Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Masyarakat Sipil Indonesia, Renta Sebelum Tua

20 September 2019   15:12 Diperbarui: 21 September 2019   10:40 1625
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Organisasi keagamaan, lembaga penelitian, kelompok kerja dan pemikir juga bertumbuh. Angka-angka ini merupakan lompatan karena sebelum 1998 hanya terdapat satu organisasi buruh dan satu organisasi petani, dan mereka dalam kontrol pemerintah.

Posisi posisi strategis yang pada awalnya dianggap sebagai kesempatan dan harapan akhirnya terganjal persoalan gagap peran, lemah akuntabilitas dan lemah kapasitas. Upaya upaya untuk memperbaiki sudah dilakukan, namun kelemahan OMS dinilai terlalu banyak. 

Studi SMERU (2017) merangkum kelemahan kelemahan kritis OMS. Orientasi OMS terlalu pada kerja perkotaan di Jakarta, Jawa dan kota-kota besar adalah satu isu. 

Persoalan lain adalah sifat elitisnya sehingga dewan eksekutif dan pengawas masih diduduki pendirinya. Banyak massa mengambang. OMS tidak jelas kontribusinya pada proses demokratisasi dan politik. 

Mereka bekerja secara sektoral tapi memiliki kepasitas generalis tanpa spesialisasi. Reputasi Masyarakat sipil anjlog karenanya.

Masyarakat Sipil dan Kemenangan Politik Identitas

Dalam konteks Indonesia yang merupakan negara Islam terbesar di dunia, persoalan menjadi lebih kompleks.

Politik identitas 'sukses' digunakan untuk merebut begitu banyak keputusan politis di negeri ini. Sebut saja Pilkada Jakarta, di mana Ahok kehilangan begitu banyak dukungan karena isu 'penistaan agama'. Ia bahkan harus berhadapan dengan hukum dan menjalani masa berat di penjara.

Saya dibagi beberapa artikel oleh 'adik' yang hampir setiap hari menjadi teman mengobrol, Dati Fatimah. Kami jarang bertemu, tetapi seperti ada tautan batin yang tidak bisa dijelaskan. 

Ia membagi tulisan Made Suprijatna "Radikal dan Taliban" yang mengingatkan kembali bahwa taktik dengan menggunakan politik identitas sukses dipakai dalam Pemilu, khususnya Pilpres 2019. Ini dik dati lakukan setelah kami mendiskusikan tulisan saya di Kompasiana beberapa hari terakhir ini. 

Mahasiswa demo pro revisi UU KPK. Jaket tanpa simbol. (Foto Tribun)
Mahasiswa demo pro revisi UU KPK. Jaket tanpa simbol. (Foto Tribun)
Kampanye pihak Jokowi membawa sentimen bahwa Indonesia akan dikuasai kaum Islam radikal, bila tidak memilih Jokowi. Apalagi banyak peristiwa SARA di mana-mana. Salib di pekuburan Katolik digergaji di Yogya. Ucapan rasis muncul di media sosial. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun