Mohon tunggu...
Chinta Imbran
Chinta Imbran Mohon Tunggu...

Simple one who's dying for simple life.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Dicari: Pria Pembohong (bagian 2)

26 Juli 2011   12:00 Diperbarui: 26 Juni 2015   03:21 0 0 1 Mohon Tunggu...

Bagian 2

Si Rambo yang sedang patah hati

Hey cowok, kenapa sih, kamu tidak berpura-pura saja?? Kenapa tidak berbohong saja kalau sebenarnya kau baik-baik saja sehingga semua dunia tidak perlu tahu bahwa kau sedang patah hati!

Tenna turun dari sepeda motornya. Ia tiba di rumahnya yang dingin dan teduh, di sebuah pinggiran kota. Ia melepas helmnya, maskernya dan kaos tangannya satu persatu. Ya, seperti prajurit yang pulang dari perang. Kira-kira begitu memang busana wajib pengendara motor di kota ini, siap tempur, menerjang debu dan panasnya hari. Tetap cantik dan naik motor itu sama dengan menyiksa diri di kamus Tenna.Belum sempat ia membuka jaket, sudah terdengar garukan pintu dan gonggongan anjing. “ Hemph, berisik sekali, “ Tenna menarik nafas, dan segera membuka pintu rumahnya. Dua ekor anjing kampung yang lucu segera melompat keluar dan meminta perhatian tuan-nya. Mereka saling menggigit salah tingkah saking senangnya. Tenna menyambut penuh cinta, ia jongkok dan membiarkan anjing-anjingnya menjilati mukanya. Ia merasa sangat bahagia, merasa dinantikan, merasa dibutuhkan, merasa dicintai.

Lalu mata Tenna berpindah pada seorang pria yang terbaring di sofa. Ia menarik nafas. Seketika juga kebahagiaannya sirna. Pria itu berantakan sekali. Rambutnya yang gondrong awut-awutan dan sebagian menutupi wajahnya. Kumis dan janggutnya pun sudah tebal. Ia tampak seperti Yesus yang baru pulang perjamuan tiada akhir. Bau amis sisa alcohol dan entah apa yang dimakan pria itu tadi malam menyembur ketika pria itu terbatuk-batuk, dan berganti posisi.

Tenna mengisi tempat makan anjing-anjingnya, lalu ia berlutut disebelah sofa, tempat pria itu berbaring. Pelan-pelan, ia merapikan rambut pria itu yang menutupi wajah, “ Kakakku, oh kakakku, kenapa kau jadi begini? Kenapa kau membiarkan dirimu seperti ini?” Tenna menangis, tapi tidak banyak air mata yang keluar. Belakangan air matanya sudah terlalu banyak terkuras, untuk dirinya sendiri. Ia juga sedang patah hati. Pacar pertamanya, yang dipacarinya selama dua tahun, memutuskannya sebulan yang lalu. Ia masih patah hati, tapi ia berpura-pura tidak. Tapi setiap kali ia mengingat pacarnya itu dan kata-katanya ketika memutuskannya, “ Ten, aku udah ga bisa lagi jalan sama kamu. Aku Cuma bisa mengganggapmu sebagai adik.” Katanya. “Adik? Adik katamu? Setelah dua tahun meniduri aku kau masih bisa menganggapku adik? Sakit! Kau sakit! Dan aku lebih sakit lagi karena masih mencintaimu! “ umpatnya dalam hati.

Seperti itulah Tenna terus berbicara dengan dirinya belakangan ini. Ia sedang patah hati. Setiap hari ia pergi kuliah seperti biasa, les seperti biasa, dan bergaul seperti biasa. Yang berubah hanyalah selera makannya, dan kebiasaannya. Jika biasanya pulang kuliah ia segera memadu kasih dengan pacarnya, kali ini ia hanya pulang kerumah dan mengadu pada bantal dan gulingnya. Setelah memberi makan anjing-anjingnya sepulang kuliah, Tenna segera menghempaskan diri ke kamar tidurnya lalu menangis kencang-kencang. Tidak jarang anjing-anjingnya pun menjadi pengganti bantal-bantalnya yang sudah basah bermandikan air mata. Anjing-anjing tersebut tidak pernah protes, inilah bentuk pengabdian mereka.

Suatu siang,Tenna sedang memandikan anjing-anjingnya di halaman belakang. Kakakknya sedang duduk di teras, matanya menerawang, dan merokok pelan-pelan. Rambut panjangnya terurai di sisi wajahnya hingga ke pangkuannya. Badannya pun kurus, benar-benar seperti mayat hidup. Tenna sudah tidak tahan lagi, sambil menggosok badan anjingnya dengan sikat sepatu dan shampoo, ia pun berkata, “ Kenapa sih, kamu ga bisa seperti aku, biasa aja dong, aku yang cewek dan lebih muda dari kamu bisa ‘strong’ kok. KOk kamu ga bisa? Cari kesibukan kek, apa kek, males tau ditanyain orang soal kamu dimana lagi ngapain.” Kakak Tenna diam sejenak lalu menjawab, “ Pergi aja yang jauh kalo malas ngeliat gua”, katanya. Dalam hati Tenna meringis, apa gunanya berbicara dengan zombi.

Hingga suatu malam, Tenna sedang tertidur lelap, hingga kakakknya tiba-tiba masuk kamarnya, memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Tenna masih terlalu mengantuk untuk menangkap semua itu, dan berusaha melepaskan kakaknya yang lagi-lagi berbau tengik alcohol. “ Kenapa sih kak, ih, lepas, kenapa sih??”, Tenna bertanya sambil mendorong kakakknya yang terjatuh lalu memeluk kaki Tenna yang masih terduduk kaget dan bingung di tepi kasur, “Vera selingkuh Ten, dia sama cowok lain, dia lebih milih cowok itu dari gua, dia ngusir gua Ten…”, kakak tenna menangis tersedu-sedu di pangkuan Tenna, dan Tenna merasa dadanya sesak mau meledak, dan ia pun ikut menangis. Kakak Tenna menangis hingga tertidur di pangkuan Tenna, dengan lelap. Ia tidak merasakan getaran dari tubuh Tenna, yang sedang menangis tersengal-sengal hingga tubuhnya bergetar. Ia mengerti sekarang, bahwa luka itu menggores hati kakakknya sangat dalam, dan kakakknya terlalu jujur untuk tidak menyembunyikannya. Tidak seperti dirinya, yang pandai berpura-pura, seperti wanita lain kebanyakan. Tidak juga seperti mantan pacarnya yang selama ini berbohong mencintainya. Kakaknya terlalu jujur untuk menjadi kuat seperti lelaki sejati di film fantasi. Hati kakakknya terlalu lembut, bahkan lebih lembut dari hati Tenna.Kejujuran kakak Tenna menyesakkan dan terlalu menyakitkan buat Tenna. Ia tidak tahan. Ia lebih suka dibohongi seperti pacarnya yang sudah bosan dengannya berkata “ Aku mencintaimu seperti adik sendiri.”

Malam itujuga Tenna mengirim pesan singkat kepada ibunya yang tinggal di luar kota, “ Bu, berangkat kemari segera. Kalau ibu tidak datang, saya akan pergi dan ibu tidak akan melihat saya lagi. Kami butuh bantuanmu” ***

KONTEN MENARIK LAINNYA
x