Mohon tunggu...
Livia Halim
Livia Halim Mohon Tunggu... Penulis - Surrealist

Surrealism Fiction | Nominator Kompasiana Awards 2016 Kategori Best in Fiction | surrealiv@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Yayoi Kusama dan Semesta Polkadot

11 Juni 2018   10:10 Diperbarui: 12 Juni 2018   07:59 3039
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
I Want to Love on a Festival Night | dokpri

Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, lukisan-lukisan di ruangan ini mengandung obyek yang lebih beragam, seperti pola-pola wajah manusia, rumah dan lain-lain. Selain itu, di sini juga terdapat sebuah kotak intip bertajuk "I Want to Love on a Festival Night" (2017).

Love Forever | dokpri
Love Forever | dokpri
I Want to Love on a Festival Night | dokpri
I Want to Love on a Festival Night | dokpri
"My Eternal Soul" merupakan ruangan berikutnya yang saya jumpai. Di sini, dipamerkan karya-karya Kusama yang sangat berwarna. Ada berbagai lukisan berukuran besar dan patung-patung. Salah satu lukisan di sini bertajuk "Love is the Heart of a Rainbow" (2017), di mana lukisan tersebut adalah judul pameran ini.
My Eternal Soul | dokpri
My Eternal Soul | dokpri
Sebelum keluar dari area pameran, ada dua ruangan kecil yaitu "Manhattan Suicide Addict" dan "Infinity Mirrored Room". "Manhattan Suicide Addict" merupakan ruangan di mana pengunjung dihadapkan pada layar lebar dengan cermin di sisi kanan dan kiri. 

Pada layar ditampilkan Kusama sedang menyanyi lagu ciptaannya sendiri, dengan latar visual psychedelic sederhana. Dua cermin yang berhadapan memantulkan layar sehingga pengunjung menyaksikan visual yang jumlahnya tak terhingga. Sementara itu, "Infinity Mirrored Room" merupakan instalasi berupa sebuah ruangan yang berisi lampu-lampu cantik yang dipadu sedemikian rupa dan pijakan kecil yang sekelilingnya diiringi air.

Manhattan Suicide Addict | dokpri
Manhattan Suicide Addict | dokpri
Ruangan terakhir tidak berada satu lantai dengan ruangan-ruangan lainnya. Pengunjung perlu menaiki satu eskalator untuk dapat memasuki ruangan ini. Nama ruangan berikutnya adalah "The Obliteration Room". Ruangan ini merupakan satu-satunya karya Kusama yang berkonsep interaktif dalam pameran. "The Obliteration Room" pada dasarnya adalah sebuah ruangan serba putih yang dilengkapi dengan berbagai furniture yang serba putih juga. 

Ketika pengunjung memasuki ruangan ini, pengunjung diberikan satu lembar stiker polkadot berbagai warna dan bentuk untuk ditempel di seluruh ruangan. Di sini pengunjung diajak untuk menjadi bagian dari karya Kusama. 

Menurut buku panduan yang saya terima ketika memasuki area pameran, ketika Kusama kecil ia melihat dunia melalui layar penuh berisi polkadot mungil yang menyelubungi apa pun yang beliau lihat, termasuk di tubuhnya sendiri. Terlepas dari apakah keterangan dalam buku panduan tersebut hanya merupakan metafor atau bukan, karya ini memiliki makna yang sangat dalam.

The Obliteration Room | dokpri
The Obliteration Room | dokpri
Tiket dan Tata Tertib

Tiket masuk museum dapat dibeli di ticket.museummacan.org maupun on the spot. Harga tiket dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  • Dewasa: Rp. 100.000,-
  • Pelajar/ lansia: Rp. 90.000,-
  • Anak-anak: Rp. 80.000,-

Tata tertib di museum ini cukup beragam, diantaranya dilarang membawa kamera apapun (hanya diperbolehkan membawa ponsel ke dalam area pameran), dilarang membawa makanan dan minuman, serta semua barang yang berukuran lebih dari 32 x 24 x15 cm harus disimpan di penitipan barang. Selain itu pengunjung juga tidak boleh menyentuh karya seni, dilarang menerima telepon di area pameran. 

Apabila pengunjung ingin menggambar di area pameran, maka sketsa hanya boleh digambar dengan menggunakan pensil dan buku sketsa tidak boleh berukuran lebih dari 22 x 28 cm. Selain itu, masih ada beberapa tata tertib lain yang bersifat umum.

dokpri
dokpri
Opini

Saya merasa sangat senang karena akhirnya karya unik Yayoi Kusama bisa masuk ke pameran seni di Indonesia dan dihadiri banyak orang, sehingga semakin banyak orang yang mengenal seni kontemporer, terutama dalam bentuk lukisan, patung dan instalasi. Pameran ini bukan hanya sebagai pemuas dahaga akan karya seni semata, namun juga sebagai media edukasi yang baik. Karya Kusama, seperti halnya seniman-seniman kontemporer lainnya memiliki ciri khas dan sangat menarik.

Karya-karya Kusama pada periode awal kemunculannya sebagai seniman memberikan impresi yang kelam, mistis namun memikat bagi saya. Warna-warna yang digunakan pada karya-karya awal terasa lebih gelap dibandingkan pada periode lain. Selain itu, karya-karya dalam periode awal juga menghadirkan nuansa sedih dan tertekan. 

Sementara itu, karya-karya Kusama pada tahun 1970-an memiliki warna-warna yang jauh lebih cerah. Uniknya, karya-karyanya pada tahun 1970-an juga terasa sangat relevan dengan masa sekarang, sederhana, terlihat seperti karya-karya dekoratif (meski saya tahu karya-karya tersebut bukan karya dekoratif semata, melainkan karya-karya yang berdiri sendiri dan sangat bermakna), dan kekinian (ya, terasa sangat kekinian meski dibuat tahun 1970-an).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun