Mohon tunggu...
Lindung Pardede
Lindung Pardede Mohon Tunggu...

ketika diam, kita bisa memaknai hitam berwarna putih dan putih berwarna hitam. semoga

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Cinta Sejati, Bagaimana Menemukannya?

13 Februari 2015   19:19 Diperbarui: 17 Juni 2015   11:15 0 1 1 Mohon Tunggu...

“How do you spell love”

“You don’t spell it, you feel it.” (Winnie The Pooh - A.A Milne)

CINTA – bagi yang suka menghayalkan suasana romantis adalah sesuatu yang misterius yang datang dan menawan seseorang, luapan kebahagiaan yang hanya dirasakan begitu menggoda. Menurut mereka, cinta adalah soal perasaan semata-mata, sesuatu yang tak dapat dimengerti, hanya dapat dialami. Cinta menaklukkan segala-galanya dan bertahan selama-lamanya.

Masih banyak lagi ungkapan tentang cinta yang tertuang dalam lirik lagu, bait puisi atau rangkaian kata dalam tulisan-tulisan lainnya. Satu hal yang ingin diungkapkan bahwa “jatuh cinta bisa merupakan pengalaman indah tiada duanya.” Cinta... rasa cinta... tak akan pernah habis untuk dibayangkan. Tetapi, kalau kita berhenti sejenak, apa sebenarnya cinta, dalam hal ini cinta sejati itu.

Love at The First Sight?

Film, Novel dan Drama Korea membuat penggemarnya percaya bahwa cinta pada pandangan pertama begitu kuat dan akan bertahan selama-lamanya. Kita tentunya pernah begitu tertarik dengan seseorang ketika bertemu dan saling bertatapan. Tatapan mata, cara berjalan, gaya rambut, bentuk tubuh, terasa mengajak kita untuk mengenalnya lebih dalam lagi. Ada banyak orang yang ketika pertama bertemu, saling tertarik dan kemudian terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan. Inikah yang disebut cinta? Bila cinta dipahami sebagai dasar dari sebuah hubungan yang lebih serius, katakan saja pernikahan. Mampukan dasar itu kokoh bila acuannya adalah bentuk tubuh, gaya rambut, yang sama-sama kita sadari akan memudar seiring berjalannya waktu. Lantas, apa yang kita cintai ketika pertama kali melihat orang tersebut? Apakah pribadinya yang kita cintai? Atau hanya “kesan” mengenai dia? Bila hanya “kesan”, bagaimana cinta demikian dapat bertahan?

Dengan alasan khusus penulis Amsal berkata “kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia”. Ya, Penampilan fisik bisa saja menyesatkan. Dalam artian kita tidak dapat mengetahui isi hadiah yang terbungkus dengan kertas kado yang gemerlapan. Dengan keterampilan menggunakan kertas kado, maka hadiah yang tak berharga bisa disembunyikan. Jadi, adalah keliru untuk jatuh “cinta’ pada penampilan seseorang dengan mengabaikan keadaan batin orang tersebut.

Cintamu? Tanya hatimu? Tepatkah?

Cinta menggetarkan hati, oleh karena hati yang bergetar dan bukan yang lain maka muncul pendapat bahwa hati manusia mempunyai pertimbangan yang tak mungkin keliru tentang cinta. “Dengarlah kata hatimu” demikian pendapat mereka. Kamu akan tahu apakah itu cinta sejati atau tidak.

Perjalanan hidup kita, atau orang-orang disekitar kita mengajarkan kita banyak hal, termasuk tentang cinta. Fenomena ketika ada teman yang mengatakan mencintai seseorang, kemudian berpacaran, dan mengalami saat-saat yang indah, kemudian putus. Kemudian, bagi yang berhasil move on, mengalami sensasi jatuh cinta lagi, kemudian kembali mengalami masa indah penuh keromantisan, dan bisa jadi putus lagi. Kebanyakan orang yang mengalami hal seperti itu mengaku bahwa percintaan mereka yang lalu hanya sekedar perasaan tergila-gila – yang berlalu dan cepat pudar. Tetapi mereka tetap berkata, apa yang mereka alami sebagai cinta. Namun, pada suatu hari kelak mungkin sekali kebanyakan akan memandang perasaan yang sekarang dialami sama seperti apa yang sudah berlalu – hanya sekedar perasaan tergila-gila. Untuk beberapa hal tertentu, Amsal kembali berkata “Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal – siapa berlaku dengan bijak akan selamat. Jadi, kita sebaiknya bijak mengetahui perbedaan antara perasaan tergila-gila dan cinta. Di dalam Alkitab, cinta dipahami sebagai sesuatu yang tak pernah mengecewakan.

Cinta Vs Perasaan Tergila-gila

Cinta ini menggelisahkan aku, membuat aku gila (lirik lagu Dirly)... Perasaan tergila-gila memang buta dan uniknya senang untuk tetap begitu. Ia tidak mau melihat kenyataaan. Pada waktu kita tergila-gila pada seseorang, kita beranggapan bahwa apapun yang ia lakukan benar-benar sempurna. Perasaan tergila-gila adalah cinta palsu. Ia tidak realistis dan berpusat pada diri sendiri. Orang yang sedang tergila-gila cenderung berkata. “Aku benar-benar merasa diriku penting bila sedang bersama dia. Aku ga dapat tidur. Ia membuat aku merasa benar-benar senang. Dia membuatku merasa begitu sempurna. Apakah anda memperhatikan berapa kali kata “aku” digunakan? Perhatikanlah, suatu hubungan yang didasarkan pada pementingan diri sendiri pasti akan gagal. Tetapi Alkitab memberi pengertian tentang cinta kasih sejati “Kasih itu sabar; murah hati; tidak cemburu --- 1 Korintus 13, 4-5)

Karena tidak mencari keuntungan sendiri, maka cinta kasih yang didasarkan pada prinsip Alkitab tidak berpusat pada diri sendiri dan juga tidak mementingkan diri sendiri. Memang dua sejoli mungkin saja mempunyai perasaan sangat mencintai dan saling tertarik satu sama lain. Tetapi perasaan ini diimbangi dengan akal sehat dan sikap hormat yang dalam terhadap pihak lain. Bila kita benar-benar mencintai, kita akan memikirkan kesejahteraan dan kebaikan orang tersebut sebanyak kita memikirkan untuk diri kita sendiri. Kita tidak akan membiarkan emosi yang begitu kuat merusak pertimbangan yang tidak baik.

Teladan Cinta Sejati, Yakub dan Rahel

Mereka bertemu di sebuah sumur, ketika Rahel sedang memberi minum ternaknya. Yakub tertarik kepadanya, bukan hanya karena “elok sikapnya dan cantik parasnya” tetapi karena dia baik beribadah. Setelah sebulan penuh tinggal di rumah keluarga Rahel, Yakub menyatakan bahwa ia mencintai Rahel dan ingin mengawininya. Apakah ini sekedar perasaan tergila-gila? Sama sekali tidak. Selama satu bulan ia telah melihat Rahel dalam keadaannya yang wajar, bagaimana ia memperlakukan orangtua dan orang lain. Bagaimana ia melaksanakan pekerjaannya sebagai gadis penggembala, dan bagaimana kesungguhannya beribadah. Pasti dia melihat keadaaan “yang paling baik” dan “paling buruk” dari Rahel. Maka cintanya pada Rahel, bukan emosi yang tidak terkendali melainkan cinta yang tidak mementingkan diri berdasarkan akal sehat dan sikap hormat yang dalam.

Oleh karena itu Yakub sanggup mengatakan bahwa dia rela bekerja selama tujuh tahun bagi ayah Rahel. Tujuh tahun untuk mendapatkan Rahel sebagai istri. Tentu perasaan tergila-gila tidak mungkin bertahan begitu lama. Hanya cinta yang murni, minat yang tidak mementingkan diri sendiri terhadap pihak lain, dapat membuat waktu terasa seperti beberapa hari saja. Karena cinta murni yang demikian, mereka sanggup memelihara kesucian selama masa tersebut. (Kej. 29)

Perlu Waktu

Maka, cinta sejati tidak akan rusak dengan berlalunya waktu. Sebenarnya, sering kali cara terbaik untuk menguji perasaan kita terhadap seseorang adalah dengan membiarkan waktu berlalu. Waktu juga memberikan kesempatan untuk memeriksa minat romantis anda dengan bantuan Alkitab. Ingat, cinta tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan sendiri.

Cinta sejati tidak timbul sekejap. Demikian pula pribadi yang akan menjadi teman hidup yang baik tidak harus seseorang yang luar biasa menarik.

Jadi bagaimana, Anda dapat mengenal cinta sejati? Hati anda mungkin berbicara, tetapi bersandarlah kepada pikiran anda yang dilatih Alkitab. Belajarlah lebih mengenal orang tersebut, bukan hanya dari “kesan” luarnya. Berikan kesempatan agar hubungan itu dapat tumbuh. Ingat perasaan tergila-gila membara dalam waktu singkat tetapi kemudian pudar. Cinta sejati tumbuh semakin kuat seraya waktu berlalu dan menjadi pengikat yang sempurna (bnd. Kolose 3, 14).

Catatan.

Bila telah berumahtangga, tidak perlu lagi membaca catatan ini. Jangan habiskan waktumu untuk bertanya, apakah istri atau suamiku adalah benar-benar cinta sejatiku? Yakin dan bertanggungjawablah dengan pasangan Anda, cintailah dia.

Tulisan ini dikumpulkan dari berbagai sumber dan pernah disampaikan disebuah persekutuan mahasiswa kristen, di Indralaya, Palembang. Diakhir pembicaaran, seorang gadis manis bertanya... “Sudah punya pacar belum?” suasana segera gaduh, ado ado bae, kata mereka sambil tertawa. Pada saat itu pertanyaan itu tidak saya jawab. Tetapi saya akhirnya menemukan esensi penting dari pertanyaan itu. Bisa jadi dia bertanya, untuk meyakinkah bahwa ini bukan sekedar teori, dan si pembicara haruslah sudah punya pacar untuk mengalaminya. Benarkah, cinta, ya cinta hanya bisa dialami, dipahami oleh mereka yang punya pacar, punya suami atau istri? Penulis buku-buku tentang cinta dan mencinta yang berkualitas sering kali adalah para Pastor Katolik yang notabene menselibatkan diri, tidak menikah. Oleh karena itu, cinta bukan tentang pacaran, cinta bukan tentang pernikahan. Walau pernikahan tak mungkin ada tanpa cinta. Cinta lebih dari itu.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x