Mohon tunggu...
Mahaji Noesa
Mahaji Noesa Mohon Tunggu... Pernah tergabung dalam news room sejumlah penerbitan media di kota Makassar

DEMOs. Rakyat yang bebas dan merdeka

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Souvenir Ukiran Toraja Butuh Kepedulian

10 Januari 2012   11:15 Diperbarui: 25 Juni 2015   21:05 103 0 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Souvenir Ukiran Toraja Butuh Kepedulian
1326192691750286121

Perajin Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara kini tidak lagi cuma menawarkan miniatur-miniatur Rumah Adat Toraja (Tongkonan) sebagai cenderamata (souvenir) menarik bagi para pelancong di kedua daerah wisata alam pegunungan di Sulawesi Selatan tersebut.

[caption id="attachment_154660" align="alignright" width="461" caption="Berbagai jenis souvenir berukiran Toraja/Ft: Mahaji Noesa "][/caption]

Berbagai jenis karya perajin yang tak kalah menarik dihiasi ukiran khas Toraja sudah dibuat para perajin di daerah ini. Lagi pula produk-produk kerajinan tersebut harga jualnya terbilang dapat terjangkau oleh semua kalangan.

Untuk sebuah suling bambu yang dihiasi ukiran Toraja misalnya, harga jualnya mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 25.000 per buah. Asbak berukiran Toraja Rp 15.000 per buah. Miniatur tau-tau (patung manusia) khas Toraja dijual antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per buah. Lukisan-lukisan berbagai motif ukiran Toraja yang terbuat dari wadah kayu harganya antara Rp 50.000 hingga Rp 70.000. Sedangkan miniatur Rumah Adat Toraja (Tongkonan) saat ini masih dijual dengan harga antara Rp 50.000 hingga Rp 75.000 per buah.

[caption id="attachment_154664" align="alignleft" width="300" caption="Marten Tammu di stand pameran Lovely Desember 2011, Rantepao, Toraja Utara/Ft: Mahaji Noesa"]

13261931221257248976
13261931221257248976
[/caption]

Sebuah jam dinding dimodifikasi dengan bingkai kayu berukiran Toraja yang dipajang di salah satu stand perajin ketika berlangsung Pameran Lovely Desember, 29 Desember 2011 di GOR Pongtiku, Kota Rantepao, ibukota Kabupaten Toraja Utara, ditawarkan dengan harga Rp 100.000.

Menurut Marten Tammu (40 Th) salah seorang pemilik stand kerajinan souvenir Ukiran Toraja di pameran Lovely Desember 2011, sampai sekarang pengembangan usaha para perajin passura’ alias Ukiran Toraja umumnya masih murni dilakukan oleh para penrajin di daerah tersebut.

Pemilik usaha Family Souvenir asal Desa Malango Kecamatan Tallunglipu Kabupaten Toraja Utara ini menyimpulkan seperti itu. Alasannya, usaha kerajinan Ukiran Toraja yang ditekuni sejak orang tuanya dan diteruskan sampai sekarang, tidak pernah ada bantuan dari pihak pemerintah. Apakah itu bantuan dalam bentuk pengembangan pengetahuan teknis ukiran, modal serta pemasaran hasil produk.

[caption id="attachment_154667" align="alignright" width="346" caption="Pengembangan baru motif Kupukupu dalam ukiran Toraja/Ft: Mahaji Noesa"]

13261934131619325473
13261934131619325473
[/caption]

Para penrajin sendiri yang selama ini berusaha untuk mengembangkan bentuk-bentuk souvenir yang diperkirakan laku untuk dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke daerah ini. ‘’Hasil kerja para perajin Ukiran Toraja dari desa saya, saya yang sering membantu memasarkan sampai ke toko-toko souvenir yang ada di Kota Makassar maupun di Bandara Hasanuddin,’’ jelas Marten yang mengaku menamatkan pendidikan di SMA Pelita, Rantepao.

Sekali jalan ke Kota Makassar, biasanya ia membawa berbagai jenis souvenir berukiran Toraja senilai sampai Rp 60 juta. Produk kerajinan itu tak hanya diambil dari para perajin di desanya, tapi juga dari wilayah lain. Misalnya, untuk kerajinan miniatur Rumah Toraja dari Saluara di Kecamatan Sesean dan untuk patung tau-tau dari Panga di Kecamatan Rantepao.

Sejumlah asesori seperti gantungan kunci berukiran Toraja yang terbuat dari bahan fiber, menurut Marten, juga dibuat atas usaha para perajin sendiri. ‘’Nanti jika akan dilangsungkan pameran-pameran seperti pameran Lovely Desember 2011 di Rantepao ini, biasanya baru kami para perajin mendapat perhatian dengan diberikan surat pemberitahuan dari camat untuk mengikuti pameran,’’ katanya.

[caption id="attachment_154668" align="aligncenter" width="576" caption="Wanita Toraja dalam karnaval budaya dan pariwisata Lovely Desember 2011/Ft: Mahaji Noesa "]

13261936661703580752
13261936661703580752
[/caption]

Ukiran Toraja yang termasuk ukiran seni pahat kayu punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan ukiran-ukiran sejenis yang ada di Indonesia. Ukiran dibuat menurut aturan adat kepercayaan leluhur Aluk Todolo di Toraja. Paling menonjol karena Ukiran Toraja hanya mengenal empat warna merah, kuning, hitam, dan putih.

Menurut riwayatnya, pada awalnya ukiran Toraja itu dibuat sebagai bagian kelengkapan pembuatan Rumah Adat Toraja yang disebut Tongkonan. Rumah ini beratap melengkung dan sesuai adat, bangunan dibuat harus selalu menghadap utara.

Ada empat motif ukiran mempunyai arti dan makna tersendiri dalam kepercayaan Aluk Todolo yang dijadikan lambang pokok di sebuah Tongkonan. Yakni ukiran atau passura’Pa’ Barre Allo berbentuk matahari, Pa’ Manuk London (berbentuk ayam jantan), Pa’ Tedong (berbentuk kepala kerbau) dan Pa’ Sussuk (garis berjejer).

[caption id="attachment_154670" align="alignright" width="346" caption="Tampilan musik bambu Toraja dalam Lovely Desember 2011 di rantepao/Ft:Mahaji Noesa"]

1326193918858873823
1326193918858873823
[/caption]

Keempat ukiran di Tongkonan tersebut digolongkan sebagai ukiran Garonto Passura’. Selain itu, ada juga yang disebut Passura’ Todolo, yaitu ukiran-ukiran tergolong tua dengan berbagai motif. Ukiran-ukiran yang melambangkan kemajuan dan pergaulan digolongkan sebagai Passura’ Malolle’. Sedangkan ukiran yang motif-motifnya menggambarkan kegembiraan dan kesenangan masuk dalam kategori Passura’ Pa’ Barean.

Justru setiap motif Ukiran Toraja yang dibuat sejak dulu umumnya meniru bentuk benda-benda alam di langit, hewan dan tumbuh-tumbuhan, selalu diberi nama tersendiri berdasarkan golongan ukiran yang dibuat.

Adapun empat ciri warna Ukiran Toraja, merah dan putih dimaknai sebagai perlambang kehidupan manusia, kuning lambang kemuliaan dan ketuhanan. Sedangkan warna hitam sebagai lambang kedukaan.

Sampai sekarang, menurut Marten Tammu, untuk keempat jenis warna di ukiran Toraja tersebut masih menggunakan bahan alami berupa tanah dan batu yang dihaluskan. Umumnya diambil dari daerah Rembon di Kecamatan Saluputti. Sedangkan bahan baku untuk wadah pembuatan Ukiran Toraja kebanyakan menggunakan Kayu Uru (Cendana), lantaran jenis kayu ini sudah teruji tahan tak dimakan hama rayap.

Motif ukiran Toraja yang dibuat dan digunakan untuk souvenir, kemungkinan masuk dalam golongan Passura’ Pa’ Barean (Ukiran Kesenangan). ‘’Tapi paling penting sekarang untuk pengembangan souvenir berukiran Toraja perlu kepedulian pembinaan dari pemerintah, termasuk membantu permodalan serta pemasaran hasil produk dari para perajin,’’ tutur Marten.

Sebuah ukiran Toraja yang bermotif seekor ‘Kupukupu’ dipajang di stand milik Marten, merupakan pengembangan baru yang menunjukkan dinamisasi dan potensi pengembangan motif-motifdalam ukiran Toraja, salah satu kekayaan seni dan budaya Indonesia.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x