Choirul Rosi
Choirul Rosi Pegawai

Cerita kehidupan yang kita alami sangat menarik untuk dituangkan dalam cerita pendek.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Teana - Kuil Singa Bersayap (Part 21)

1 Agustus 2018   14:31 Diperbarui: 1 Agustus 2018   15:09 577 0 0
Teana - Kuil Singa Bersayap (Part 21)
Teana - Dokpri

Sore itu Kuil Al Khazneh mendadak gempar. Patung Dewi Uzza tergeletak di lantai kuil. Terjatuh dari tempatnya semula. Persembahan para penduduk berserakan dibawah meja altar. 

Buah, sayuran, daging kambing serta beberapa minuman anggur dalam cawan kecil tumpah.  Tidak jauh dari meja altar, sebuah guci keramik kebiru -- biruan pecah berhamburan. Abu dupa bertebaran di udara.

Nampak pintu barat mengalami kerusakan. Rantai untuk mengikat pintu terputus. Nampaknya akibat tebasan pedang. Sedangkan pintu selatan dan pintu utara masih dalam keadaan utuh.

"Apa yang telah terjadi?" tanya Pendeta Samad begitu tiba di pelataran kuil Al Khazneh.

"Maaf Tuan, sebaiknya Tuanku lihat sendiri di dalam."

Sore itu Pendeta Samad mendatangi kuil setelah menerima laporan dari penjaga kuil karena telah terjadi kekacauan disana.

Bagai terkena ribuan panah menembus kepalanya, Pendeta Samad berdiri ketakutan di depan pintu kuil. Keringat dingin menetes di dahinya.

"Rahasiakan kejadian malam ini. Jangan kau ceritakan kepada siapapun. Kau paham?" ucapnya malam itu kepada seorang prajurit. Malam ketika patung Dewa Dhushara lenyap dari Kuil Ad Deir.

Pikirannya seakan terbawa ke masa puluhan tahun silam. Suatu malam ketika patung Dewa Dhushara lenyap dari Kuil Ad Deir. Satu malam yang menyimpan sebuah rahasia yang hingga kini belum diketahui oleh penduduk Kota Petra.

Namun tiba - tiba seseorang menepuk bahunya, sehingga membuat Pendeta Samad kembali tersadar.

"Ah... I... Iya maaf. Ada apa?" tanya Pendeta Samad.

"Tuan sakit? Mengapa Tuan menjadi pucat begitu?"

"Tidak, aku baik -- baik saja. Mungkin karena cuaca sore ini yang begitu dingin. Sehingga membuat wajahku nampak pucat kedinginan." jawab Pendeta Samad terbata -- bata sambil menyapu keringat di dahinya dengan jubahnya.

"Benar Tuan, akhir -- akhir ini di Kota Petra cuacanya tidak seperti biasa. Siang hari bisa menjadi dingin, malam hari bisa menjadi berangin dan panas. Pertanda apakah ini? Semoga saja bukan pertanda buruk. Mari... Silakan masuk Pendeta."

Pendeta Samad diam membisu. Ia hanya bisa menelan ludah. Tak mampu membalas ucapan lelaki itu.

Dengan diantar penjaga Kuil Al Khazneh, Pendeta Samad melangkah masuk ke ruangan di dalam kuil. Ia menyuruh beberapa orang untuk membersihkan pecahan guci keramik. Dan ia sendiri segera mengembalikan patung Dewi Uzza ke tempatnya semula.

"Penjaga, segera siapkan keperluan ritual pemujaan untuk Dewi Uzza. Jangan lupa siapkan tiga ikat dupa Myrrh. Nyalakan semuanya. Letakkan di meja altar. Malam ini ritual harus segera dilaksanakan atau kita semua akan terkena kutukannya." ucap Pendeta Samad.

"Baik Tuan."

Dalam beberapa jam, ritual untuk Dewi Uzza -- sang Dewi Fajar -- mulai digelar.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7