Salam Kompasiana!