Mohon tunggu...
Lina Pw
Lina Pw Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

tukang gembur-gemburin tanah, tapi bukan cacing

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Pesta Sampah di Pulau Maratua

15 September 2015   21:53 Diperbarui: 15 September 2015   21:59 197
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Srek… srek… srek… tampak sesosok pria dengan tubuh besar dan tinggi di tepi pantai. Mengenakan pakaian santai sambil memegang sapu pasir. Ia menyapu sampah-sampah yang berserakan di tepi pantai. Sesekali pria itu menunduk, mengangkuti batang pohon besar yang nyasar.

Setiap jengkal dedaunan kering yang menguning dan bertebaran di pantai disapunya dengan sabar. Beberapa popok bayi, pecahan beling, kaleng-kaleng minuman ringan, dan plastik-plastik aneka warna juga turut dalam sapuannya. Bangkai pohon besar yang cukup banyak jumlahnya pun ia ambil, lalu dikumpulkannya dalam satu tumpukan. Setelah sepetak pantai itu cukup bersih, ia menepi dan duduk.

Sampah-sampah ini nantinya akan ia bakar, atau tanam di pantai. Seperti yang dilakukan sebagian besar penduduk pulau.

“Sudah tak terhitung banyaknya sampah yang tertanam di pasir ini,” ujarnya sambil kembali memunguti batang pohon Nypah yang menutup tepi pantai. Batang-batang pohon Nypah ini datang dari pulau utama, Kalimantan. Sampah-sampah lain adalah sampah rumah tangga, yang dengan sengaja dibuang ke pantai.

Eko nama pria itu. Lelaki yang kini bekerja sebagai polPP di pulau Maratua ini merupakan satu dari sedikit orang yang mulai membersihkan pantai di depan rumahnya. Ia akan terlihat setiap pagi, menyapu di pantai depan rumahnya. Sudah beberapa tahun lalu ia melakukan rutinitas ini. Hingga di tahun 2014 lalu, ia memutuskan untuk mengelola kawasan bertukar pikiran. Hal ini dilakukannya dengan mendirikan beberapa pondok-pondok dan sebuah warung tempat orang-orang bisa duduk, ngobrol, sambil minum kopi atau makan.

Kegiatan yang dilakukan Eko dan segelintir masyarakat lain adalah sebuah langkah kecil mengelola sampahnya sendiri. Dengan mengelola sampah di pantai depan rumahnya, ia berkeinginan menikmati pemandangan pantai dan mempermudah aksesnya menuju laut. Sebelum Eko memulai rutinitasnya, semak-semak dan pecahan beling memenuhi pantai. Hampir mustahil baginya dulu untuk menuju pantai tanpa beling menggores kakinya. Kini ia bisa tenang berjalan karena beling tak lagi menjadi ancaman.

Membersihkan pantai memang jalan keluar untuk berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat pulau. Tak banyak masyarakat yang melakukan hal ini, meski kini beberapa masyarakat pun terlihat membersihkan pantai depan rumahnya. Tidak mengapa, ini adalah awal.

Pulau Maratua terletak di kabupaten Berau, provinsi Kalimantan Timur. Pulau ini merupakan pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina dan Malaysia. Selain merupakan pulau terluar, pulau Maratua juga adalah salah satu dari 31 pulau terluar berpenghuni dalam kawasan Negara Indonesia. Pulau berupa atol yang tidak sempurna dan berbentuk bumerang ini sudah diakui oleh masyarakat dunia dengan keindahan pemandangan yang terhampar di berbagai sudutnya.

Indonesia sendiri patut berbangga bahwa pulau Maratua dinobatkan sebagai salah satu kawasan dengan Terumbu Karang paling beragam yang masuk dalam lokasi segitiga karang dunia (Coral Triangle). Tidak salah memang, karena pulau ini memiliki tutupan Terumbu Karang yang rapat dan kaya. Belum lagi berjenis-jenis ikan dan Penyu yang kerap disambangi para penyelam dan penikmat laut lainnya.

Namun, seperti layaknya pulau kecil lain, pulau Maratua pun bermasalah dengan pengelolaan sampah. Luangkanlah waktu anda setiap sore di pinggir pantai kampung dan anda akan melihat sebagian besar masyarakat dengan tempat sampah beroda, sangat ringan untuk membuang sampah mereka di pantai. Harapan mereka nantinya sampah ini akan dibawa menyingkir dari pulau mereka ke laut lepas. Tentu hal itu tak pernah terjadi, karena sampah itu ujung-ujungnya akan ditemukan lagi di sepanjang garis pantai, hanya saja penyebarannya lebih luas.

“Diberi pengertian bagaimana pun, masyarakat tetap membuang sampah ke laut. Belum ada lagi jalan keluar yang kami miliki untuk mengelola sampah,” tutur Naspin, ketua RT III Kampung Bohe Bukut, Pulau Maratua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun