Mohon tunggu...
Marahalim Siagian
Marahalim Siagian Mohon Tunggu... Konsultan - Konsultan-sosial and forest protection specialist

Homo Sapiens

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Pemanfaatan Tradisional dan Mobilitas Spasial Orang Laut di Riau Kepulauan

8 Januari 2020   18:11 Diperbarui: 15 Mei 2022   19:36 415
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumberdaya perikanan yang dimanfaatkan Orang Laut antara lain gamat atau teripang, nos atau cumi-cumi (Foto: Marahalim Siagian)
Sumberdaya perikanan yang dimanfaatkan Orang Laut antara lain gamat atau teripang, nos atau cumi-cumi (Foto: Marahalim Siagian)
Kepiting yang telah dikupas dan dipilah dijual ke Singapur (Foto: Marahalim Siagian)
Kepiting yang telah dikupas dan dipilah dijual ke Singapur (Foto: Marahalim Siagian)
Dewasa ini, semakin banyak kelompok Orang Laut yang meninggalkan nomadisme. Mereka menghadapi persaingan dalam penangkapan ikan komersial, meninggalkan gaya hidup tradisional, populasi mereka menyusut karena berasimilasi dengan budaya mayoritas.

Hanya sedikit sisa dari kelompok Orang Laut yang masih hidup dengan cara lama (nomaden). 

Kegiatan nelayan tradisional di Kepulauan Riau (Foto: Marahalim Siagian)
Kegiatan nelayan tradisional di Kepulauan Riau (Foto: Marahalim Siagian)
Dalam kasus Orang Laut yang telah hidup lebih menetap di garis pantai, kelong atau rumpon ikan mendikte sebagian besar pergerakan mereka. Sementara nelayan terumbu karang yang terlibat dalam perdagangan ikan hidup, lebih fokus pada kegiatan pengumpulan ikan.

Ikan hidup atau ikan segar hasil tangkapan mereka adalah sumber uang tunai harian yang dipergunakan untuk membeli kebutuhan sembako dan barang-barang kelontong yang mereka perlukan sehari-hari. 

Orang Laut menjalin hubungan dengan para toke lokal dalam sistem yang bercorak patron-klien.

Kelompok Orang Laut yang tidak terlalu terikat dengan perekonomian di darat, selama bulan-bulan, dimana air laut lebih tenang, Orang Laut melakukan perjalanan memancing yang lebih lama. Seringkali dalam kelompok kecil yang dapat berlangsung antara beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Pada musim hujan dimana air laut pasang, ombak lautan menjadi tinggi, pola pergerakan spasial mereka cenderung berputar di sekitar rute penangkapan ikan tertentu yang relevan dengan kegiatan penangkapan ikan sehari-hari, pada selat-selat dangkal di belakang hutan mangrove/bakau yang dapat melindungi perahu mereka dari arus laut serta terpaan angin yang kencang.

Sementara kehidupan Orang Laut di pulau-pulau utama atau yang besar, dimana kegiatan pengawetan ikan kering berkembang, perempuan Orang Laut mengambil upah harian dengan membelah ikan teri serta dan tenaga kerja di lapak-lapak penjemuran ikan. 

Usaha-usaha pengeringan ikan itu umumnya dikendalikan oleh warga Tionghoa atau keturunan yang telah menjadi bagian dari populasi kota dan desa di Riau Kepulauan selama beberapa dekade.

Perahu tarik untuk membawa kayu bakau ke dapur arang (Foto: Marahalim Siagian)
Perahu tarik untuk membawa kayu bakau ke dapur arang (Foto: Marahalim Siagian)
Di luar sektor perikanan yang berkembang di pulau besar dan daerah-daerah pertumbuhan ekonomi, sumber-sumber pendapatan yang lebih stabil bagi Orang Laut adalah pembuatan arang. 

Pemilik dapur arang itu sebagian besar adalah warga Tionghoa. Orang Laut menjadi pemasok bahan baku arang yakni kayu dari hutan bakau serta terlibat dalam kegiatan di tungku pembakaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun