Mohon tunggu...
Ludiro Madu
Ludiro Madu Mohon Tunggu... Dosen - Dosen

Mengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN 'Veteran' Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Pragmatisme Rusia dalam Mendukung Taliban

9 September 2021   07:31 Diperbarui: 10 September 2021   16:40 978
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Russian Ministry of Foreign Affairs / AFP 

Kremlin sudah memiliki akses langsung kepada kelompok Taliban sebelum kelompok itu menguasai Kabul di awal Agustus lalu. Rusia bahkan beberapa kali menjadi tuan rumah pembicaraan dengan Taliban di Moskow, walau masih mencap kelompok itu sebagai organisasi teroris terlarang. 

Pada 9 November 2018, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov dan utusan Presiden Rusia untuk Afghanistan, Zamir Kabulov, mengadakan pertemuan dengan Taliban dan otoritas Afghanistan di Moskow. Selanjutnya, 29 Maret 2019, Lavrov juga mengundang kedua pihak ke Moskow untuk mencari penyelesaian damai di Afghanistan.

Bahkan sebulan sebelum merebut Kabul, para Taliban berkunjung ke Rusia memenuhi undangan Presiden Putin. Kekhawatiran Rusia terhadap ekspansi kelompok radikal itu muncul karena kelompok itu telah menguasai dua pertiga wilayah perbatasan dengan Tajikistan.

Undangan perdamaian di Moskow itu menghasilkan komitmen Taliban. Pertama, Taliban berjanji tidak akan mengganggu kepentingan Rusia, atau negara lain. Kedua, Taliban berjanji mencegah Islamic State tidak beroperasi dari wilayah Afganistan. Ketiga, teritori Taliban tidak akan dipakai melawan negara-negara disekitarnya. 

Ketiga janji itu menjadi pertimbangan Rusia mendukung kekuasan Taliban pada saat ini.

4. Kepentingan ekonomi

Seperti negara-negara lain, Rusia diketahui memiliki kepentingan ekonomi yang besar di Afghanistan. Penyebabnya adalah Afghanistan memiliki cadangan sumber daya alam terbesar di dunia yang belum dieksploitasi seperti tembaga, batu bara, kobalt, merkuri, emas, dan lithium. Nilainya lebih dari US$ 1 triliun. 

Rusia harus bersaing dengan China dalam meraih kepentingan ekonomi ini. Selain itu, Presiden Rusia Vladimir Putin itu juga berencana mengajak Afghanistan bergabung ke dalam blok perdagangannya, yaitu Eurasian Economic Union. Ajakan ini secara tidak langsung dapat memperluas dukungan negara-negara di sekitar Afghanistan terhadap pemerintahan Taliban.

5. Keamanan strategis di wilayah perbatasan

Rusia memiliki kepentingan keamanan strategis terhadap Taliban. Kepentingan itu adalah mencegah "ekspor" paham ekstremis dan pejuang Islamis ke negara-negara sekutu Rusia di Asia Tengah. 

Rusia tampaknya menginginkan jaminan keamanan dari Taliban, yaitu tidak berhubungan dengan teroris, terutama ISIS dan al-Qaida dan kelompok-kelompok afiliasi mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun