Tekno

Kalau Dwi Hartanto Benar "The Next Habibie", Kalian Mau Apa?

12 Oktober 2017   23:31 Diperbarui: 12 Oktober 2017   23:44 810 2 0
Kalau Dwi Hartanto Benar "The Next Habibie", Kalian Mau Apa?
Dwi Hartanto dan BJ Habibie.NET

Dwi Hartanto, sosok yang diharapkan publik sebagai "the next Habibie" ini ternyata hanya imaji. Ia membohongi publik dengan segudang cerita prestasinya.

Kebenaran ini terungkap setelah Dwi melalui surelnya pada media menyatakan segala cerita yang melekat pada dirinya adalah kebohongan semata. Ia mengklarifikasi bahwa dirinya bukanlah seperti apa yang diberitakan media--kuliah di bidang kedirgantaraan dan memiliki paten teknologi.

Beberapa waktu belakangan ini nama Dwi Hartanto memang menjadi pembicaraan di media sosial. Ia diharapkan bisa menjadi penerus BJ Habibie di bidang kedirgantaraan.

Baca: Dwi Hartanto, "The Next Habibie", Akhiri Kebohongan Besarnya

Belakangan setelah publik tahu kalau ia berbohong banyak yang mengecamnya. Publik yang terlanjur kecewa bahkan meminta status akademik dan penghargaan yang pernah diraih agar dicabut. 

KBRI Den Haag melalui surat tertanggal 15 September 2017 yang dicap dan ditandatangani Dubes RI untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja secara resmi mencabut gelar penghargaan yang sebelumnya diberikan kepada Dwi Hartanto.

Segala yang buruk kini telah tersemat di dalam diri Hartanto. Barangkali sudah tidak ada tempat lagi di Indonesia bagi seorang penipu yang telah membohongi jutaan rakyat negeri tercinta ini. Harapan orang-orang Indonesia memiliki sosok pandai semacam Habibie pupus sudah.

Baiklah sekarang semua sepakat kalau Dwi Hartanto seorang penipu yang berdosa besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun setelah puas menghakiminya luangkan waktu sejenak untuk berimajinasi ketika kebohongan pria ini belum terungkap. Ketika dia menjadi the next Habibie dengan segala penemuannya dan tidak pernah berbohong. Kalau seandainya Dwi Hartanto tidak berbohong dan benar the next Habibie kalian mau apa? Apa yang akan kalian lakukan? Sebatas kagum, bangga?

Baharudin Jusuf Habibie pernah berstudi teknik penerbangan spesialisasi konstruksi pesawat terbang di RWTH Aachen, Jerman Barat dan menerima gelar diplom ingenieur pada 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude. Setelah lulus studi dia bekerja di Messerschmitt-Blkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman dan mencapai puncak karier sebagai wakil presiden bidang teknologi. Pada tahun 1973 ia kembali ke Indonesia setelah diminta Presiden Soeharto.

Habibie sekembalinya ke Indo UNnesia menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Ia menggagas dan menerbangkan perdana pesawat buatan anak negeri N-250 Gatot Kaca pada 10 Agustus 1995 di Bandara Husein Sastranegara. Penerbangan perdana pesawat buatan insinyur-insinyur hebat Indonesia yang diproduksi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) itu dihadiri Presiden Soeharto dan Ibu Tien.

Kala itu Habibie bermimpi Gatot Kaca bisa menjadi sarana transportasi dari pulau ke pulau. Mengingat Indonesia negara kepulauan yang dengan jarak yang berjauhan dan medan berat sulit dijangkau dengan transportasi darat sehingga pesawat adalah solusi.

Namun kisah kejayaan Gatot Kaca rupanya sampai di situ saja. Proyek pesawat N-250 itupun tidak bisa dilanjutkan karena tidak ada dana. PT IPTN yang berubah nama menjadi PT Dirgantara pun ditutup paksa. Ribuan karyawannya menjadi pengangguran. Sampai kini Gatot Kaca hanya sebatas imaji. Sama seperti imaji Dwi Hartanto yang diharapkan publik sebagai the next Habibie.